
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆΒ΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
Jeanelle dengan terburu-buru berjalan menuju taman belakang Mansion, ia bahkan sampai mengangkat gaunnya. Awalnya Jeanelle bertanya-tanya kenapa dirinya dipakaikan gaun yang indah dan terdapat banyak hiasan padahal biasanya gaun yang Jeanelle pakai adalah gaun polos tanpa motif atau hiasan.
Gaun polos itu lebih nyaman untuk Jeanelle, surai yang biasa digulung ke atas atau di kuncir satu juga kini di kepang dengan bunga sebagai hiasan kepalanya, apalagi sepatu berhak yang sangat jarang Jeanelle pakai. Firasatnya tidak enak.
Saat bertanya Rena hanya tersenyum dan begitu selesai berdandan Rena baru berkata kalau dirinya akan bertemu dengan para bintang kekaisaran yang berarti Jeanelle akan bertemu dengan para tokoh utama komik alias kakak-kakaknya.
'Kalau tau begini aku akan kabur.' Jeanelle meringis dalam hati. Ia benar-benar tidak ingin bertemu dengan mereka semua. Jeanelle bahkan mati-matian selama setahun untuk menghindari mereka tapi kenapa tiba-tiba ia malah dipertemukan begini?
Jeanelle berhenti berjalan saat melihat taman yang awalnya sepi kini mendadak ramai, terdapat meja berukuran sedang dengan bentuk lingkaran, 4 kursi mewah yang mengelilingi meja tersebut, makanan dan minuman yang tertata dengan rapi, beberapa pelayan yang berdiri dan ditambah vibes 3 orang keluarga Kaisar yang sungguh menyilaukan mata.
'Tokoh utama memang beda ya.' Sejujurnya Jeanelle sangat kagum dengan wajah rupawan mereka tapi kalau ingat mereka yang membunuh Jeanelle asli dalam komik maka Jeanelle akan senang hati kabur dari hadapan mereka.
"Salam kepada seluruh bintang Kekaisaran." Jeanelle membungkuk hormat ketika sampai dihadapan ketiga orang itu.
Suasana hening membuat Jeanelle jadi was-was, apalagi sekarang Jeanelle masih membungkuk hormat. 'Setidaknya katakan sesuatu.' Jeanelle benar-benar ingin kabur dari tempat ini.
"Tinggalkan kami." Suara bariton itu terdengar ditelinga Jeanelle, sepertinya para pelayan menuruti ucapan sang pemilik suara.
"Bangunlah Jeanelle, kau kan juga bintang kekaisaran karena itu kau tidak perlu terlalu formal pada kami." suara itu terdengar begitu lembut membuat perasaan Jeanelle jadi agak kacau.
Jeanelle menegakkan tubuhnya, ia kemudian memutuskan untuk duduk dikursi kosong yang ada disamping Baila dan Terry.
"Saya mengucapkan terima kasih karena para bintang kekaisaran mau mampir ke kediaman saya yang kumuh ini, saya merasa terhormat." ucap Jeanelle yang saat ini mati-matian untuk bersikap sopan nan anggun seperti yang Rena perintahkan sebelumnya.
Suasana kembali hening, tidak ada yang membuka suara sama sekali. Jeanelle juga memilih untuk menundukkan kepalanya. Apa mereka mengunjungi Jeanelle hanya untuk beradu keheningan begini? Kenapa mereka membuat dirinya tidak nyaman?
"Jeanelle!" panggil Terry yang membuat Jeanelle agak tersentak. "Angkat kepala mu."
Jeanelle menurut, ia mengangkat kepalanya dan dengan santai menatap kedua mata Terry. Netra permata merah itu kini beradu tatap dengan netra permata ungu, mereka saling bertatapan cukup lama sampai Jeanelle samar-samar melihat kalau netra permata merah itu sedikit bersinar kemudian kembali meredup.
'Apa itu?' Jeanelle menukik alisnya dengan bingung. Ia tidak mengerti apa yang sedang Terry lakukan tapi satu hal yang pasti kalau pemuda berusia 17 tahun itu sedang melihat sesuatu dari dalam dirinya.
Terry, Baila dan Kai saling berpandangan dan kemudian mengangguk.
"Dua Minggu lagi kau akan mengadakan pesta debutante mu dan tempat tinggal mu akan dipindahkan ke Mansion Dandelion." ucap Kai dengan santai sembari menyeruput minumannya.
"Apa?!" Jeanelle terdiam dan menatap ketiga orang dihadapannya dengan tatapan tidak percaya. Kenapa jadi begini? Bukankah seharusnya kalau menurut cerita Jeanelle tidak akan pernah meninggalkan Mansion tak bernama ini?
Baila tiba-tiba saja memegang tangan Jeanelle dan mengelusnya pelan, ia menatap Jeanelle dan tersenyum dengan lembut. Tatapan matanya begitu sendu, penuh dengan kerinduan serta rasa bersalah yang sangat dalam.
"Maafkan kami karena tidak pernah memperhatikan mu. Mulai sekarang kau akan diperlakukan layaknya Tuan Putri karena kau memang Tuan Putri Kekaisaran Zetta."
"Mulai sekarang kami akan lebih memperhatikan mu adik kecil." kali ini Terry yang mengelus surai blonde Jeanelle.
Jeanelle hanya terdiam, ia berusaha mencerna segala situasi yang sedang terjadi sekarang. Ia sama sekali tidak mengerti, bukankah Terry sangat membencinya? Apa-apaan ini?
Jeanelle tiba-tiba saja bangkit dari duduknya, ia membungkuk hormat. "Saya berterimakasih atas kebaikan seluruh bintang Kekaisaran tapi saya yang rendahan ini tidak bisa menerima kebaikan anda semua." Jeanelle tidak ingin menerima semua ini, dirinya bukanlah Jeanelle yang ada didalam cerita yang pasti akan senang saat diperhatikan oleh semua kakak-kakaknya.
Dibandingkan mendapatkan perhatian seperti ini, Jeanelle akan sangat bersyukur jika mereka mengabaikannya seperti yang biasa mereka lakukan dan terlebih Jeanelle tidak ingin berharap lalu di kecewakan. Mungkin Jeanelle akan menerima semua ini jika ia tidak tau akhir hidupnya tapi sayangnya Jeanelle mengetahui akhir dari kehidupannya.
Apapun yang Jeanelle lakukan, itu semua tidak akan berarti untuk mereka. Apalagi Jeanelle sangat mirip dengan Kaisar Evan.
Kai menyerit, ia terlihat tidak suka dengan ucapan Jeanelle. "Apa maksudnya dengan orang rendahan?! Kau Jeanelle Agnegius, bintang Kekaisaran ke empat. Tuan Putri Kekaisaran Zetta dan kau pantas mendapatkan hal yang seharusnya memang kau dapatkan."
Jeanelle menghela nafas, ia menegakkan tubuhnya dan menatap ketiga orang dihadapannya dengan tatapan tegas nan tajam.
"Yang Mulia Putra Mahkota, saya bukanlah Tuan Putri. Saya hanya seseorang yang kebetulan numpang tinggal di Istana." intonasi yang Jeanelle lontarkan begitu tenang namun tegas.
Kai, Terry dan Baila mendadak terdiam, raut wajah mereka sungguh tidak enak. Terutama Kai.
...***...
"Kau bukan Tuan Putri! Kau hanya seseorang yang numpang tinggal di Istana mewah ini! Harusnya kau bersyukur kau masih bisa makan dan minum!" sentak Kau sembari menatap Jeanelle yang saat itu berusia 10 tahun dengan tatapan jijik dan marah.
"Orang seperti mu tidak akan pernah bisa menjadi keluarga ku! Bahkan dalam mimpi sekalipun!" setelah mengucapkan perkataan itu Kai langsung melengos pergi meninggalkan Jeanelle yang tersungkur jatuh dengan lututnya yang terus mengeluarkan darah.
Para pelayan yang melihat hal itu sama sekali tidak ada yang mau membantu, mereka hanya berbisik-bisik sambil tertawa mengejek Jeanelle.
...***...
"Jeanelle akuβ"
"Untuk masalah debutante, itu tidak perlu diadakan. Saya tidak suka jika harus tampil didepan publik." potong Jeanelle yang seketika membuat suasana menjadi sangat hening.
Jeanelle berpikir mungkin dirinya sudah keterlaluan karena menolak permintaan para penerus tahta, tapi Jeanelle pikir jika ini yang terbaik dan Jeanelle tidak menyesali keputusannya.
"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi saya permisi, terimakasih karena telah meluangkan waktu berharga kalian Yang Mulia." Jeanelle kembali membungkuk hormat sesaat dan kemudian ia pergi dari tempat itu meninggalkan Baila, Kai dan Terry yang masih terdiam.
...κ§-`π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆΒ΄-κ§...
πππ¦π§ :
Inilah beberapa Cast di novel ini π kalau kalian kurang suka atau punya bayangan sendiri silahkan bayangkan sendiri π
Lalu anggap aja warna matanya sesuai yang aku deskripsikan di cerita ya... Mata permata wkwkwk π
γπΉaila πΈgnegiusγ
γπai πΈgnegiusγ
γπerry πΈgnegiusγ