
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆΒ΄-κ§...
... βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
"Tuan Putri!"
Sebuah tombak menghunus jantung pria itu seketika pria itu tergeletak tak bernyawa dihadapannya.
"Apa yang kau lakukan?! Kau bisa bilang tentang rahasia itu pada Baginda!"
"Sama seperti Tuan Putri yang mengorbankan nyawa Putri untuk melindungi orang-orang anda, saya juga melindungi anda dengan nyawa saya. Karena itu saya harap anda bahagia." pria itu tersenyum begitu tulus, ia benar-benar memohon atas kebahagiaan temannya.
"Bukankah rahasia itu sangat penting untuk anda?" lagi-lagi pria itu tersenyum membuat Jeanelle tak kuasa menahan tangisnya. Ini semua karena dirinya terlalu lemah! Ia tau kalau Baginda akan membantai seluruh Bangsawan dan seharusnya Jeanelle melindungi temannya ini.
"Maafkan aku." Tangis Jeanelle pecah, ia memeluk jasad temannya dengan erat.
...***...
"Tuan Putri!" Jeanelle tersentak. Ia menatap wajah Suno yang juga menatapnya dengan khawatir.
"Apa anda baik-baik saja? Anda tidak menjawab ucapan saya." kata Suno dengan khawatir.
"Ah! Aku baik-baik saja, sepertinya aku hanya kelelahan." kata Jeanelle sambil terkekeh pelan.
Jeanelle menunduk menatap tangannya yang digenggam oleh Suno dengan erat, Suno membantu Jeanelle untuk berdiri.
Kruyuk... Suara itu cukup menggelegar dan mampu membuat mereka semua menahan tawanya, berbeda dengan Jeanelle yang menahan malu. Itu suara perut Jeanelle.
Karena persiapan debutante Jeanelle hanya minum susu saja sejak tadi.
"Sebaiknya kita segera makan." kata Jeremy yang membuat mereka mengangguk setuju.
Namun baru saja Jeanelle ingin makan, ia kembali di kerumuni oleh para bangsawan dan para bangsawan itu kembali bertanya-tanya kepada Jeanelle. Hari ini Jeanelle sangat sibuk dan ia sempat melupakan apa yang ia lihat di ingatannya tadi.
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
Jeanelle membaringkan tubuhnya diranjang, begitu pesta berakhir Jeanelle langsung membersihkan diri dan memutuskan untuk tidur. Tapi bukannya memejamkan kedua matanya Jeanelle malah menatap langit-langit kamar dan memikirkan ingatan yang ia lihat tadi.
"Apa-apaan itu?" Jeanelle menghela nafas lelah. Sepertinya Jeanelle butuh udara segar, Jeanelle bangkit dari posisinya dan berjalan kearah balkon kamarnya.
Ia membuka pintu balkon kamarnya lebar-lebar dan membiarkan angin malam berhembus menerpa wajahnya. Jarum jam menunjukan pukul 12 malam jadi wajar jika suasana disini sudah sangat sepi. Pesta sendiri sudah berakhir sejak jam 10 malam tadi.
Srekk.. Suara dedaunan yang begitu bising terdengar ditelinga Jeanelle membuat gadis itu mau tak mau menunduk kebawah melihat apa yang sedang terjadi disekitaran Mansion tempat tinggalnya.
Jeanelle dapat melihat, Kai yang masih memakai pakaian yang sama dengan pedang berlumuran darah terlihat begitu teliti menatap sekelilingnya. Sosok berjubah hitam mendadak lompat dan menyerang Kai namun dengan segera Kai mengayunkan pedangnya dan menghunus sosok asing itu, tubuhnya terbelah dua dan darah yang terciprat dimana-mana, bau amis mendadak menyeruak menusuk hidung.
"Sudah dimulai saja, menyebalkan! Ucapan Suno ada benarnya sih." gerutu Jeanelle.
Mungkin sudah saatnya Jeanelle menggunakan sihirnya. Cara kerja sihir Jeanelle sebenarnya agak menyeramkan, ia bisa memanggil makhluk-makhluk kegelapan seperti monster ataupun lainnya dengan cara tertentu, semakin banyak Jeanelle membunuh maka semakin kuat pula sihirnya. Sekarang Jeanelle memiliki peliharaan iblis yang tak sengaja ia temukan dan ia rawat setahun lalu.
Makanan mahluk iblis itu sudah pasti jiwa-jiwa mahluk hidup, namun karena Jeanelle tidak pernah membunuh orang lain jadi mahluk itu hanya makan Manna sihirnya saja.
Sebenarnya Jeanelle tidak ingin membunuh orang lain tapi keinginan Jeanelle untuk hidup jauh lebih besar, lagipula salah mereka sendiri kenapa mereka mengusik Jeanelle.
"Kau pasti lapar." Jeanelle menjentikkan jari membuat lingkaran sihir muncul disebelah kirinya. Seekor anjing besar dengan tiga kepala melompat keluar dari lingkaran sihir itu dan mendusel-dusel manja pada Jeanelle.
Jeanelle terkekeh pelan dan mengusap kepala mereka. Ceberus, mahluk yang menjaga neraka. Tubuh mereka besar dan tinggi sekitar 5/3 meter, mereka memiliki 3 kepala, mata mereka merah menyala dan mereka bisa menyemburkan api dari mulut atau ekornya saat ia menghentakkan ekornya ketanah.
Jeanelle memberi nama Ceberus itu dengan nama Cece, imut memang. Jeanelle juga suka anjing.
"Kau tau kan siapa yang tidak boleh dimakan?" Cece mengangguk sambil sesekali menggonggong senang. "Kalau begitu selamat makan, kalau sudah selesai jangan lupa kembali."
"Guk... Guk..." Cece melompat turun membuat tanah agak bergetar sesaat. Mata Cece semakin memerah menyala, ia tidak sabar memakan santapan yang diberikan oleh tuannya.
Kai yang sedang fokus bertarung bahkan ikut terkejut ketika Ceberus itu berdiri dihadapannya seolah-olah sedang melindunginya, dengan segera Kai menoleh keatas melihat balkon kamar Jeanelle.
Namun tidak ada siapapun disana, setelah menyuruh Cece turun Jeanelle langsung kembali ke kamarnya, Jeanelle tidak ingin melihat pemandangan mengerikan yang akan segera terjadi, bisa-bisa Jeanelle mimpi buruk.
Kai hanya tersenyum, sepertinya ia tau kalau Jeanelle yang mengirim Ceberus ini untuk menolongnya. Walaupun sebenarnya pemikiran Kai salah, alasan Jeanelle mengirim Cece untuk bertarung adalah agar Cece bisa makan dan agar orang-orang tau kalau Jeanelle bukanlah Tuan Putri yang lemah yang mudah diserang.
Tapi biarkan Kai bahagia dengan pemikirannya sendiri.
...κ§-`π±πππππππππΒ΄-κ§...