IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Salah Paham 2



...꧁-`π™·π™°π™Ώπ™Ώπšˆ πšπ™΄π™°π™³π™Έπ™½π™ΆΒ΄-κ§‚...


...β—Ό...


...β—Ό...


...β—Ό...


Jeanelle terdiam, kenapa reaksinya lebih buruk dari dugaan Jeanelle.


"Kenapa kau menyukainya?" ucap Kai tiba-tiba.


"Kenapa? Tentu saja karena dia kuat dan tampan."


Kalau kuat sudah pasti karena dia adalah pemimpin Menara sihir, kalau tampan gk tau deh. Kalau jelek maka Jeanelle akan menggunakan alasan jika cinta itu buta.


Jeanelle mendadak terdiam, bagaimana jika pemimpin Menara sihir itu adalah kakek-kakek tua? Tapi yang Jeanelle dengar dia tidak menikah. Tidak apa-apa cinta itu buta.


Sialan! Jeanelle jadi ingin menangis sekarang.


"Kenapa kau menyukainya?! Dia itu hanya penyihir gila!" ucap Baila tak kalah terkejut.


"Kenapa?" Jeanelle menatap ketiga saudaranya dengan tatapan (pura-pura) polos. "Bukankah cinta itu buta? Kita tidak akan bisa memilih bukan kepada siapa kita jatuh cinta? Kakak aku benar-benar menyukainya." Jeanelle tersenyum (pura-pura) bahagia.


Jeanelle bahkan tidak tau wajah Pemimpin Menara sihir. Bodo amat deh yang penting Jeanelle lolos dulu dari situasi ini.


"Pftt... Hahaha... Jadi begitu ya? Kau sangat menyukai ku." ucap seorang pria yang entah sejak kapan sudah berdiri didepan pintu rumah kaca.


Jeanelle menoleh kebelakang dan menatap Yuristhi yang baru datang dengan tatapan sinis. "Apa?! Kenapa aku menyukai--"


Ucapan Jeanelle terhenti ketika Louis menarik tangannya.


"Itu adalah pemimpin Menara Sihir."


Seketika Jeanelle bisa mendengar suara kaca yang retak. 'Ah, kacau sudah.'


Yuristhi berjalan mendekati Jeanelle, ia pun menarik tangan Jeanelle hingga jatuh ke pelukannya. "Jadi kau sangat menyukai ku ya? Kebetulan sekali karena aku juga menyukai mu." kata Yuristhi yang malah membuat Jeanelle menatapnya datar.


Bagaimanapun juga Jeanelle harus terus melanjutkan sandiwara ini, setelah itu Jeanelle akan menjelaskannya pada Yuristhi dan meminta maaf padanya.


"Benar." kata Jeanelle yang membuat Yuristhi tersenyum.


"Begitu? Jadi, bagian mana yang kau suka dari ku?"


Jeanelle terdiam menahan kesal. Tapi mau bagaimana lagi? Jeanelle menatap Yuristhi dengan intens.


"Bibir mu terlihat seksi, aku suka." kata Jeanelle yang kali ini dirinya berkata jujur.


Ucapan Jeanelle membuat orang-orang yang ada disana menatapnya terkejut. Kecuali Louis yang tau kalau semua ini hanyalah akting.


"Kalau begitu kau boleh menyentuh bibir ku." kata Yuristhi yang justru sengaja memancing amarah kakak-kakaknya Jeanelle.


Kai bahkan sudah mengeluarkan pedang dari sarungnya, Terry yang sudah siap merapalkan mantra dan Baila yang bersiap untuk melempar belati ditangannya.


'Tunggu dulu, kok suasananya jadi begini?' Diego sih bersyukur karena Jeanelle tidak menyukainya tapi disatu sisi Diego berasa iba karena cinta mereka sepertinya akan sulit untuk direstui, kemungkinan Diego dan Jeanelle juga akan bertunangan secara paksa. Apalagi Diego juga melihat kalau Yuristhi juga menyukai Jeanelle.


Oh, ya ampun bukankah ini seperti kisah novel yang sering Diego baca! Kisah dimana dua orang saling mencintai namun tidak mendapatkan restu karena keluarga mereka bermusuhan. Diego tidak menyangka akan melihat kisah cinta seperti novel di kehidupannya.


Diego berbalik dan menatap Jeanelle dengan tatapan yang seolah-olah berkata, 'Jangan khawatir Jeanelle, aku pasti akan membantu kisah cinta mu.'


Jeanelle melongo melihat ekspresi Diego, entah kenapa Jeanelle bisa membaca ekspresi tersebut. Tunggu dulu, kenapa kisahnya jadi begini?!


"Kalau begitu bagaimana jika lain waktu kita pergi berkencan? Sayang sekali saat ini saya hanya bisa menjenguk anda sebentar, aku sudah memberikan hadia untuk mu tapi aku menitipkannya pada Rena."


"Sepertinya kau benar-benar sibuk ya?"


"Benar, masih ada banyak hal yang harus ku selidiki."


Oh, ngomong-ngomong tentang penyelidikan. Jeanelle juga harus menyelidiki sesuatu.


"Apa tujuanmu kesini hanya untuk itu?!" sinis Kai yang membuat Yuristhi tersenyum jenaka.


"Bagaimana ya, kemarin Tuan Putri mendatangi saya dan berkata kalau beliau merindukan saya. Saya juga merindukan Putri tapi saya sangat sibuk, bagaimana ini?" kata Yuristhi dengan wajah seolah-olah dirinya sedang dilema.


Jeanelle malah menatap Yuristhi dengan tatapan horor, ingin sekali Jeanelle memukul wajah Yuristhi dan juga kapan Jeanelle bilang begitu?!


'Jeanelle merindukan Yuristhi?!' mereka semua terkejut. Diego bahkan menatap Jeanelle dan Yuristhi dengan tatapan terharu.


"Setelah penelitian ini selesai ayo kita bersenang-senang. Saya akan menyelesaikannya secepat mungkin."


"Oh, iya tentu saja. Kalau begitu anda harus pergi sekarang dan kerjakan pekerjaan anda dengan cepat." Jeanelle tiba-tiba saja menarik tangan Yuristhi dan membawanya keluar dari tempat itu. Daripada nantinya Yuristhi berbicara yang aneh-aneh dan membuat geli lebih baik jika Yuristhi cepat-cepat pergi.


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


Jeanelle menghela nafas lega ketika ia sudah keluar dari rumah kaca tersebut dan sekarang Jeanelle sedang mengantar Yuristhi untuk pergi keluar Istana.


"Maafkan aku, yang tadi itu--"


"Aku tau, itu cuma bohongan kan? Bagaimana akting ku? Bagus tidak?" Yuristhi mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum menatap Jeanelle.


Jeanelle terdiam, ia menatap Yuristhi agak terkejut namun senang. "Kau ternyata sangat peka ya, wah terimakasih karena sudah membantu ku." Jeanelle tersenyum senang, kalau begini Jeanelle tidak perlu mencari-cari alasan untuk meminta maaf pada Yuristhi.


"Tentu saja." Yuristhi berucap dengan sombong. "Lagipula ini tidak jauh berbeda dengan masa lalu." gumam Yuristhi yang terdengar samar-samar ditelinga Jeanelle.


"Kau bilang apa?"


"Aku bilang, aku sakit hati karena kau pasti juga berbohong saat memuji ku." ucap Yuristhi dengan ekspresi wajah yang seolah-olah sedang tersakiti.


Oh, apa maksudnya tentang bibirnya yang seksi? Jeanelle jujur untuk itu.


"Aku jujur saat bilang bibir mu itu seksi." kata Jeanelle yang membuat Yuristhi tersentak.


'Benar-benar mirip dengan masa lalu.' Yuristhi terdiam, ia menahan rasa sakit dihatinya.


"Kalau begitu kau bisa menciumnya." Yuristhi menunduk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Jeanelle.


Jeanelle tentu kesal saat mendengar hal itu. Anak ini sudah dipuji malah ngelunjak ya...


Jeanelle dengan kesal menyentil kening Yuristhi agak kencang membuat pria itu mengaduh sakit.


"Duh, maaf deh." kata Yuristhi yang sepertinya tidak menyesal sama sekali. "Tapi kenapa kau berbohong? Katakan saja kalau kau menyukai Diego."


Jeanelle menyerit bingung. "Apa?! Kenapa aku menyukai Diego?"


"Jadi kau benar-benar tidak suka dengan Diego? Diego kan disukai oleh banyak wanita."


Ya itu tidak salah, siapa yang tidak suka pria tampan dan romantis? Tapi itu bukan berarti Jeanelle juga menyukainya.


Jeanelle menghela nafas. "Aku tidak memiliki alasan untuk menyukainya, aku terlalu sibuk dengan urusan ku sendiri." Urusan bertahan hidup maksudnya.


Yuristhi agak terkejut namun kemudian ia tersenyum senang. "Begitu ya, itu sudah cukup untuk pengganti ciuman."


"Apa?!"


"Setelah aku selesai, kita harus jalan-jalan."


Setelah itu Yuristhi menghilang dari hadapan Jeanelle dan selama beberapa hari Jeanelle tidak melihat pria itu, Jeanelle mendapatkan kabar kalau Yuristhi pergi berkelana lagi.


"Hmm, manis." ucap Jeanelle ketika memakan coklat pemberian Yuristhi. Coklatnya benar-benar banyak, Yuristhi tidak berniat membuat Jeanelle sakit gigi kan?


"Tuan Putri, sudah siap."


Oh iya benar, sekarang Jeanelle juga harus pergi berkelana kan? Ia akan pergi ke hutan Skota.


...꧁-`π™±π™΄πšπš‚π™°π™Όπ™±πš„π™½π™ΆΒ΄-κ§‚...