IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Usai Perburuan Monster



...꧁-`π™·π™°π™Ώπ™Ώπšˆ πšπ™΄π™°π™³π™Έπ™½π™ΆΒ΄-κ§‚...


...β—Ό...


...β—Ό...


...β—Ό...


"Selamat datang Tuan." ucap seluruh penyihir sembari membungkuk hormat ketika melihat pria berjubah hitam lusuh tersebut.


Pria itu berjalan dengan santai menyusuri bangunan tersebut, ia hanya tersenyum dan sesekali menjawab ucapan orang-orang yang menyapanya dengan ramah.


Pria itu berhenti sejenak menatap sebuah pintu dengan ukiran naga berwarna hitam merah.



"Ku pikir aku tidak akan pernah melihat pintu ini lagi." pria itu terkekeh pelan dan kemudian membuka pintu tersebut. Ruangan yang cukup berantakan menyapa indera pengelihatannya.


"Selamat datang Tuan." ucap pria bersurai orange itu sembari tersenyum, wajahnya terlihat lelah dan kantung mata yang semakin menghitam.


"Hallo Freg, sepertinya kau dihukum habis-habisan oleh Louis." pria itu tersenyum miring, tanpa diberitahu dia sudah tau kebiasaan Freg mencuri dan menjual barang-barang.


Alasan pria itu masih memelihara Freg sampai sekarang adalah karena bakat sihir Freg yang sangat hebat. Akan disayangkan kalau Freg jatuh ke tangan orang lain.


Freg tidak menjawab, ia hanya memalingkan wajahnya dengan takut. Ia sudah cukup lelah sekarang dan tidak ingin mendengarkan omelan Tuan nya.


"Bagaimana perjalan anda Tuan Yuristhi? Anda menghilang selama 3 tahun dan tiba-tiba saja kembali. Kalau anda mengabari kami saat anda ingin kembali saya pasti akan menjemput anda." kata Freg mengalihkan pembicaraan.


Yuristhi terkekeh pelan. "Tidak perlu, lagipula perjalanan ku sangat menyenangkan." Yuristhi mendudukan dirinya di kursi. Ia akan beristirahat sebentar sebelum kembali bekerja.


"Dimana Louis?" tanya Yuristhi.


"Oh, sudah satu tahun Louis juga bekerja di Istana sebagai guru Tuan Putri."


"Benarkah?" Yuristhi tiba-tiba saja tertawa yang membuat Freg menyeritkan keningnya. Apa yang lucu?


"Pantas saja ekspresi nya begitu, bagus sekali." Yuristhi menompangkan dagunya dan menatap keluar jendela. "Sepertinya cepat atau lambat aku akan bertemu dengan Tuan Putri."


Freg menyeritkan keningnya. Kenapa orang yang sangat membenci Kekaisaran tiba-tiba ingin bertemu Tuan Putri?


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


"Wah, kacau sekali." kata Jeanelle ketika ia baru sampai di Ibukota. Monster yang tewas berada dimana-mana, perisai pelindung yang melindungi Istana dan ditambah dengan Kesatria yang memunguti para monster.


"TUAN PUTRI SUDAH KEMBALI!"


'Ah, kaget.' Jeanelle tersentak. Setelah menempuh perjalanan selama 3 hari akhirnya mereka sampai di Kekaisaran. Seluruh monster tiba-tiba saja menghilang entah karena sudah mati semua akibat ledakan atau mereka bersembunyi.


Entahlah, yang jelas Jeanelle sudah meminta Terry untuk membuat batasan agar para monster tidak keluar dari hutan tersebut dan juga Jeanelle sudah menempatkan satu penjaga disana.


Seharusnya mereka kembali dengan sihir teleportasi namun karena Yuristhi terkena dampak dari ledakan Manna tersebut akhirnya aliran Manna Yuristhi ikut kacau dan belum bisa menggunakan sihir sampai aliran Manna tersebut kembali seperti semua.


Jeanelle tidak menyangka jika ledakannya sampai separah itu.


Jeanelle melompat turun dari kuda kesayangannya, ia tersenyum formalitas.


"Kerja bagus untuk kalian semua." ujar Terry yang entah sudah sejak kapan berada disamping Jeanelle.


"Mungkin setelah ini kita bisa melakukan pesta perayaan." Kai menggenggam tangan Jeanelle dan membawanya untuk kembali menaiki kuda.


"Tuan Putri." ucap Marquez Green yang membuat langkah Jeanelle terhenti dan menatap kearahnya.


"Ya Tuan Marquez ?"


"Ya mewakili seluruh Kesatria yang ada disini ingin berterimakasih dan meminta maaf pada Putri, Maaf karena saya sepat tidak mempercayai anda dan Terimakasih karena Putri sudah mengirim surat pada istri saya. Berkat anda seluruh kekacauan ini bisa diatasi." Marquez Green dan yang lainnya berlutut penuh hormat. Itu adalah ucapan yang sangat tulus.


Diego jelas terkejut mengetahui hal tersebut, Jeanelle ternyata memang sudah memprediksi semua ini.


Jeanelle tersenyum. "Jangan begitu, keselamatan seluruh warga Kekaisaran adalah tanggungjawab keluarga Kaisar." setelah mengucapkannya, Jeanelle langsung menaiki kuda tersebut dan kembali melaju ke Mansion nya. Jeanelle ingin beristirahat.


Tapi tentu saja saat sampai disana Jeanelle tidak bisa langsung beristirahat, Jeanelle harus menenangkan Baila dan Rena yang menangis histeris saat melihat kepulangannya apalagi setelah mendengar Jeanelle yang sempat menghilang.


Para Kesatria yang terluka juga mendapatkan pengobatan, penyerahan inti monster juga dilakukan esok hari. Selama tiga hari setelah kepulangannya Jeanelle sangat sibuk. Untungnya Kaisar menepati ucapannya tentang perjanjian sebelum Perburuan itu, kalau tidak Jeanelle berniat untuk mengadakan demo besar-besaran.


Jeanelle menghela nafas dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, ia menatap beberapa tumpukan dokumen yang berserakan dimeja kerjanya. Jeanelle juga sudah menyerahkan beberapa bangkai dan inti monster kepada Louis, Jeanelle akan meminta bayarannya nanti. Tidak mungkin kan Jeanelle memberikannya secara gratis?


Namun ada yang aneh dari dirinya. Jeanelle pikir jika ia membenarkan aliran Manna nya maka jantungnya akan berhenti sakit, tapi entah kenapa aliran Manna di tubuhnya lebih sulit diatur. Padahal hampir setiap malam Terry membantu Jeanelle untuk menstabilkan aliran Manna miliknya, namun aliran Manna nya hanya stabil sebentar sebelum akhirnya kembali menjadi berantakan lagi.


Rasanya jantung Jeanelle ingin meledak.


"Putri?" ucap Diego tiba-tiba yang membuat Jeanelle tersentak.


"Ya?"


Ya ampun Jeanelle lupa kalau sekarang ia sedang mendengarkan penjelasan Diego tentang kondisi hutan Skota.


"Apa Tuan Putri baik-baik saja?" tanya Jeremy yang terlihat sangat khawatir.


"Ya." kata Jeanelle lemah. "Oh iya, ini bagian mu." ucap Jeanelle sembari memberikan selembar dokumen kepada Diego.


"Bagian ku?" Diego terlihat bingung namun ia tetap menerima kertas tersebut. Ia membacanya sekilas. "Tunggu Putri, ini sepertinya agak... Maksudnya, saya bahkan tidak melakukan apapun."


"Tidak melakukan apapun? Kau melakukan pekerjaan yang bagus. Tentu saja kau harus membagikannya pada kesatria yang sudah membantu mu itu."


Diego tertegun mendengar ucapan Jeanelle, Diego tidak pernah berpikir kalau dirinya akan mendapatkan setengah dari hasil perjanjian Jeanelle dengan Kaisar.


Jeanelle tiba-tiba bangkit dari duduknya, kepalanya terasa pening, kedua tangannya ia letakan diatas meja guna menompang tubuhnya yang entah kenapa terasa berat. Seluruh tubuhnya terasa hancur, Jeanelle ingin menangis rasanya.


'Aku harus pergi ke kamar sekarang.'


"Ya, lagipula kita ini sama-sama korban dalam rencana busuk Kaisar sialan itu. Tapi sepertinya dia berhasil membuat ku sekarat-- uhuk..."


Darah tiba-tiba saja keluar dari mulutnya, tubuh Jeanelle oleng. Sepertinya ia akan jatuh-- Kesadaran Jeanelle pun memudar.


"TUAN PUTRI!"


...꧁-`π™±π™΄πšπš‚π™°π™Όπ™±πš„π™½π™ΆΒ΄-κ§‚...