IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Setelah Debutante



...꧁-`π™·π™°π™Ώπ™Ώπšˆ πšπ™΄π™°π™³π™Έπ™½π™ΆΒ΄-κ§‚...


...β—Ό...


...β—Ό...


...β—Ό...


"Mulai sekarang kau yang akan mengurus wilayah Mansion mu, jika kami membutuhkan bantuan mu maka kau harus ikut rapat, kalau kau mau kau juga bisa membentuk pasukan Kesatria mu sendiri." Jelas Kai sembari memberikan beberapa dokumen pada Jeanelle.


Saat ini di ruang kerja Kai sudah ada Baila dan Terry, Jeanelle juga berada disini sejak pagi-pagi buta. Karena Jeanelle sudah melakukan debutante jadi Jeanelle sudah dianggap dewasa dan bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang Tuan Putri.


Selain pendidikan yang begitu penting Jeanelle juga harus bisa mengatur Mansion nya sendiri, jika diperlukan ia harus menghadiri rapat para bangsawan, mengikuti beberapa acara sosial dan mengikuti beberapa undangan yang memang harus ia ikuti.


Bisa dibilang ini juga bentuk kelas penerus, jika keluarga Kekaisaran yang sudah dewasa tidak mendapatkan tahta Kaisar maka keluarga Kekaisaran yang tersisa bisa saja diberikan sebuah wilayah untuk dipimpin. Namun kalau mereka memang tidak mau dan memilih hidup bebas itupun tak masalah.


Mungkin Jeanelle nantinya akan memilih hidup bebas, tentu saja setelah semua ini usai.


"Lalu tentang pengawal pribadi mu." kata Terry yang membuat Jeanelle keluar dari pemikirannya.


"Tanpa diberitahu sepertinya Pangeran sudah tau. Kalian juga bukan yang mengirim undangan untuk mereka." Jeanelle tersenyum.


"Benar, tapi mereka sedang dalam masa pelatihan setidaknya selama 1 bulan ini."


"Kalau begitu saya tak perlu pengawal pribadi selama sebulan, saya juga tidak berniat untuk pergi kemanapun."


"Walaupun begitu keselamatan mu tetap nomor satu." ujar Baila lembut.


"Jangan khawatir Yang Mulia, saya akan baik-baik saja."


Mereka bertiga saling berpandangan dan kemudian mengangguk paham, sepertinya mereka juga harus mengubah rencana.


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


...-`π™³πš„π™° π™Όπ™Έπ™½π™Άπ™Άπš„ π™Ίπ™΄π™Όπš„π™³π™Έπ™°π™½Β΄-...


Jeanelle yang saat ini berada di ruangannya mendadak terdiam bingung sembari menatap dua orang pemuda yang sangat ia kenal. Tangannya yang tadi bergerak menulis sesuatu disebuah kertas sampai mendadak terhenti.


"Bukankah pelatihan kalian seharusnya 1 bulan? Ini baru dua minggu sejak pesta debutante ku selesai." kata Jeanelle sambil meletakkan pena bulu miliknya.


Wajah Jeremy dan Hyun terlihat lesuh namun juga terlihat lega disaat yang bersamaan.


"Kami menjalani hari-hari yang cukup indah untuk bisa lulus dengan cepat." kata Jeremy saat mengingat jika dirinya dilatih langsung oleh Putra Mahkota, apalagi sepertinya Putra Mahkota mendidiknya dengan sangat kejam dan ekstrim.


Apa Jeremy bisa bilang semua pelatih yang ia lakukan adalah pelatih neraka? Jeremy bahkan yakin kalau Putra Mahkota memiliki dendam tersendiri untuk dirinya.


'Sebenarnya apa kesalahan ku?' batin Jeremy meringis.


"Ku dengar Hyun adalah pengendali spirit, itu benar-benar diluar dugaan ku." Jeanelle menautkan jari-jemarinya dan menatap Hyun dengan tatapan kagum. Ia tidak pernah menyangka kalau Hyun adalah pengendali spirit.


Dengan malu-malu Hyun menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal dan tersenyum canggung. "Aku juga terkejut saat mengetahuinya, tapi siapa sangka kalau Pangeran sendiri yang menemukan bakat tersembunyi ku."


Tapi yang membuat Jeanelle terkejut adalah fakta kalau Terry sendiri yang membantu Hyun untuk memanggil spirit tingkat tinggi. Apa di umurnya yang segitu Terry memang sudah bisa memanggil spirit?


Yang Jeanelle ingat, kalau sesuai dengan alur cerita Terry baru bisa memanggil spirit saat usianya menginjak 20 tahun. Sejak awal alur cerita komik itu memang sudah kacau parah, Jeanelle memang tidak begitu terkejut lagi. Cepat atau lambat pasti akan ada kejutan lain yang mendatanginya.


Bukan itu yang seharusnya Jeanelle pikirkan, sebentar lagi musim dingin. Kalau menurut cerita tahun ini adalah musim dingin terburuk yang pernah ada.


Para monster yang berada hutan Skota akan mengalami musim kawin, itu memang hal yang lumrah tapi masalahnya kali ini para monster akan berkembang biak sangat banyak dan mengamuk, mereka bahkan sampai memasuki wilayah dan ibu kota. Terjadi kekacauan yang cukup luar biasa.


Banyak korban jiwa yang berjatuhan, terlebih Kaisar yang tidak berguna tidak melakukan apapun, ia hanya menyuruh Terry dan Kai untuk membasmi seluruh monster yang masuk. Namun ada suatu adegan dimana para monster akan masuk ke Istana, lalu korban yang tewas dalam kejadian itu adalah Selir Rose.


Jeanelle tidak begitu peduli sih, tapi sekarang Jeanelle berada didalam istana. Walaupun Jeanelle bisa melindungi dirinya sendiri, akan lebih baik jika kejadian itu tidak terjadi.


'Haruskah aku membuat pasukan?'


Ketiga bintang kekaisaran, Kaisar, Permaisuri bahkan sampai Selir kesayangan Kaisar memiliki pasukan yang setianya sendiri. Hanya Jeanelle yang tidak memiliki pasukan Kesatria.


Walaupun Jeanelle membuatnya memangnya siapa yang mau masuk ke pasukan ini?


Belum lagi Jeanelle harus menambah pelayan karena Mansion Dandelion sangat luas dan sudah lama dibiarkan kosong, banyak juga ruangan-ruangan kosong yang butuh perawatan, kebun di Mansion ini juga masih terbengkalai, belum lagi rumah kacanya.


'Aku juga harus membuat undangan dan mendatangi beberapa acara.'


Jeanelle melirik kearah tumpukan surat-surat yang menggunung, sejak Debutante nya terjadi banyak sekali para bangsawan yang mengundangnya untuk sekedar minum teh pribadi ataupun pertemuan sosial.


Tugas dari Louis juga terus menumpuk, jadwal belajarnya memang berkurang tapi pelajaran memanah, sihir, ekonomi dan politik masih harus ada dalam jadwal karena dianggap sebagai pelajaran yang sangat penting.


"Sial, aku sibuk sekali... Aku bahkan tidak punya waktu untuk beristirahat." rengek Jeanelle yang langsung menidurkan kepalanya diatas meja. Kalau begini bukankah namanya membunuh secara perlahan?


Kalau ada kamera Jeanelle mau melambaikan tangan, ia menyerah.


"Ternyata bukan hanya kita yang kesulitan." ucap Jeremy sembari menyikut lengan Hyun pelan.


"Apa selama ini kau pernah melihat ku bersantai-santai?" kata Jeanelle agak sinis. Lebih baik Jeanelle mengerjakan pekerjaan dayang daripada harus mengerjakan pekerjaan Tuan Putri.


Tok... Tok... Suara pintu yang diketuk membuat atensi mereka teralihkan. Jeanelle mendongak dan dengan agak malas ia menjawab sahutan itu, tak lama seorang wanita cantik memasuki ruangannya.


"Tuan Putri anda mendapatkan undangan dari Selir Rose." ujar Rena sembari meletakan sepucuk surat diatas meja kerja Jeanelle.


"Beliau bilang kalau Tuan Putri tidak sibuk, sore ini beliau ingin minum teh bersama anda di Mansion Rose." lanjutnua yang mampu membuat Jeanelle agak tercengang.


"Sepertinya undangan ini harus diutamakan. Katakan padanya kalau aku akan datang sore ini." kata Jeanelle yang membuat Rena tersenyum dan membungkuk hormat.


"Akan segera saya sampaikan Putri." setelah mengucapkan perkataan itu Rena langsung pamit undur diri dan kembali melakukan perintah Jeanelle.


Padahal Rose terlihat tidak begitu tertarik dengan Jeanelle, tapi kenapa dia mengundang Jeanelle untuk minum teh dadakan?


Ya Jeanelle akan tahu juga nantinya.


...꧁-`π™±π™΄πšπš‚π™°π™Όπ™±πš„π™½π™ΆΒ΄-κ§‚...