
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆ****Β΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
Jeanelle perlahan membuka kedua matanya, kepala dan tubuhnya terasa agak sakit. Sudah berapa lama Jeanelle tidur?
Yang lebih penting dari itu, apa yang Jeanelle alami atau impikan itu sebuah kenyataan atau hanya mimpi semata? Semua terlalu nyata kalau disebut sebagai mimpi.
Jeanelle bangkit dari tidurnya, ia memegang lehernya dan merasa kalau tenggorokannya agak kering.
"Minum lah." seseorang memberikan segelas air pada Jeanelle, Jeanelle sontak mendongak menatap pria itu.
Seketika tatapan bingung Jeanelle berubah menjadi tatapan sinis.
"Apa-apaan tatapan mu itu? Hey aku ini penyelamat mu loh." kata Yuristhi yang justru membuat Jeanelle menatapnya tak percaya, Yuristhi berdecak. "Minumlah, tangan ku pegal."
Jeanelle secara perlahan mengambil gelas itu, tangannya benar-benar lemas dan gemetar. Kalau begini cangkirnya akan jatuh--
Hampir saja cangkir itu jatuh, namun dengan sigap Yuristhi menangkapnya. Yuristhi mendudukan diri disamping Jeanelle, tangan kirinya merangkul pundak Jeanelle dan tangan kanannya memegang gelas.
"Aku akan membantu mu." Jeanelle hanya menurut, ia juga terlalu lemas untuk sekedar membantah.
Setelah selesai minum Jeanelle kembali menatap Yuristhi. "Aku lapar."
Yuristhi bangkit dari duduknya. "Aku akan memanggil pelayan." setelah itu Yuristhi pergi dari kamar Jeanelle meninggalkan Jeanelle seorang diri.
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
"Sudah ku bilang ingatannya berantakan." kata Yuristhi sembari menyandang punggungnya disandaran sofa.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?" tanya Baila bingung, ia takut Jeanelle akan membenci mereka lagi.
"Kalian tidak akan bisa melakukan apapun. Ini sudah takdir, mungkin sesekali Jeanelle akan mengalami rasa sakit dan perlahan ingatannya mungkin akan stabil."
Suasana kembali hening, tidak ada yang menggubris ucapan Yuristhi.
"Apa tidak ada cara lain untuk membuatnya tidak sakit?" tanya Kai.
"Aku bisa saja menghapus ingatannya, namun kalau kalian gagal lagi dalam situasi ini mungkin saja kita akan kembali mengulang waktu."
"Kau kan penyihir hebat, apa kau tidak bisa membuat kita berhenti untuk mengulang waktu?" tanya Terry.
"Kau pikir aku tidak ingin berhenti? Aku sudah lelah. Bukan aku yang memutar ulang waktu." Yuristhi menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan penuh rasa frustasi.
Yuristhi lelah terus menerus melihat penderitaan yang sama.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?" tanya Baila bingung. Ini semua adalah kutukan.
"Tidak ada cara lain, kita harus mencari penyelesaian utama kenapa kita semua bisa mengulang waktu." ucap Kai yang ada benarnya.
Sebenarnya tidak masalah jika mereka terus mengulang waktu, tapi permasalahannya setiap mereka mengulang waktu akhir yang buruk untuk Jeanelle selalu saja terjadi seolah-olah Dewa memang tidak mengizinkan Jeanelle untuk bahagia.
"Apa semua ini ada hubungannya dengan Jeanelle?" tanya Baila tiba-tiba.
"Mungkin saja, hanya dia satu-satunya orang yang tidak memiliki ingatan sebelum mengulang waktu." ujar Terry yang kini tangannya bergerak menuliskan sesuatu di kertas.
"Aku akan menyelidiki nya." ujar Yuristhi yang langsung bangkit dari duduknya.
"Mau kemana kau?" tanya Kai.
Yuristhi tersenyum mencurigakan. "Mau bertemu Jeanelle." katanya yang langsung menghilang.
"Bocah itu?!" kesal Kai, ia berniat untuk menyusul Yuristhi. Enak saja dia mau mengganggu adiknya yang manis.
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
"Apa? Aku tertidur selama 50 hari?" ucap Jeanelle terkejut. Pantas saja seluruh tubuhnya terasa sakit.
"Kata orang-orang yang berjaga didepan kamar mu, setiap malam selalu terdengar suara ribut." kata Jeremy sembari menyuapi Jeanelle makan. Rena sendiri memilih untuk pergi ke dapur menyiapkan cemilan untuk Jeanelle.
Jeanelle terdiam dengan tatapan heran. Memangnya ia kesurupan setiap malam? Tapi sebenarnya Jeanelle ingat apa yang terjadi setiap malam, awalnya Jeanelle pikir semua itu hanya mimpi tapi ternyata semua itu adalah kenyataan.
Bagaimana bisa semua itu terjadi? Apa Jeanelle yang asli berusaha mengambil alih tubuh ini?
'Tunggu! Jeanelle yang asli?'
Nyut... Jeanelle spontan memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Sama?"
"Kenapa kau selalu menganggap jika dirimu itu palsu? Kita sama, jiwa kita sama yang berbeda hanyalah waktu."
"Tuan Putri? Apa yang terjadi?" Rena datang dengan terpogoh-pogoh, wajahnya terlihat sangat khawatir. Ia menyuruh Jeremy untuk minggir dan Rena mendudukkan diri disamping Jeanelle.
"Rena?" gumam Jeanelle sembari menatap Rena. Kematian Rena yang ada di mimpi Jeanelle terlihat begitu menyakitkan.
"Putri, saya disini jangan khawatir." Rena tersenyum lembut sambil memegang kedua tangan Jeanelle dengan erat.
"RENA!"
"Ku mohon jangan begini Rena!" ucap Louis sembari memeluk tubuh Rena yang kini sudah berubah menjadi dingin, wajah Rena pucat namun bibirnya masih menyunggingkan sebuah senyuman.
"L-Louis... Jangan menangis..." Rena dengan susah payah berusaha menggapai wajah Louis yang terus saja meneteskan air mata.
"Rena, kenapa kau melakukan ini? Kau tau kalau aku begitu mencintaimu."
"Louis... Sama seperti aku mencintaimu aku juga mencintai Tuan Putri," suara Rena terdengar gemetar. "Karena itu aku sebisa mungkin melindungi kalian."
Louis menangis, ia tidak bisa menjawab ucapan Rena.
PLAK. Jeanelle menepis tangan Rena dan ia bergerak mundur. Wajahnya terlihat begitu gusar dan ketakutan.
Kematian Rena yang sekarang terlihat berbeda dengan kematian yang ada di mimpinya. Kenapa bisa seperti ini?
"Tuan Putri? Anda kenapa?" Rena terlihat begitu khawatir, ia bahkan sudah menangis sekarang.
"Hey, apa kau baik-baik saja?" tanya Hyun tak kalah khawatir.
'Hyun juga akan mati?! Semua yang berada didekat ku akan mati?!'
Tidak, mana mungkin Jeanelle membiarkan mereka mati secara tragis seperti itu?
Tidak, itu tidak boleh terjadi. Jeanelle tidak boleh kehilangan mereka.
"Bukankah aku sudah bilang? Yang berbeda itu adalah waktu."
Sialan, ingatan itu... Benar-benar sangat menganggu.
Jeanelle terdiam, ia menoleh dan menatap Jeremy. "Jeremy, berikan tangan mu." Jeanelle menyodorkan tangan kirinya.
"Apa?" Jeremy terlihat bingung.
"Cepatlah."
Jeremy pun akhirnya menurut, ia memberikan tangannya dan menggenggam tangan Jeanelle.
Jeremy menatap kearah langit yang berwarna jingga, asap-asap berkerumun, api berada dimana-mana, rumah-rumah hancur dan mayat-mayat yang terbaring di segala penjuru arah.
Tatapan Jeremy terlihat kosong, Jeremy adalah satu-satunya yang selamat dari insiden penyelamatan Jeanelle. Jeanelle sudah tewas, tidak ada lagi orang yang ada di hidupnya. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang?
Jeremy menatap kearah pria berjubah hitam yang berdiri tak jauh darinya, para monster yang memberontak dan sosok-sosok aneh yang menyerang penduduk. Tidak ada manusia yang hidup disini. Kekaisaran Zetta sudah hancur.
"Kau masih hidup?" kata pria itu yang entah sejak kapan sudah berada dibelakang Jeremy.
"Ya, Tuan Putri menyuruh ku untuk tetap hidup."
"Begitu? Kau penurut ya, dia juga menyuruh ku begitu. Tapi aku tidak tahan dengan rasa kesepian ini hingga akhirnya aku memilih untuk menghancurkan Kekaisaran. Bagaimana menurut mu?"
"Tolong, bunuh saja aku."
"Jahatnya, kalau kau mati aku sendirian. Aku tidak bisa mati tau." suaranya terdengar putus asa, bahkan lebih putus asa dari Jeremy.
"Yuristhi, tolong--"
"Tuan Putri! Mata mu." Rena menutup mulutnya terkejut. Ia buru-buru mengambil handuk untuk menutupi kedua mata Jeanelle.
"Kenapa mata mu mengeluarkan darah?" kata Jeremy terkejut. Ia pun melepas pegangannya dan menangkup wajah Jeanelle.
Jeanelle terdiam, ia tidak menjawab apapun. Kepalanya terasa pening dan ia merasa kalau Manna nya terkuras habis.
'Apa yang ku lihat tadi? Kenapa Yuristhi menghancurkan Kekaisaran?'
"Hey, jangan lupa yang berbeda dari kita semua hanyalah waktu."
...κ§-`π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆΒ΄-κ§...