IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Kemunculan Koroido Hole 2



...꧁-`π™·π™°π™Ώπ™Ώπšˆ πšπ™΄π™°π™³π™Έπ™½π™ΆΒ΄-κ§‚...


...β—Ό...


...β—Ό...


...β—Ό...


Mereka kembali berperang, namun kali ini seluruh Monster mendadak keluar dari persembunyiannya walaupun sekarang adalah siang hari. Mereka semua terlihat mengamuk dan bersiap menghancurkan apapun yang mereka lihat.


Para Kesatria terlihat kewalahan, Jeanelle bisa melihat dengan jelas betapa tidak terlatih nya para Kesatria itu. Ingin sekali mengucapkan sumpah serapah untuk Evan, tapi sekarang bukan waktu yang tepat, Jeanelle harus fokus memanah dan membunuh para monster yang bersembunyi.


Pasukan memanah juga terus menerus melontarkan anak panah mereka kearah monster-monster yang bisa terbang itu. Jumlahnya semakin banyak dan Hyun terpaksa harus memanggil spirit nya kembali.


"Ini aneh, kenapa monsternya bertambah banyak? Bagaimana dengan Suno? Dia kan sendiri!" seru Jeremy agak berteriak. Disaat genting seperti ini Jeremy masih mengkhawatirkan Suno.


"Ada sesuatu yang aneh muncul, Suno dan yang lainnya menuju kesini." jelas Jeanelle.


"Sesuatu yang aneh? Apa maksud anda Putri?"


"Sesuatu itu berbentuk seperti sebuah lubang besar yang semakin lama semakin membesar." jelas Jeanelle yang seketika membuat mereka tersentak.


"Itu Koroido hole." celetuk Hyun agak berteriak dari atas pohon.


'*Apa itu Koroido Hole? Aku yakin tidak ada sesuatu yang seperti itu dalam komik*...' Jeanelle jadi bertanya-tanya, seberapa jauh alur cerita ini berubah sampai-sampai hal yang sangat membahayakan terjadi.



Koroido Hole adalah sebuah lubang yang menghisap apapun yang berada didekatnya, ada yang bilang jika terhisap kedalam lubang itu seseorang akan hancur berkeping-keping dan mati.


Ada juga yang bilang jika lubang itu akan membawa seseorang ketempat antah berantah dan tidak akan bisa ditemukan lagi untuk selamanya. Banyak para penyihir, Kesatria bahkan sampai Pendeta sekali pun memasuki lubang ini dan tidak bisa kembali lagi.


Jeanelle merasa agak heran dengan dirinya sendiri, ia yakin kalau hal ini tidak ada dalam cerita komiknya namun entah kenapa Jeanelle mengetahui banyak hal tentang dunia ini seolah-olah Jeanelle memang pernah tinggal di dunia ini.


Apa mungkin karena ingatan Jeanelle yang asli yang tiba-tiba memasuki otaknya? Atau mungkin karena hal lain?


Sing...


"Ukh..." Jeanelle meringis sakit. Kenapa disaat-saat seperti ini sakit kepala malah muncul? Apa karena Jeanelle terlalu banyak berpikir?


Atensi Jeanelle teralihkan saat melihat sosok Kesatria yang mulutnya terus bergumam sesuatu. 'Apa-apaan itu? Apa yang dia laku-- Ah! Jadi begitu.'


Akhirnya Jeanelle tau apa penyebab monster ini mengamuk dan apa penyebab sesuatu yang bernama Koroido Hole itu muncul. Jeanelle menggeram marah tatapan matanya menajam.


'Tidak hanya membunuh ku, kau juga ingin melenyapkan orang-orang ku ya?! Dasar b*jing*n.'


Jeanelle benar-benar marah sekarang, Jeanelle tidak mungkin mengampuni orang-orang yang berani mengusik teman-temannya.


Seolah-olah merasakan sesuatu Hyun dan Jeremy menoleh kearah Jeanelle yang terlihat marah.


"Jeje kau kenapa?" tanya Jeremy agak berbisik.


'Dia terlihat marah.' batin Hyun merasa ada yang aneh. Namun Hyun seketika tersentak ketika lubang itu muncul dibelakang Jeremy.


"JEREMY!" teriakkan itu membuat Jeremy menoleh kebelakang.


Grep... Jeanelle menarik tangan Jeremy dan menariknya kebelakang, ia mendorong Jeremy untuk menjauh dari Koroido Hole itu.


"Jeremy!"


Seorang gadis cantik berjubah coklat itu dengan susah payah membopong tubuh Jeremy dan membawanya menjauh dari hutan sesegera mungkin.


"Jangan begini Putri-- uhuk..."


"Apa maksud mu jangan begini? Harusnya aku yang bilang jangan seperti ini! Kenapa kalian semua terus saja melakukan hal-hal yang berbahaya untuk ku?! Aku tidak membutuhkannya!" sentak gadis itu marah. Ia tidak tau harus berekspresi seperti apa sekarang, ia marah sangat marah dan juga ia sangat sedih.


Kenapa dirinya terus saja kehilangan orang-orang yang ada disekitarnya, kenapa orang-orang yang berharga untuknya selalu saja direnggut. Apa salahnya?


"Sudahlah, tinggalkan saya dan Putri harus lari dari tempat ini."


"Apa maksudnya meninggalkan mu?! Kau menyuruh ku untuk meninggalkan teman ku sendiri?! Kau gila ya! Jangan khawatir, Regina pasti bisa menyembuhkan mu dengan potion miliknya."


Jeremy tidak menjawab, ia hanya tertawa. Entah kenapa Jeremy selalu ingin melindungi Tuan Putri yang berhati lembut ini.


Jeanelle dan Jeremy mendadak terdiam, langkah mereka terhenti ketika melihat sosok pria bersurai merah yang berdiri tak jauh dari mereka. Pria berwajah dingin itu menatap mereka dengan tatapan tajam.


Kemudian ia mengulurkan tangannya, sebuah cahaya tiba-tiba saja melesat dan menghunus jantung Jeremy.


"Uhuk!" Jeremy membulatkan kedua matanya tubuhnya terasa begitu sakit, perlahan-lahan kedua matanya mulai kehilangan cahayanya, ia bergumam pelan lalu tersenyum dan akhirnya cahaya itu benar-benar menghilang. Jeremy tewas.


"Kembali sekarang juga Jeanelle!" ucap pria itu dengan nada bicara yang sangat dingin.


"Pangeran? Kenapa anda--"


"Tuan Putri!"


Jeanelle tersentak dan kemudian ia menoleh kebelakang. Oh sepertinya ia akan masuk kedalam Koroido Hole itu. Jeanelle kemudian kembali menatap teman-temannya.


"Aku akan segera kembali." Jeanelle tersenyum dan seketika ia menghilang bersamaan dengan Koroido Hole yang juga ikut menghilang.


Mereka semua mendadak terdiam seketika mereka semua menjadi lemas. "JEANELLE!" jerit Suno.


Krak... Crash... Disaat itu juga semua permata pemberian Jeanelle hancur berkeping-keping. Sosok yang sama dengan sosok yang dilihat Suno muncul dihadapan mereka dan mereka semua menggeram marah.


Semua monster bermunculan dan menyerang mereka, bukan para Kesatria atau yang lainya yang melawan monster itu, melainkan sosok wanita menyeramkan yang menyerang semua monster dengan membabi buta seolah-olah mereka sedang marah.


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


Cece tiba-tiba saja menoleh kebelakang, ia kemudian berlari kearah jendela dan terus menggonggong. Saat ini mereka berada diruang tengah Mansion Dandelion dan sedang minum teh bersama, untuk sementara Louis tinggal di Mansion ini.


"Cece? Ada apa? Diluar banyak monster jadi sebaiknya kita disini saja." ucap Rena sambil menenangkan Ceberus itu. Tapi Ceberus itu tidak menggubris ucapan Rena dan terus menggonggong.


Prang... Sebuah cangkir teh mendadak jatuh dan pecah. Rena menoleh kearah cangkir itu dan membersihkannya.


"Rena? Kau kenapa?" tanya Rose dengan heran ketika melihat Rena yang tiba-tiba terdiam


"Nyonya, ini cangkir kesayangan Tuan Putri." kata Rena dengan sedih, ia pun kemudian menangis. Firasatnya sungguh buruk, Rose terdiam begitu juga dengan Louis yang berada disana.


Louis sendiri tidak bisa merasakan Manna milik Jeanelle yang biasanya selalu bisa ia rasakan. Jeanelle seolah-olah menghilang ditelan bumi, eksistensinya tidak ada.


Louis menyeritkan keningnya, ini tidak mungkin terjadi. Apa ada sesuatu yang tidak beres disana?


"Tuan Putri, kalau anda mati saya akan benar-benar mengutuk anda." gumam Louis sembari menatap Cece yang kini tengah melolong sedih.


...꧁-`π™±π™΄πšπš‚π™°π™Όπ™±πš„π™½π™ΆΒ΄-κ§‚...