
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆΒ΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
"Jadi kau membeli dua Elf yang memiliki bakat sihir? Dan kau meminta ku mencarikan guru sihir untuk mereka?" ujar Terry sembari menatap Jeanelle. Terry senang karena Jeanelle mau meminta bantuan kepadanya, inikan pertama kalinya Jeanelle meminta bantuan pada Terry.
Ini bahkan sudah 1 Minggu sejak Jeanelle membawa kedua Elf itu, ia sangat kesulitan mencari guru sihir yang berbakat.
Sebenarnya Jeanelle enggan meminta bantuan pada Terry tapi Jeanelle sendiri juga tidak tau harus meminta bantuan pada siapa. Jeanelle sudah mencoba meminta bantuan pada Louis tapi jawaban Louis...
"Mau sampai anda menangis darah pun saya tidak akan membantu anda Putri, mengajar anda saja saya sudah sangat kerepotan."
Jeanelle jadi kesal sendiri. 'Dasar guru kejam.' Jeanelle hanya bisa mencak-mencak dalam hati.
Jeanelle jadi harus menemui Terry yang saat ini berada di perpustakaan Istana, bagaimanapun juga Zen dan Zin harus mendapatkan pelatihan sihir karena itu akan sangat berguna untuk dirinya.
"Aku senang karena ini pertama kalinya kau minta bantuan pada ku." Terry tersenyum manis yang membuat Jeanelle tertegun. Pesona Terry sangat mematikan dan bahaya untuk jantung Jeanelle. Sayang sekali mereka adalah kakak beradik.
"Pasti Pangeran sangat kerepotan."
"Tidak, aku akan melihat seperti apa Elf yang kau bawa. Setelah itu aku akan mencoba menghubungi seseorang yang ku kenal atau aku sendiri yang akan mengajarinya." jelas Terry yang membuat Jeanelle menggelengkan kepalanya pelan.
"Pangeran pasti kesulitan, Pangeran tidak perlu turun tangan langsung. Tolong panggilkan guru saja untuk mereka."
Lagi-lagi Terry tersenyum, namun kali ini ia sembari mengelus surai blonde Jeanelle dengan lembut. "Kalau aku menjadi gurunya maka aku mungkin juga akan mendapatkan keuntungan, ini seperti kau berbagi keuntungan dengan ku."
Tidak ada guru yang hebat selain Terry sih. "Kalau begitu lakukan saja apa yang ingin Pangeran lakukan."
Terry hanya tersenyum, hari ini ia kan segera menemui kedua Elf itu.
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
"Pangeran?!" kata Regina terkejut karena tiba-tiba saja Terry datang ke tokonya. Disana juga ada Zin dan Zen yang tengah merapikan tokonya. Sekarang sudah larut malam jadi toko mereka sudah mulai tutup.
"Mohon maaf Pangeran tapi toko kami sudah tutup." kata Regina berusaha bersikap sopan walaupun didalam hati ia sedikit kesal karena pemuda itu sudah mengabaikan Jeanelle dan sekarang tiba-tiba ia bersikap baik pada Jeanelle.
"Maaf Nona Regina, tapi aku datang kesini untuk menemui Elf yang Jeanelle bawa. Ku dengar Jeanelle mencari guru sihir untuk mereka."
"Jangan bilang jika Pangeran sendiri yang akan mengajari Zin dan Zen?"
"Aku akan menilai kemampuan mereka dulu."
Regina menyipitkan kedua matanya, ia kemudian menghela nafas dan memanggil Zin dan Zen. Kedua anak kembar itu langsung menghampiri Regina.
Padahal usia Regina baru 14 tahun tapi ia sudah bisa bersikap dewasa. Itu adalah salah satu point yang Kai dan Terry sukai.
Terry pun mengalihkan pandangannya, mata permata merahnya menatap kedua anak itu dengan intens, sama seperti netra Jeanelle saat menatap mereka. Netra permata merah Terry juga bersinar sesaat, Terry tersenyum.
Adik bungsunya itu memang selalu bisa menilai barang bagus.
"Baik Pangeran." ujar Zin dan Zen bersamaan.
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
Kai, Jeanelle dan Baila saat ini tengah berkumpul di rumah kaca yang berada di wilayah Mansion Dandelion. Kai sendiri yang mengusulkan untuk minum teh ditempat ini.
"Ku dengar Terry sedang fokus melatih para Elf yang kau bawa." kata Kai tiba-tiba.
"Benar, kata Pangeran, Zin dan Zen memiliki bakat sihir yang cukup melimpah dan Pangeran tertarik dengan mereka." jelas Jeanelle. Sudah beberapa Minggu berlalu sejak Terry memutuskan untuk menjadi guru mereka.
Jeanelle bahkan ingat betapa hebohnya Regina saat memberitahu kalau Pangeran sendiri yang memutuskan untuk mengajar mereka. Jeanelle tau betapa tidak sukanya Regina pada keluarga Kekaisaran kecuali Jeanelle.
Tapi mau bagaimana lagi? Terry akan tetap mengajari mereka dan Regina juga harus terbiasa. Jeanelle juga sudah mengirimkan guru tata krama untuk mereka, tapi karena kesibukan mereka saat membuka toko alhasil mereka harus meliburkan toko selama sehari dan fokus untuk belajar.
Ngomong-ngomong 3 hari yang lalu Regina berulang tahun yang ke 15 dan Jeanelle belum menghadiahkan apapun untuknya, jangankan hadiah Jeanelle bahkan belum menemui Regina dan ia hanya mengirimkan surat selamat ulangtahun padanya. Jeanelle benar-benar sibuk, ia harus lembur untuk mengganti emas-emas yang sudah ia hamburkan.
Kalau begini Jeanelle hanya bisa menggigit jari, tapi ia tidak menyesal sih karena Jeanelle sendiri mendapatkan untung yang setimpal. Sedikit merugi untuk keuntungan yang besar bukan hal yang buruk kan?
"Oh iya, 6 Minggu lagi aku dan Terry akan menjadi Delegasi ke Kerajaan tetangga." ujar Kai sembari menyeruput teh nya dengan santai.
"Apa?" Jeanelle mendadak keluar dari pemikirannya, ia tertegun mendengar ucapan Kai.
"Maaf Yang Mulia saya tidak dengar tadi Yang Mulia bicara apa?" kata Jeanelle yang berharap kalau pendengarannya itu salah.
"Kai dan Terry akan melakukan Delegasi ke Kerajaan tetangga." ucap Baila yang seketika terasa seperti ada petir yang menyambar di atas kepala Jeanelle.
Kenapa ceritanya jadi begini?! Kai dan Terry tidak boleh pergi karena 6 Minggu lagi akan memasuki musim dingin, lalu para monster akan mengamuk dan berusaha menghancurkan Kekaisaran. Kalau Terry dan Kai pergi siapa yang akan menghentikan semua itu?!
"Tapi kenapa Yang Mulia dan Pangeran yang pergi? Bukankah biasanya delegasi itu dilakukan oleh para menteri?"
"Entahlah, Baginda sendiri yang memerintahkan seperti itu dan aku juga disuruh untuk fokus mengurus Mansion Kai dan Mansion Terry selama mereka pergi." jelas Baila. Raut wajah cemas Baila tidak bisa dibunyikan.
Sejujurnya ini juga perubahan yang tiba-tiba, Mereka tidak ingat kalau hal ini pernah terjadi sebelumnya.
"Sebenarnya kami juga tidak ingin pergi, daripada pergi menjadi delegasi lebih baik kami pergi untuk perburuan monster. Kasihan kalau Duke wilayah barat yang melakukan perburuan ini seorang diri, apalagi ku dengar para monster meningkat drastis akhir-akhir."
'Iya itu benar, karena itu aku mohon pergi saja ke perburuan monster.' batin Jeanelle memohon. Ingin rasanya Jeanelle berteriak pada Baginda untuk tidak mengirim mereka ke Kerajaan tetangga, tapi Jeanelle tidak bisa melakukan hal itu.
"Apalagi awal musim dingin adalah ulangtahun Jeanelle, aku jadi ingin merayakan pesta kecil bersama mu." kata Kai sembari tersenyum kecil, berbeda dengan Baila yang malah tersenyum licik.
"Jangan khawatir Putra Mahkota, karena saya akan menemani Jeanelle di hari ulangtahunnya." kata Baila yang kini adu tatapan dengan Kai. Jeanelle seolah-olah bisa melihat aliran listrik yang keluar dari kedua mata mereka.
Tapi masalahnya Jeanelle saja lupa dengan hari ulangtahunnya sendiri. Entah kenapa firasat Jeanelle tidak begitu enak.
"Tapi... Kalian akan baik-baik saja kan kalau kami tinggal? Firasat ku tidak begitu baik." kata Kai yang membuat Baila dan Jeanelle tertegun.
"Entahlah Yang Mulia, firasat saya juga sangat buruk." sahut Jeanelle sambil menatap kosong gelas teh dihadapannya.
"Iya, aku sependapat dengan Jeanelle." Baila menghela nafas.
Kenapa atmosfer nya jadi begini? Kacau sudah semuanya.
...κ§-`π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆΒ΄-κ§...