
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆΒ΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
Regina merapikan tokonya dengan santai, hari sudah malam dan waktunya untuk tutup toko. Setelah Hyun dan Jeremy memutuskan untuk pergi ke Istana sebagai Kesatria, Regina memutuskan untuk membuka toko bunga dan toko teh di pusat kota.
Tentu saja Regina tidak menggunakan uangnya sendiri, setengah uang yang digunakan untuk membuka toko ini adalah uang Jeanelle, bisa dibilang uang Jeanelle lebih banyak dipakai dalam membuka toko ini dibandingkan uang Regina. Ini bisnis mereka berdua.
Ting... Seseorang memasuki toko Regina, bel yang terpasang diatas pintu akan selalu berbunyi jika ada seseorang yang membukanya.
Regina yang mendengar hal tersebut tanpa menoleh pun berkata. "Maaf tapi tokonya sudah tutup."
"Benarkah? Sayang sekali." ucap sosok berjubah coklat itu sambil membuka tudungnya. Mendengar suara yang begitu familiar ditelinganya, Regina pun menoleh.
"Je-- maksud ku Tuan Putri?!" Regina terlihat terkejut namun disatu sisi ia juga terlihat sangat senang.
Jeanelle tertawa kecil dan ia pun mendudukan diri di kursi ujung ruangan yang dekat dengan jendela. "Bukankah aku sudah bilang untuk memanggil ku seperti biasa jika tidak ada orang lain?"
"Aku juga inginnya begitu tapi aku jadi merasa sungkan setelah mengetahui identitas mu." Regina agak mengeluh. "Tunggu sebentar, aku akan membuatkan teh untuk mu."
Regina pergi ke meja bar dan mulai meracik minumannya, tak lama kemudian Regina kembali dengan membawa teko, dua cangkir teh dan beberapa cemilan manis.
"Ku dengar kau sangat sibuk, jadi aku menyiapkan teh lavender untuk sedikit menenangkan mu."
"Terimakasih dan aku benar-benar sangat sibuk, Putra Mahkota dan Putri Mahkota sepakat untuk memberikan otoritas ku sebagai Tuan Putri, jadi masih banyak yang harus ku urus."
Toko ini memiliki dua lantai dengan tangga yang terpisah, tangganya ada diluar toko. Lantai satu untuk toko dan lantai dua untuk tempat tinggal, tentu saja bukan hanya Regina yang tinggal disini tapi juga Hyun dan Jeremy.
Namun karena di Istana ada asrama Kesatria alhasil mereka berdua jarang pulang dan memilih untuk tinggal di asrama.
Tokonya sangat indah, di luar toko terdapat banyak bunga yang menyegarkan mata dan didalam ada bar kecil dan beberapa kursi serta hiasan-hiasan lainnya yang terkesan sederhana namun indah. Berbagai macam teh dan cemilan manis dijual disini. Toko ini baru di buka 1 Minggu yang lalu jadi wajar jika belum begitu ramai.
"Kau juga pasti sibuk karena mengurus toko sendiri."
"Karena belum terlalu ramai jadi tidak begitu sibuk, orang-orang mengira jika ini hanya toko bunga jadi lebih banyak orang-orang yang membeli bunga." Regina terkekeh kecil. Itu wajar sih.
Mereka berbincang-bincang kecil sembari tertawa, walaupun usia mereka masih muda tapi mereka memiliki beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Di dunia ini wanita yang bukan Bangsawan tidak akan diberikan pendidikan karena harga pendidikan yang mahal, bahkan wanita bangsawan pun jarang ada yang diberikan pendidikan.
"Aku cukup heran karena kau menolak untuk belajar di Istana sihir, padahal kau seorang Alchemist yang cukup hebat."
"Kau terlalu memuji." Regina tertawa kecil. "Tapi aku juga tidak begitu mengerti kenapa aku menolaknya, ini semacam insting ku untuk menolak. Mungkin kalau diberikan pilihan ingin bekerja sebagai penyihir Kekaisaran atau sebagai orang di Menara Penyihir aku mungkin akan memilih untuk bekerja sebagai orang di Menara Penyihir." jelas Regina panjang lebar yang membuat Jeanelle mengangguk paham.
Penyihir Kekaisaran dan Menara Penyihir jelas berbeda karena Menara Sihir itu seperti sebuah Kerajaan dalam Kekaisaran, ia selalu bermusuhan dengan Kekaisaran.
"Aku mengerti."
"Aku juga berterimakasih karena kau mau memberikan dana untuk ku."
Sebenarnya alasan Jeanelle memberikan dana untuk membuka toko kepada Regina adalah agar Regina tidak tinggal di hutan lagi, lalu setelah Jeanelle ingat hutan itu juga adalah tempat pertama yang diserang oleh para monster nanti.
Setidaknya Jeanelle bisa melindungi Regina dari serangan monster nanti dan mereka juga jadi semakin dekat karena jarak antara Istana dan toko ini tidak begitu jauh.
"Ngomong-ngomong Jeje..."
"Hm?"
"Kalau kau ingin melarikan diri atau beristirahat sejenak datang saja kepada ku, aku akan membawa mu pergi ketempat yang sangat tenang." Regina tersenyum tipis yang entah kenapa membuat hati Jeanelle begitu tenang.
"Tentu Regina, kalian kan tempat ku beristirahat." ucapnya pelan namun masih bisa terdengar oleh Regina.
Entah kenapa Regina merasakan firasat yang tidak begitu bagus.
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
Di ruangan Kaisar terdapat seorang pria tua yang memiliki surai sebahu yang sedang duduk bersandar di sofa, disampingnya terdapat seorang wanita cantik yang tak lain adalah seorang Permaisuri.
"Jadi begitu, selain mirip dengan ku Manna sihirnya juga melimpah melebihi ku?" kata Evan sembari menatap seorang pria berjubah putih bercorak emas.
Pria tua yang sepertinya seumuran dengan Evan pun mengangguk. "Benar Baginda. Ini mungkin akan menjadi ancaman untuk Baginda."
Evan terlihat sangat tidak senang, ia tidak ingin ada orang yang menjadi ancaman untuk dirinya. "Ancaman? Bagaimana bisa bocah ingusan yang tidak bisa mengendalikan kekuatannya itu menjadi ancaman untuk ku, apa kau meremehkan ku Pendeta agung?"
"Mana mungkin saya berani meremehkan Baginda yang agung ini, anda adalah semesta Kekaisaran alangkah baiknya jika Baginda menyingkirkan semua ancaman yang ada."
"Begitukah? Bagaimana menurut Permaisuri?" Evan meraih tangan Elizabeth dan menciumnya.
"Jika menyingkirkan ancaman adalah hal yang baik untuk Baginda maka kita harus menyingkirkannya bukan?" Elizabeth tersenyum sinis dengan kepala yang bersandar di pundak Evan.
"Begitukah? Kalau begitu apa kalian punya ide? Sejujurnya aku masih ingin melihat perkembangan anak itu, tapi kalau dia menjadi ancaman untuk ku maka harus di singkirkan secepatnya bukan?"
"Saya punya saran Baginda." kata Elizabeth sembari tersenyum manis, Elizabeth pun memberitahu rencananya pada Evan dan Evan terlihat puas dengan rencana Elizabeth.
"Kalau begitu mari kita lakukan dan Pendeta, bagaimana dengan penelitiannya? Aku ingin penelitian itu selesai secepat mungkin."
"Sedang dalam proses Baginda, saya akan berusaha menyelesaikannya." ucap Pendeta itu sembari membungkuk hormat.
Dengan begini semua rencana akan berjalan dengan lancar bukan?
...κ§-`Β΄π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆ-κ§...