
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆΒ΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
Jeanelle mendudukkan dirinya di kursi ruang kerja, tangannya bergerak menulis sesuatu disebuah kertas.
Kalau dirinya memang mati dalam perburuan ini maka Jeanelle akan menggentayangi Evan sampai dia menjadi gila dan memutuskan untuk bunuh diri.
Lalu seluruh kekayaan yang Jeanelle miliki akan dibagikan. 20% untuk Regina, 20% untuk Hyun, 20% untuk Jeremy, 20% Zin dan Zen, 20% lagi untuk Rena. Jeanelle akan meninggalkan sebuah pulau untuk Rena, kepemilikan toko akan berubah menjadi atas nama Regina.
Artefak sihir yang pernah ia curi --ah, ralat-- yang pernah ia ambil dari Louis akan menjadi milik Terry, Batu Manna yang ia punya juga akan menjadi milik Baila dan Kai, dan setelah itu...
"Wah kau menulis surat wasiat ya." ucap Jeremy yang tiba-tiba sudah berdiri disamping Jeanelle.
"Hey lihat ada nama ku disana." kata Hyun.
"Ada nama ku juga dan nama nyonya pelayan."
"Kalian ngapain sih?! Memangnya boleh mengintip isi surat Tuan kalian?!" kesal Jeanelle yang langsung memasukan surat itu kedalam laci meja kerjanya. Ia sudah selesai menulis surat wasiat dan memberikan segelnya.
"Lagian kenapa tiba-tiba kau meninggalkan surat wasiat sih? Harusnya surat wasiat itu diberikan pada anak-anak mu nanti." Jeremy mendengus heran.
"Padahal tadi juga kau bersikap keren." sambung Hyun.
Walaupun tadi Jeanelle memang bersikap keren tapi jantung Jeanelle hampir saja pindah ke ginjal loh, aura milik Kaisar memang tidak main-main ditambah dengan Diego yang terus menatapnya.
"Sialan kau! dasar Kaisar xxxxx Evan xxxx dia benar xxxxx" umpat Jeanelle kesal.
"Memangnya kau boleh berbicara begitu pada Kaisar?" gumam Jeremy heran.
"Memangnya aku peduli?! Dia bahkan mau membunuh ku hanya karena mewaspadai ku, aku bahkan selama ini sengaja hidup sebagai tikus mati tapi Evan si Kaisar baj*ng*n itu benar-benar." geram Jeanelle, kini kekesalan Jeanelle sudah mencapai batasnya. Kalau Jeanelle adalah gunung berapi kepalanya pasti sudah meledak sekarang.
Walaupun begitu Jeanelle harus tetap menyusun rencana, Jeanelle akan berusaha mengingat apa yang terjadi menurut alur komik, lalu Jeanelle akan memadukannya dengan perkiraan yang akan terjadi. Jeanelle harus bisa memposisikan dirinya sebagai monster dan apa yang akan dirinya lakukan jika ia menjadi Monster.
Ia juga harus memikirkan wilayah apa saja yang dekat dengan lokasi tersebut, keamanan penduduk adalah prioritas nomor satu. Karena ada kemungkinan jika monster akan menyerang ibu kota maka Jeanelle harus memperketat penjagaan disekitar ibu kota.
Beberapa orang pernah melihat monster yang bisa terbang, sebelumnya tidak ada monster tersebut dan dalam cerita monster itu memang ada. Maka Jeanelle akan memikirkan cara untuk membunuhnya.
"Hyun, kirimkan surat ini kepada Count Elmanuel dan Marquez Green." kata Jeanelle sembari menuliskan sebuah surat untuk kedua bangsawan itu.
"Lalu apa yang akan anda lakukan sekarang?" tanya Jeremy.
"Aku akan menemui Baila besok dan sekarang aku akan pergi menemui Regina." Jeanelle bangkit dari duduknya, ia mengambil jubah coklat kesayangannya dan pergi dari ruangan itu.
Besok sudah pasti akan ada rapat dan malam harinya Jeanelle harus pergi untuk berburu monster, tidak akan ada waktu lagi. Ia terlalu sibuk sekarang.
'Terkutuklah kau wahai Kaisar Evan.'
"Apa?! Kalau begitu kami juga akan ikut bertarung!" kata Zen yang langsung di setujui oleh Regina dan Zin.
"Tidak!" tolak Jeanelle dengan tegas. Jeanelle menyandarkan tubuhnya disandaran kursi.
Begitu sampai di rumah Regina Jeanelle langsung menceritakan segala hal yang terjadi begitu juga tentang perburuan yang akan dilakukan esok hari. Tentu saja Jeanelle juga sudah memperkirakan jika respon mereka seperti ini.
"Tapi kami tidak bisa membiarkan Tuan sendiri." sahut Zin.
"Dia tidak sendiri, kan ada aku dan Hyun." ucap Jeremy sembari menyuapkan kukis kedalam mulutnya.
"Benar kau tidak boleh kesana sendirian." kata Regina.
"Kalian tidak mendengarkan ku ya?"
"Kalian tenanglah, pertama-tama aku tidak sendiri. Ada Hyun dan Jeremy, lalu dibandingkan kalian ikut dengan ku dan hanya menjadi beban sebaiknya kalian ikuti arahan ku."
"Arahan?"
"Benar, ada kemungkinan kalau monster akan menyerbu ibu kota, walaupun kemungkinan itu sangat kecil tapi aku ingin kalian bersiap siaga. Lindungi tempat ini." jelas Jeanelle. "Lalu ini untuk Zin dan Zen, Kalian mungkin akan membutuhkan nya." Jeanelle memberikan sebuah panah sihir untuk mereka, jika busurnya ditarik maka akan ada anak panah yang muncul disana.
Zin dan Zen menatap panah pemberian Jeanelle dengan tatapan memelas, mereka sangat ingin membantu Tuannya.
"Tapi, apa benar-benar tidak ada yang bisa kami lakukan untuk Tuan?" tanya Zin.
"Kau ingin melakukan sesuatu?" Zin dan Zen mengangguk.
"Kalian bisa jadi mata dan telinga ku." Jeanelle tersenyum.
Bangsa Elf, selain sangat pintar mereka juga memiliki dua kemampuan. Memanah dan sihir Druid. Sihir yang hanya dibisa dikuasai oleh bangsa Elf.
Sihir yang memanfaatkan alam dan dapat berkomunikasi dengan mereka. Jika bangsa Elf bisa menguasai sihir Druid kemungkinan mereka bisa berkomunikasi dengan tumbuhan, binatang bahkan dengan para roh. Karena itu Jeanelle memanfaatkan mereka untuk menjadi seorang informan.
"Jeje, apa sekarang kau mencoba untuk membuka sebuah Guild? " tanya Jeremy sambil menatap Jeanelle penuh rasa curiga.
"Aku tidak kepikiran sampai sana, tapi sepertinya itu ide yang bagus. Ayo kita cari anggota sebanyak mungkin dan jadikan toko Regina sebagai pusat di Ibu Kota." Jeanelle menyeringai. Sekarang ia harus memulai rencana barunya.
Demi bertahan hidup Jeanelle rela melakukan apapun dan juga demi masa depan dengan kehidupan yang bebas.
...κ§-`π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆΒ΄-κ§...
(β€en)
(β€in)