IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Pergi Berburu Monster



...꧁-`π™·π™°π™Ώπ™Ώπšˆ πšπ™΄π™°π™³π™Έπ™½π™ΆΒ΄-κ§‚...


...β—Ό...


...β—Ό...


...β—Ό...


"Tuan Putri." Rena menangis sembari memeluk Jeanelle dengan erat. Tuan Putri yang telah ia urus sejak usia 5 tahun kini dipaksa untuk pergi ke perburuan monster.


Jeanelle membalas pelukan Rena dengan cukup erat. "Rena jangan khawatir aku pasti akan segera kembali. Setelah aku kembali nanti masakkan aku udang ya." Jeanelle terkekeh kecil.


"Kalau Putri ingin makan udang, Putri harus kembali dengan selamat." Wanita berusia 25 tahun itu melepaskan pelukannya dan memasangkan sebuah pin dengan bentuk bunga lavender. "Saya harap pin ini bisa menjadi berkat untuk anda."


Jeanelle terdiam, ia tidak mengucapkan perkataan apapun. "Kau ingat pesan ku kan?"


"Iya, Tuan Putri."


"Bagus. Kalau begitu aku pergi dulu." Jeanelle berbalik dan keluar dari Mansion itu.


Hari menjelang malam dan salju turun cukup deras namun hari ini Jeanelle harus pergi untuk melaksanakan perintah Kaisar sialan itu.


Jeanelle sudah berpakaian rapih khas seorang kesatria. Celana rok berwarna putih biru, kemeja lengan panjang, sarung tangan, jubah biru dan sepatu boots berwarna senada.



Tangan kirinya memegang sebuah busur panah, dipinggangnya tersampir sebuah belati dan beberapa potion buatan Regina. Sepertinya itu adalah potion penyembuh.


Dibelakang Jeanelle juga sudah ada Hyun, Jeremy dan Suno yang sudah memakai pakaian kesatria mereka.


"Semua perlengkapan sudah siap Tuan Putri." kata Hyun melaporkan.


"Bagus. Kita berangkat sekarang." Jeanelle berjalan keluar gerbang yang dimana disana sudah ada Diego dengan beberapa kesatria.


"Bagaimana dengan persiapannya Tuan Duke?" tanya Jeanelle sembari menatap sekelilingnya. "Hanya segini?"


"Iya, 20 di antaranya adalah Kesatria milik saya. Baginda hanya bisa meminjamkan 60 kesatria Kekaisaran dengan alasan Kesatria lainnya mengikuti Pangeran dan Putra Mahkota." jelas Diego. "Saya juga sudah memilih Kesatria yang sesuai dengan yang Tuan Putri katakan, tapi sepertinya masih banyak yang kurang. Bagaimanapun juga Baginda lah yang memilih mereka."


Kalau begitu jika di totalkan Kesatria yang ikut hanya 80 orang kan? Kalau ditambah Suno, Diego, Hyun, Jeremy dan dirinya jadi 85 orang?


"Wah Baginda merencanakan pembunuhan secara terang-terangan ya, Kaisar b*ngs*t itu..." Jeanelle jadi geram sendiri.


"Putri ucapan anda terlalu keras." kata Suno memperingati. Masa bodo deh, Jeanelle juga yakin kalau salah satu diantara mereka ada yang menjadi matanya Evan.


Sudah begitu Kaisar malah memilih orang-orang kentang yang lemah yang sepertinya hanya memakan gaji buta. Lihat ekspresi malas-malasan, ketakutan dan lemah mereka.


'Sialan! Belum apa-apa aku sudah stress duluan.' keluh Jeanelle, ia memijat keningnya yang tiba-tiba saja terasa pening.


"Tuan Putri anda sudah siap?" tanya Louis. Louis tidak ikut hanya saja ia yang bertugas untuk membuka portal teleportasi ke hutan Skota. Hutan yang akan menjadi tujuan utama mereka sekarang.


"Ya."


"Tuan Putri jangan lupa titipan saya."


"Iya! Dasar kau-- Ah, sudahlah." Jeanelle bahkan tidak punya tenaga lagi untuk berkata kasar.


"Saya harap anda bisa kembali dengan selamat." setelah itu Louis mengucapkan sebuah mantra, sebuah lingkaran sihir muncul dibawah kaki mereka semua, lingkaran sihir yang memiliki sinar menyilaukan itu perlahan-lahan meredup dan menghilang bersama hembusan angin.


Jeanelle dan pasukannya berpindah tempat, mereka sampai ke hutan Skota. Untuk saat ini mereka harus mengamati kondisi sekitar sebelum akhirnya pergi bertarung.


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...



Hutan Skota adalah hutan tempat para monster berada yang terletak di perbatasan antara wilayah barat dan Ibu Kota. Hutan terlarang yang tidak boleh dilewati oleh siapapun, bahkan saat perburuan seperti ini hanya orang-orang yang dikirim untuk berburu saja yang boleh memasuki hutan penuh monster ini.


Kalau dari Ibu Kota menuju hutan Skota membutuhkan waktu 3 hari perjalanan, tapi karena mereka menggunakan sihir teleportasi, mereka bisa sampai dalam sekejap mata.


Untuk saat ini mereka akan mengamati keadaan sekitar sambil berkemah, mereka tidak membangun tenda atau semacamnya. Mereka hanya akan berdiam diri di bagian hutan yang menurut mereka cukup aman dan jarang dilalui oleh monster, seperti sekarang ini.


"Aku sudah menduga kalau Baginda akan mengirim sedikit orang, tapi aku tidak menyangka kalau orang-orangnya benar-benar sangat sedikit." kata Suno yang membuat Jeanelle yang tengah duduk di akar pohon menghela nafas.


Biasanya kalau melakukan perburuan minimal mengirim 100 orang tapi ini hanya 80 orang dan ditambah sepertinya hanya sedikit dari mereka yang berguna.


"Jangan khawatir Tuan Putri, kita pasti bisa mengatasinya." kata Diego menenangkan. "Saya pasti akan melindungi anda."


Jeanelle melirik kearah Diego yang wajahnya masih memasang ekspresi datar. "Aku tidak butuh dilindungi, aku bisa melindungi diri ku sendiri." kata Jeanelle.


"Bagaimana pun juga kita harus mengubah strategi." kata Suno yang di setujui oleh Jeanelle.


"Apa anda punya rencana?" tanya Diego.


"Ya, aku sudah memperkirakan hal ini karena itu aku sudah mempersiapkan rencana cadangan."


"Rencana cadangan?"


"Begini, Suno kau pilih 20 orang kesatria dan berkumpul lah di bawah gunung. Berjaga-jaga jika para monster keluar dari hutan ini." kata Jeanelle yang disetujui oleh Suno.


Pada dasarnya hutan Skota ini berada di dataran tinggi yang bentuknya seperti pegunungan. Jadi kalau para monster turun sudah pasti Suno dan yang lainnya bisa mencegah atau setidaknya menghambat mereka.


"Hyun, kau pimpin beberapa kesatria yang bisa menggunakan panah. Kalian harus bersembunyi dan membunuh para monster secara diam-diam, tapi prioritaskan monster-monster yang bisa terbang."


"Baik."


"Bagaimana Tuan Putri bisa begitu yakin dengan kedatangan monster yang bisa terbang? Monster yang bisa terbang itu tidak ada." kata Diego.


"Tuan Duke, kita tidak boleh meremehkan telinga dan mata orang-orang yang suka bergosip." ujar Jeanelle serius yang seketika membuat Diego terdiam. "Lalu..." Jeanelle menatap para Kesatria yang juga tengah menatapnya.


Jeanelle kemudian menunjuk 10 orang kesatria yang terlihat lemah dan tidak berguna.


"Ya Tuan Putri?" ucap salah seorang Kesatria yang telah Jeanelle pilih.


"Kalian bersembunyi dan tidak perlu bertarung."


"Apa?!" tentu saja ucapan Jeanelle membuat mereka semua terkejut.


"Kalian nantinya akan bertugas untuk mengumpulkan bangkai serta inti monster lalu membawanya Kekaisaran, lagipula kalian terlihat belum terlatih dan akan langsung mati kalau bertarung dengan monster." sinis Jeanelle yang entah kenapa membuat mereka tertohok. Itu benar.


"Ya, jangan khawatir. Setelah pulang dari sini Jeremy akan memberikan kalian pelatihan."


"Apa? Kenapa aku?" Jeremy menunjuk dirinya sendiri dengan heran.


"Sisanya akan bertarung bersama ku dan Diego." jelas Jeanelle yang seketika membuat mereka bersorak penuh semangat.


"Apa rencana ini akan berhasil? Bukankah ini hanya strategi dasar?" tanya Diego.


"Ya, mau sehebat apapun strategi kita kalau Kesatrianya saja tidak memiliki semangat hidup maka semua akan sia-sia. Ini bukan tentang melindungi pemimpin saja tapi ini adalah tentang melindungi diri sendiri dan melindungi Kekaisaran." ucap Hyun yang sepertinya bisa membaca pikiran Jeanelle.


"Kau benar, tapi setidaknya aku sudah sedikit mengantisipasi hal ini." Surat yang dikirimkan untuk Count Elmanuel dan Marquez Green, Jeanelle yakin kalau mereka pasti akan memperketat keamanan Ibu Kota.


Ditambah lagi dengan Regina, Zin dan Zen yang sudah bersiap sekarang. Untuk Istana, Baila dan Cece juga sudah cukup. Benar, Jeanelle meninggalkan Ceberus disana dan kalau gurunya punya hati maka ia akan membantu murid satu-satunya ini.


Ya Jeanelle tidak berharap juga sih.


"Ayo, kita mulai perangnya." Jeanelle menyeringai.


'Aku tidak akan mati semudah itu.'


...꧁-`π™±π™΄πšπš‚π™°π™Όπ™±πš„π™½π™ΆΒ΄-κ§‚...