
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆΒ΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
Rena memasuki kamar Jeanelle dengan terburu-buru, beberapa dayang dibelakangnya mengikuti. Korden di buka, seluruh gaun di keluarkan dari lemari, sepatu-sepatu berjejeran dengan rapi, hiasan rambut, perhiasan dan lain sebagainya.
Rena mendadak berdecak dengan kedua tangan di pinggang ketika melihat Jeanelle yang malah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Dengan segera Rena menarik selimut Jeanelle dan membangunkannya secara paksa.
Jeanelle yang setengah mengantuk menatap Rena dengan heran, sekarang kan baru jam 7 pagi kenapa dirinya sudah dibangunkan begini sih?
"Tuan Putri kenapa anda masih belum bangun juga?!" omel Rena sembari menarik Jeanelle untuk segera beranjak dari ranjangnya.
"Kau itu kenapa sih? Ini kan masih pagi." kesal Jeanelle.
"Apa Tuan Putri lupa? Sekarang acara debutante Putri, anda harus bersiap-siap."
"Acaranya kan malam hari kenapa aku harus bersiap-siap sekarang?"
Mendengar ucapan Jeanelle, Rena memasang ekspresi terkejut. "Ya Dewa, Tuan Putri, anda adalah tokoh utama dalam acara ini sudah pasti Putri harus tampil cantik dan menawan dan untuk hal itu butuh persiapan yang cukup lama."
"Benar Tuan Putri, kami akan mendandani Tuan Putri."
Tunggu sebentar! Kenapa para dayang terlihat begitu antusias? Jeanelle bahkan bisa melihat kobaran api penuh semangat di mata para dayang. Sepertinya hari ini akan menjadi neraka untuk Jeanelle.
"Bawakan taburan bunga!"
"Minyak rambutnya mana?"
"Wangi sabunnya terlalu menyengat."
"Gaunnya pilihkan."
"Sepatu!"
"Tiaranya dimana?"
"Tuan Putri harus menjadi gadis tercantik di Kekaisaran!"
Jeanelle terdiam, ia sungguh pusing melihat situasi yang bisa dibilang kacau ini. Sepertinya Jeanelle sudah meremehkan debutante seorang Tuan Putri.
"Aku lapar, Rene." rengek Jeanelle.
"Tolong tahan, setelah ini saya akan menyiapkan susu untuk anda."
'Aku tersiksa.' Jeanelle hanya bisa menangis dalam hati.
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
"Akhirnya Tuan Putri..."
"Tuan Putri benar-benar sangat cantik." raut wajah puas terpantri diwajah para dayang.
Jeanelle bahkan sampai tertegun melihat dirinya sendiri di cermin. Surai blonde bergelombang yang dibiarkan tergerai dengan hiasan tiara cantik berwarna emas dan permata ungu ditengahnya persis seperti netra Jeanelle, gaun berwarna biru langit yang begitu mewah namun elegan, sepatu berhak berwarna senada, hiasan tipis-tipis dan beberapa aksesoris yang cantik terpasang ditubuhnya.
Ia tau kalau Jeanelle memang cantik tapi sekarang Jeanelle 2 kali lipat lebih cantik dari biasanya.
Suara derap langkah kaki terdengar ditelinga mereka semua, pintu kamar tiba-tiba saja terbuka menampilkan seorang gadis cantik bersurai blonde dengan mata permata hijau.
"Jeanelle kau sudah siap--" ucapannya terhenti, tatapan mata kagum tak terlepas dari wajah cantik Jeanelle. "Jeanelle, kau sangat cantik." puji Baila. Sepertinya Baila tidak sadar kalau ia juga tak kalah cantik dari Jeanelle.
Gaun berwarna merah muda yang terlihat sangat cocok untuk Baila, surai yang dibiarkan tergerai dengan hiasan pita dan juga aksesoris yang tak terlalu mencolok namun terlihat elegan. Baila benar-benar mencerminkan seorang bangsawan yang anggun.
Penampilan Baila mampu membuat Jeanelle berdecak kagum. 'Tokoh utama selalu bersinar.'
"Ayo Jeanelle, hari ini kau tokoh utamanya." Baila mengulurkan tangannya dan langsung diterima oleh Jeanelle, mereka berdua bergandengan tangan sampai di luar Mansion Dandelion.
Di luar Mansion Dandelion sudah ada Terry dan Kai yang penampilannya tak kalah jauh lebih menawan. Apalagi pakaian khas Kekaisaran yang formal terpasang di tubuh mereka. Jas berwarna biru merah dengan ukiran emas dan jubah berwarna senada, sepatu boots berwarna hitam yang terlihat begitu indah, jangan lupakan sarung tangan berwarna hitam.
Terry dan Kai memakai pakaian yang sama.
Terry dan Kai mendadak terdiam ketika melihat kedua adiknya yang berjalan menuruni tangga sambil bergandengan tangan, mereka sangat cantik apalagi senyum tulus Jeanelle yang jarang diperlihatkan pada mereka.
"Jeanelle." panggil Kai yang sontak membuat Jeanelle menatap kearahnya mereka berdua.
'Wah, mereka bersinar sekali.' kagum Jeanelle.
"Selamat atas debutante mu." kata Terry dan Kai bersama.
Ada sebuah perasaan aneh yang menjalar di hati Jeanelle, mungkin itu adalah perasaan Jeanelle yang asli. Ia cukup senang namun disatu sisi Jeanelle juga merasa resah.
'Tidak masalah kan kalau aku menikmatinya sebentar?'
Jeanelle tersenyum, senyum yang begitu tulus terlihat oleh mereka bertiga dan mampu membuat mereka mematung terharu.
"Terimakasih."
Terry dan Kai merasa terharu, mereka berdua saling bertatapan dan tersenyum.
"Ayo para Lady, kita bisa terlambat." ujar Terry sambil mengarahkan tangannya pada Jeanelle dan Jeanelle dengan senang hati menerima uluran tangannya.
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
"Putra Mahkota Kai Agnegius, Pangeran Terry Agnegius, Putri Mahkota Baila Agnegius dan Tuan Putri Jeanelle Agnegius memasuki ruangan." seruan itu terdengar sangat lantang.
Pintu aula terbuka dan memperlihatkan para bangsawan yang menatap kearah mereka berempat dengan sangat intens, mungkin lebih tepatnya menatap kearah Jeanelle penuh rasa penasaran. Jujur saja Jeanelle tidak merasa nyaman dan ia menjadi gugup.
Pandangan Jeanelle lurus kedepan menatap Permaisuri, Kaisar dan Selir kesayangan Kaisar yang duduk di singgasana kebanggaan mereka. Selir Rose terlihat tersenyum puas, berbeda dengan Permaisuri Elizabeth yang terlihat tidak begitu menyukai Jeanelle.
'Dia terang-terangan membenci ku.'
Jeanelle hanya bisa menghela nafas, bahkan sekarang Jeanelle belum bertingkah tapi saat bernafas saja dirinya sudah dibenci. Menyedihkan sekali.
"Salam kepada Matahari dan Bulan Kekaisaran, semoga semesta Kekaisaran sehat selalu dan panjang umur." ujar keempat bintang bintang Kekaisaran sembari membungkuk hormat. Mereka berempat berdiri sejajar dengan rapi.
"Bangunlah anak-anak." ucap Kaisar yang sontak membuat mereka menegakkan tubuhnya. Pandangan Kaisar beralih pada seluruh tamu yang hadir, begitu juga dengan mereka berempat yang berdiri tegap menatap para tamu.
Dan saat melihat para tamu tanpa sengaja atensi Jeanelle teralihkan dan menatap ke empat temannya yang menatapnya terkejut, Jeanelle juga terkejut. Ia mungkin tidak akan heran jika Suno yang hadir di pesta ini tapi bagaimana Jeremy, Regina dan Hyun bisa hadir juga di pesta ini?
Jeanelle tidak pernah mengirim undangan untuk siapapun.
"Seperti yang kalian tau alasan debutante ini diadakan adalah untuk memperkenalkan putri yang selama ini aku sembunyikan, putri yang amat sangat kami sayangi ini sengaja ku sembunyikan BLA BLA BLA..."
Jeanelle terdiam dengan wajah malas, apa susahnya bilang jika Evan lupa kalau ia punya putri lain? Ya tidak mungkin juga sih Evan berkata seperti itu secara terang-terangan.
"Kalau begitu silakan untuk kalian semua menikmati pestanya." ucap Evan yang langsung membuat para tamu bersorak.
Kai sendiri langsung berbalik dan menghadap Jeanelle. "Mau kah Tuan Putri menari satu lagi dengan saya?" tanya Kai dengan senyumnya yang mempesona.
Kalau melihat wajah Kai yang seperti ini mana bisa Jeanelle menolak. Wajahnya benar-benar bersinar.
"Sebuah kehormatan untuk saya Yang Mulia." Jeanelle meraih tangan Kai dan mereka menari bersama meninggalkan Terry dan Baila yang berdecak kesal.
"Harusnya tarian pertama Jeanelle itu untuk ku!" kesal Terry. Kai yang mendengar kekesalan Terry pun menoleh kearah Terry dan menjulurkan lidahnya mengejek pemuda merah itu.
"Kak Kai curang!" rengek Baila.
Jeanelle menukik alisnya dengan heran. 'Mereka itu kenapa sih?'
...κ§-`π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆΒ΄-κ§...