IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Euforia Pertama



...꧁-`π™·π™°π™Ώπ™Ώπšˆ πšπ™΄π™°π™³π™Έπ™½π™ΆΒ΄-κ§‚...


...β—Ό...


...β—Ό...


...β—Ό...



Jeanelle terdiam sembari menatap cermin dihadapannya, ia terduduk disebuah meja rias dengan Rena yang tengah menyisir surai blondenya. Pikiran Jeanelle bercabang, ia memikirkan banyak hal yang harus ia lakukan kedepannya.


"Sepertinya ada yang Tuan Putri pikirkan." kata Rena sembari menghias surai Jeanelle.


"Apakah terlihat sangat jelas?"


"Iya, apa Tuan Putri memikirkan Putra Mahkota dan Pangeran yang akan menjadi segera menjadi utusan Kekaisaran?"


Lebih tepatnya Jeanelle memikirkan nasib Kekaisaran saat kedua orang itu pergi.


"Bukankah beberapa minggu lagi mereka akan segera pergi? Memangnya apa yang harus aku lakukan?"


Rena tersenyum, ia sangat senang karena Jeanelle sudah dekat dengan saudara-saudarinya. Itu kan mimpi Jeanelle sejak kecil.


"Kalau anda khawatir, bagaimana jika Tuan Putri membelikan hadia untuk mereka?"


Jeanelle mendongak menatap Rena. "Hadiah?"


'Haruskah aku membelikannya?' Jeanelle tidak khawatir sih, hanya saja mungkin Jeanelle bisa memberikan hadiah untuk mereka karena mereka sudah membantu Jeanelle dalam beberapa hal.


"Sepertinya aku harus keluar sekarang." kata Jeanelle sembari tersenyum kecil.


"Saya akan segera menyiapkan pakaian anda." Rena senang saat melihat Jeanelle senang.


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...



{Choco Note : Pakaian Jeanelle Hari Ini 😁}


"Tuan Putri, apa anda tidak kedinginan?" tanya Hyun sembari berjalan disamping kanan Jeanelle sedangkan Jeremy berjalan disamping kiri Jeanelle.


"Tidak juga, aku memakai sihir penghangat." Jeanelle menatap sekelilingnya mencari barang-barang yang bagus.


"Apa yang ingin anda beli?" tanya Jeremy.


"Aku tidak tau, apa kalian ada saran?" Jeanelle berbalik dan menatap mereka berdua. Jeanelle awalnya tidak berniat membelikan mereka hadia hanya saja Rena menyarankan untuk membelikan mereka hadiah alhasil Jeanelle menurutinya.


"Bagaimana dengan jam?" saran Jeremy. Untuk apa jam? Pangeran dan Putra Mahkota saja jarang melihat jam.


"Bagaimana jika Putri membelikan hadia yang sesuai dengan mereka."


"Yang sesuai dengan mereka? Hmm..."


Sepertinya Jeanelle tau apa yang harus Jeanelle berikan pada mereka.


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


...-`π™±π™΄π™±π™΄πšπ™°π™Ώπ™° π™Όπ™Έπ™½π™Άπ™Άπš„ π™Ίπ™΄π™Όπš„π™³π™Έπ™°π™½Β΄-...


"Jeanelle... Jeanelle..." ucap Terry sembari mengguncang tubuh Jeanelle pelan.


Jeanelle yang merasa tidurnya terusik segera bangun dan mendudukan dirinya, namun kedua matanya masih terpejam dan mulutnya bergumam tidak jelas.


'Gemasnya...' ingin sekali Terry memeluknya sekarang karena terlalu gemas.


"Jeanelle selamat ulangtahun." kata Terry sembari tersenyum manis. Mendengar hal tersebut seketika kedua mata Jeanelle terbuka lebar dan Jeanelle menatap Terry dengan heran.


"Siapa?" linglung Jeanelle.


"Jeanelle sekarang adalah hari ulangtahun mu." Terry tiba-tiba saja memeluk Jeanelle dan mengelus surainya lembut. "Aku harap di kehidupan kali ini kau bisa lebih bahagia." kata Terry yang terdengar sangat tulus. Hati Jeanelle menghangat saat mendengar ucapan Terry.


Brak. Pintu kamar Jeanelle terbuka lebar dan memperlihatkan Baila yang masih mengenakan baju tidurnya dan Kai yang sudah memakai pakaian resmi.


"Padahal aku ingin jadi yang pertama." Pekik Baila kesal saat melihat Jeanelle yang berada didalam pelukan Terry.


"Kau curang!" tunjuk Kai pada Terry. Terry yang mendapatkan serangan itu hanya menjulurkan lidahnya mengejek.


Kai dan Baila berjalan menghampiri Jeanelle dan mereka tersenyum. "Selamat ulang tahun Jeanelle. Kami harap kau selalu bahagia." kata mereka berdua bersamaan.


Baila mencium kening Jeanelle, Kai mencium pipi kanan Jeanelle dan Terry mencium pipi kiri Jeanelle. Seketika Jeanelle mengalami euforia yang hebat.


'Para tokoh utama mencium ku?!' Jeanelle jelas terkejut.


Jeanelle tidak tau harus melakukan apa disaat seperti ini, ia terlalu bahagia sekarang. Apa boleh Jeanelle merasakan kebahagiaan seperti ini?


Jeanelle tersenyum dengan sangat tulus, senyum yang belum pernah diperlihatkan pada siapapun. "Terimakasih, aku sangat senang kakak."


Deg. Jantung ketiga orang itu mendadak berhenti, air mata mengalir dari mata kanannya.


Baila, Kai dan Terry sangat bahagia. Dalam kehidupan ini pertama kalinya Jeanelle memanggil mereka dengan sebutan kakak.


Mereka bertiga langsung memeluk Jeanelle dan tersenyum bahagia. "Jeanelle terimakasih, terimakasih karena sudah memanggil kami kakak." kata Kai. Hatinya terlalu senang hingga tidak bisa digambarkan seperti apapun.


Pada dini hari, salju pertama turun dan kebahagiaan pertama juga turun menyelimuti mereka. Jeanelle Agnegius berusia 16 tahun.


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


"Oh iya, aku punya hadiah untuk kalian." kata Jeanelle yang mendadak penuh semangat.


Baila, Kai dan Terry yang mendengar hal tersebut mendadak terdiam. Hadiah yang mereka siapkan belum jadi dan tidak bisa diberikan sekarang tapi tiba-tiba Jeanelle memberinya hadiah?


Jeanelle berjalan menuju lemari pakaiannya, ia mengambil dua kotak kecil dan satu pedang. Ia kemudian memberikan kotak itu masing-masing satu pada Terry dan Baila, ia memberikan pedangnya pada Kai.


"Sejujurnya aku tidak tau ingin memberikan kalian apa jadi aku hanya membelikan apa yang ku pikirkan saat itu." kata Jeanelle sembari menggaruk pipinya dengan jari telunjuk. Ia merasa agak canggung setelah berpelukan tadi.


Kai mendapatkan pedang berwarna hitam dengan batu Manna ditengah pegangannya berwarna ungu.



(Pedang milik Kai)


Terry dan Baila yang penasaran jadi ikut membuka kotak miliknya. Terry mendapatkan sebuah kalung Ruby berwarna merah menyala mirip dengan warna matanya dan Baila mendapatkan cincin dengan permata hijau yang mirip dengan matanya.



(Kalung Terry)



(Cincin Baila)


"Kau memasukan sedikit sihir mu di batu Manna kami?" tanya Terry agak terkejut.


Bagaimana cara Jeanelle bisa memasukkan sihir kedalam barang-barang ini?


"Ya, aku memasukkan sedikit. Itu bisa memberikan sedikit perlindungan pada kalian." kata Jeanelle sembari tersenyum.


'Ini deja vu.' batin Baila, Kai dan Terry. Benar, mereka pernah merasakan hal ini sebelumnya.


"Saya harap artefak ini bisa melindungi kalian menggantikan saya." suara itu terdengar begitu ceria namun disatu sisi juga terdengar sangat putus asa.


Jeanelle memiringkan kepalanya, ia merasa heran kenapa ketiga orang dihadapannya ini hanya terdiam dengan tatapan aneh.


"Kami pasti akan memberikan hadia yang luar biasa untuk mu." kata Kai dengan suara yang agak bergetar menahan tangis.


Jeanelle terdiam dan kemudian tersenyum.


"Tidak perlu, saya hanya membutuhkan doa kalian saja."


"Saya hanya ingin berada disamping kakak saja."


Grep. Tiba-tiba saja Baila memeluk Jeanelle dengan sangat erat.


"Aku harap kau bisa berbahagia sekarang, Jeanelle."


"Jeanelle ini pesan ibu, kau tidak boleh mati sebelum bahagia. Kau harus bahagia."


Jeanelle terdiam kepalanya agak sakit ketika ingatan itu memasuki otaknya. 'Apa ini sebuah kutukan? Apa kebahagiaan itu adalah kutukan?'


...꧁-`π™±π™΄πšπš‚π™°π™Όπ™±πš„π™½π™ΆΒ΄-κ§‚...