IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Transaksi Dengan Kaisar Evan



...꧁-`π™·π™°π™Ώπ™Ώπšˆ πšπ™΄π™°π™³π™Έπ™½π™ΆΒ΄-κ§‚...


...β—Ό...


...β—Ό...


...β—Ό...


"Tunggu dulu Baginda! Apa Baginda yakin ingin mengirim Tuan Putri untuk pergi ke perburuan ini? Tuan Putri bahkan belum dewasa dan baru berumur 16 tahun." kata Diego dengan agak panik. Yang benar saja, masa mengirim anak kecil untuk pergi ke perburuan monster?!


Sejak kemarin Jeanelle sudah menduga hal ini, Kesatria yang dikirim untuk delegasi terlalu banyak, Pangeran dan Putra Mahkota yang biasanya melakukan perburuan monster harus menjadi perwakilan negara.


Permaisuri yang tersenyum licik. Bisa dipastikan kalau Evan sudah tau mengenai Manna sihirnya yang berlimpah. Evan mengirim Jeanelle untuk pergi melakukan perburuan monster karena ia tau saat ini Monster sedang meningkat.


Kalau Tuan Putri tewas dalam melakukan perburuan Monster bersama Duke muda maka orang-orang akan menyalahkan Diego karena tidak bisa menjaga Tuan Putri dan ketika itu terjadi Kaisar bisa dengan mudah menguasai wilayah barat.


Ini seperti sekali mendayung dua sampai tiga pulau terlampaui. Alasan Jeanelle sudah memperkirakan hal ini adalah karena alur cerita komik sudah jauh berbeda dari alur aslinya, jadi sudah pasti banyak hal-hal yang tidak terduga dan kalau melihat sifat Kaisar sudah pasti ia akan menyingkirkan orang-orang yang mampu menghambatnya.


'Padahal selama ini aku hidup seperti tikus mati dan tidak pernah menampilkan sihir ku.' Jeanelle jadi kesal sendiri. Tapi kali ini Jeanelle akan bertaruh dan memanfaatkan kesempatan ini.


"Lalu apa aku harus mengirim Putri Mahkota untuk membantu mu?" Kaisar tersenyum licik.


Sepertinya Kaisar sudah tau apa kelemahan Duke muda. Pertemuan pertama Duke muda dan Putri Mahkota adalah saat pesta sosial Minggu lalu dan Jeanelle melihat sendiri pertemuan bersejarah itu.


'Senangnya bisa melihat adegan komik couple favorit secara langsung.' itulah yang Jeanelle pikirkan saat itu.


"Ah, itu..." Diego melirik kearah Jeanelle. Ia pasti merasa bimbang.


"Saya akan menerimanya Baginda." kata Jeanelle dengan lantang.


"Apa?! Putri!"


"Hoho pilihan bagus." ujar Evan sembari tersenyum licik.


"Tapi ini tidak gratis Baginda."


"Apa?! Untuk Kekaisaran saja kau sangat pelit!" sentak Elizabeth yang terlihat marah.


Elizabeth menyeritkan keningnya ia benar-benar tidak suka dengan Jeanelle dan reaksi Elizabeth sungguh membuat Jeanelle terhibur. Kalau melihat tingkah Elizabeth, maka Elizabeth lah yang mengusul kan ide untuk mengirim Jeanelle ke para monster itu.


"Saya, Duke muda dan Kesatria mengorbankan nyawa kami untuk Kekaisaran, lalu saya hanya meminta Baginda mengeluarkan sedikit hartanya untuk kami. Permaisuri yang terhormat, ribuan emas, berlian dan kristal sekalipun tidak bisa membeli nyawa kami. Apa sekarang Permaisuri masih bisa berkata kalau saya pelit dan perhitungan untuk Kekaisaran? Bagaimana menurut Baginda? Apa semua harta Kekaisaran bisa membeli nyawa seorang putri yang sangat mirip dengan Baginda ini?"


Evan terlihat berpikir dan kemudian menghela nafas. "Tidak, apa yang Tuan Putri katakan memang benar. Kalau begitu aku akan mendengarkan transaksi mu."


'Bagus, Evan yang menjunjung tinggi harga diri tidak mungkin tidak menyetujui hal ini.'


Jeanelle tersenyum dan kemudian ia kembali berbicara. "Saya ingin menghargai monster yang akan saya bunuh."


"Menghargai monster?" Evan tersenyum miring. "Akan kudengarkan."


"Untuk satu monster berukuran kecil adalah 50 emas, satu monster berukuran sedang seharga 100 emas, monster berukuran besar seharga 200 emas dan jika saya membunuh monster yang bisa terbang atau monster yang unik maka harganya adalah 300 emas. Seluruh bangkai dan setengah dari inti monster akan menjadi milik saya." jelas Jeanelle.


Alasan Jeanelle tidak mengambil seluruh inti monster adalah karena Evan pasti tidak akan menyetujuinya dan mungkin malah akan mengirim Baila dan ia akan merencanakan cara lain untuk membunuh Jeanelle.


"Bukankah itu namanya pemerasan?!" sentak Elizabeth marah.


"Oh benarkah? Kenapa Permaisuri berkata seperti itu? Saya yakin kalau Kekaisaran ini tidak cukup miskin untuk membayar semua itu atau mungkin Kekaisaran sedang mengalami krisis ekonomi?"


"Apa?! Kau--"


"Aku setuju!" Evan memotong ucapan Elizabeth. "Tapi kenapa kau membutuhkan bangkai monster?"


"Hmm? Bukankah harus ada bukti? Saya akan bermain adil dengan bangkai monster itu, Baginda bisa menghitung bangkai monster itu sendiri dan memberikan jumlah emas yang sesuai dengan banyaknya monster yang kami dapatkan."


"Hoo... Baiklah. Kau memang anak baik, berikan surat perjanjian itu dan aku akan memberikan tandanya." lagi-lagi Kaisar menyunggingkan senyum picik.


Jeanelle memberi isyarat untuk Hyun mendekatinya. Hyun menurut ia memberikan segulung kertas untuk Jeanelle dan Jeanelle memberikannya pada Evan. Rencana Jeanelle berhasil, banyak saksi mata disini dan Jeanelle mendapatkan apa yang ia inginkan.


'Maaf saja tapi aku tidak berniat untuk mati dengan muda.'


...꧁-`π™±π™΄πšπš‚π™°π™Όπ™±πš„π™½π™ΆΒ΄-κ§‚...