
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆΒ΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
Baila dan Terry agak kesal dengan jawaban Kai namun mereka juga tau kalau ada alasan dibalik semua itu dengan ucapan Kai saat ini.
"Bagaimana dengan Pangeran? Apa saya pernah melakukan kesalahan?" tanya Noel.
Sepertinya Noel berniat untuk menyudutkan Diego dan membuat Diego semakin dibenci oleh Kuil suci dan Kaisar.
"Saya ragu dengan firman tersebut, jelas-jelas Kaisar pertama tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun." jawab Terry dengan lantang.
"Tapi kita tidak tau apa saja yang beliau lakukan dibelakang kita kan?" ucap Pendeta Agung sambil tersenyum sinis.
"Tuan Putri pasti setuju, Dewa tidak pernah salah salah. Tuan Putri berada disini juga berkat Dewa."
Haa... Jeanelle tidak habis pikir dengan Saintess gadungan ini, mungkin juga ia Saintess asli. Tapi ia sangat menyebalkan.
Jeanelle tersenyum mengejek. "Entahlah, sayangnya saya tidak percaya pada Dewa." katanya angkuh yang sontak membuat seluruh orang yang berada disana terkejut.
"TUAN PUTRI! BERANINYA KAU BERSIKAP LANCANG DIHADAPAN KAISAR!" teriak Elizabeth kesal, ia bahkan secara spontan bangkit dari duduknya dan menunjuk Jeanelle.
'Duh, aku tidak suka kedamaian jadi aku suka melihat keributan ini.' Jeanelle terkikik geli. Puas rasanya melihat orang-orang menyebalkan marah-marah seperti orang gila.
"Bagaimana anda bisa berkata seperti itu Putri?!" kata Pendeta Agung.
"Apa anda sedang melakukan penistaan? Anda sungguh keterlaluan!" kata Noel.
Jeanelle terkikik geli. "Berisik, sangat disayangkan aku datang kesini hanya untuk mendengarkan omong kosong."
'Jeanelle ku mohon hentikan.' Batin Kai merasa takut.
"Tuan Putri! Kau sudah melewati batas." suara dingin dan tajam terdengar ditelinga Jeanelle. Jeanelle agak takut namun ia harus memberanikan diri.
Atmosfer disini benar-benar membuat Jeanelle gemetar, namun Jeanelle tidak menunduk. Ia menegakkan kepalanya dengan sombong dan menantang. Ia mati-matian mengontrol suaranya agar tidak gemetar.
"Entahlah Baginda. Saya juga tidak tau siapa yang melewati batas, saya pikir tidak ada yang melewati batas."
Jelas-jelas Evan sendiri yang melewati batas pertama kali. Harusnya ia bersyukur karena selama dua tahun ini Jeanelle diam, tapi dia malah memerintah para Kesatria untuk membunuh orang-orang yang pernah berhubungan dengan Ervin.
Walaupun tidak dijelaskan secara rinci Jeanelle tau dari Rena tadi pagi, Jeanelle bukanlah putri kandung Evan melainkan Putri kandung Ervin.
Anika yang merupakan kekasih Ervin sejak lama tiba-tiba saja diculik dan di tiduri oleh Evan. Saat itu Evan memang berkali-kali meniduri Anika, namun Evan tidak pernah tau kalau saat itu Anika sedang mengandung Jeanelle.
Ervin yang mengetahui Anika mengandung anaknya akhirnya memilih untuk bermain aman agar Evan tidak melakukan hal gila, kekuatan sihir Ervin lebih rendah daripada sihir Evan. Ditambah Kuil Suci berpihak pada Evan.
Selama bertahun-tahun Ervin memimpin Kekaisaran tanpa berhubungan dengan Kuil Suci yang merupakan pusat kedua Kekaisaran, hingga akhirnya Evan memberontak dan membunuh Ervin.
Jeanelle memang merasa kesal saat Rena menceritakannya sambil menangis, namun Jeanelle tidak merasa sedih karena Jeanelle benar-benar tidak begitu ingat dengan mereka. Tapi Jeanelle tau kalau Rena pasti akan terbunuh karena dulu ia pernah berhubungan dengan Ervin.
Rena adalah perantara Ervin dengan wanita dan anak yang dicintainya. Jeanelle menghela nafas kesal, kisahnya benar-benar berantakan.
Jeanelle dan Evan bertatapan dengan tajam, sebentar lagi Evan pasti berencana untuk menghancurkan Jeanelle. Lalu jika Evan tau jika Jeanelle adalah putri kandung Ervin maka Evan akan merencanakan sesuatu yang keji dan setelah itu ia akan merasa kalau satu dua pulau telah terlampaui.
"Kalian boleh kembali." kata Evan sambil mengibaskan tangannya.
"Kalau begitu saya permisi Baginda, saya harap anda memiliki umur panjang." kata Jeanelle yang langsung pergi dari tempat itu.
"Anak sialan!" umpat Evan kesal.
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
Walaupun wajahnya terlihat datar namun otak Jeanelle tengah berisik memikirkan segala sesuatu. Ia juga harus bersiap untuk pergi ke wilayah Orch atas undangan Roni.
"Wajah anda terlihat kusut Putri." kata Louis yang tak sengaja berpas-pasan dengan Jeanelle. Jeanelle yang mendengar hal tersebut langsung mendongak dan menatap Louis dengan bingung.
"Sedang apa kau disini?" tanya Jeanelle, pasalnya Louis kan paling anti kalau harus berdekatan dengan Kaisar. Tapi sekarang ia malah ke Istana Kaisar.
"Saya dengar petinggi Kuil Suci datang kemari, saya ingin bertemu dan mengejeknya." jawab Louis santai.
Kuil Suci dan Menara Sihir memang tidak pernah bisa akur, tapi itu bukan ide yang buruk. Jeanelle menyukai ide Louis.
"Oh ya? Ide bagus."
"Kalau melihat wajah anda sekarang..." Louis agak memiringkan sedikit kepalanya seolah-olah ia sedang berpikir, "Sepertinya anda juga habis bersinggungan dengan Kuil Suci."
Jeanelle menghela nafas. "Ya, mereka agak menyebalkan jadi aku hanya sedikit melontarkan sebuah kata-kata santai."
Louis mengangguk paham, kata-kata santai Jeanelle pasti sesuatu yang sangat menyinggung Kuil Suci. Louis bisa merasakan aura kemarahan para petinggi Kuil disini.
"Louis?" sebuah suara lembut menginterupsi telinga Louis yang membuat Louis langsung menyeringai.
"Oh, Noel. Lama tidak bertemu." kata Louis dengan nada suara mengejek.
Noel terdiam, kedua matanya yang tertutup kain menatap Louis dengan tajam.
"Ada urusan apa kau disini? Kenapa orang seperti mu ada disini?" Noel menunjuk Louis dengan tidak sopan.
"Kenapa? Memangnya hanya kau yang boleh ada disini?"
Jeanelle menatap Louis dan Noel secara bergantian. 'Ada apa ini? Mereka sepertinya sudah kenal lama.'
Tontonan seru begini tidak boleh Jeanelle lewatkan.
"Kau masih menggunakan kain itu? Tidak aneh sih."
"Aku kesini untuk menyampaikan firman Dewa." ucap Noel tiba-tiba.
"Apa maksud mu? Aku kan tidak bertanya." suara Louis terdengar sangat mengejek. "Aku juga tidak peduli kau sedang apa."
Wajah putih Noel terlihat memerah, antara malu dan marah. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan kesal hingga kuku-kuku panjang Noel menembus telapak tangannya yang mulus hingga berdarah.
"Kekaisaran akan hancur oleh putri Ervin, kau tidak akan selamat jika hanya berpegang teguh pada Menara sialan itu!" seru Noel dengan suara lantang. Padahal sejak tadi suaranya terdengar lembut dan rendah tapi sekarang ia berteriak.
Siapapun memang tidak akan bisa menahan emosi jika sudah berbicara dengan Louis.
"Entahlah Noel, aku tidak percaya dengan Dewa." Louis tersenyum miring dan berbalik pergi meninggalkan Noel yang diliputi oleh emosi.
Tentu saja Jeanelle juga pergi mengikuti Louis, Jeanelle buru-buru mengikuti langkah kaki Louis yang berjalan dengan cepat. Ia ingin bertanya pada Louis tentang Noel--
"Dia saudara kembar saya." kata Louis tiba-tiba yang membuat Jeanelle terkejut.
"Apa?!-- tidak maksud ku, aku bahkan belum bertanya."
"Tapi Putri ingin menanyakan itu kepada saya kan? Ekspresi anda terlihat jelas."
Jeanelle agak terkejut namun mereka memang memiliki banyak kemiripan, contohnya adalah sifat mereka yang sama-sama menyebalkan. Namun Louis sedikit lebih baik karena berpihak pada Jeanelle.
"Yang lebih penting sekarang... Anda mau melakukan apa? Saya pikir Istana bukan lagi tempat yang aman." Louis berhenti berjalan dan menatap Jeanelle dengan serius.
"Tentunya kita harus melakukan sesuatu. Istirahat selama 2 tahun sepertinya sudah lebih dari cukup." Jeanelle menyeringai, ia sudah memikirkan kemungkinan ini.
...κ§-`π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆΒ΄-κ§...