IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Kondisi Di Luar Hutan Skota



...꧁-`π™·π™°π™Ώπ™Ώπšˆ πšπ™΄π™°π™³π™Έπ™½π™ΆΒ΄-κ§‚...


...β—Ό...


...β—Ό...


...β—Ό...


Baila berlari di lorong Mansion Rose ia mencari-cari dimana keberadaan Selir Rose, hingga akhirnya ia menemukan sebuah ruangan dengan pintu bercat putih dan berukiran rumit.


Baila menggedor-gedor pintu kayu itu. "Selir Rose... Selir Rose..." panggil Baila yang tangannya terus menggedor pintu kayu tersebut. Kemana para dayang dan Kesatria di Mansion ini?


Tak lama kemudian pintu terbuka menampilkan seorang wanita cantik yang surainya acak-acakan, suara khas orang baru bangun tidur terdengar ditelinganya.


"Ada apa Putri Mahkota? Kenapa di jam segini anda--" ucapannya terhenti Baila dengan paksa menarik tangan Rose, Rose yang diperlakukan seperti itu jelas kebingungan.


"Saya akan menjelaskannya nanti, sekarang saya harus melindungi anda. Kita ke Mansion Dandelion, disana tempat yang aman untuk anda." kata Baila dengan langkah yang terburu-buru ia berjalan keluar Mansion.


"Mansion Dandelion? Apa-- Astaga?!" Rose menutup mulutnya saat melihat beberapa ekor burung besar melintas diatas langit yang sudah mulai terang.


Beberapa dari monster tersebut terjatuh dan dibunuh oleh Kesatria, pekikannya sangat nyaring dan memekakkan telinga.


"Itu adalah monster, sangking banyaknya beberapa dari monster itu memasuki Ibukota. Untungnya hanya monster yang bisa terbang saja yang melewati Ibukota. Pasukan dari Marquez Green dan Count Elmanuel sedang membasmi mereka, jumlahnya tidak banyak tapi karena ukuran yang besar itu membuat mereka hampir kewalahan." jelas Baila yang hanya bisa membuat Rose terdiam.


"Tuan Putri meminta saya untuk mengamankan anda di Mansion Dandelion, disana ada Rena."


"Jeanelle?" gumam Rose agak terkejut.


"KAAKKK..." Baila menoleh kebelakang dan melihat sosok monster besar tersebut yang sepertinya jatuh kedalam Istana sosok itu berlari menuju Baila.


Baila dengan sigap menggerakkan tangannya membuat rumput-rumput yang mereka pijaki mendadak ikut memanjang dan berujung lancip, rumput itu menghunus tubuh monster tersebut dan seketika monster itu tewas.


'Jumlah monster yang menyerang lebih sedikit dari yang ku ingat, itu berarti Jeanelle dan yang lainnya mati-matian menahan mereka disana.' batin Baila yang entah kenapa dadanya menjadi sesak. Ia sudah menghubungi kakak-kakaknya untuk kembali dengan cepat tapi entah kenapa belum ada kabar sampai sekarang.


'Kakak, cepatlah kembali.'


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


Ceberus itu menggeram dan kemudian melompat mengoyak tubuh monster itu dengan taringnya, Louis yang agak terkejut melihatnya langsung memundurkan langkah dan ia kemudian menggerakkan tangannya membuat sebuah lingkaran sihir yang menyemburkan api untuk membakar makhluk-makhluk dihadapannya.


Padahal Louis ingin sekali mengambil bangkai mereka tapi Louis malah membakarnya habis, tidak masalah Louis bisa menunggu Jeanelle.


"Tuan Penyihir?" ucap Rena yang tiba-tiba berada disamping Louis. Louis menoleh dan menatap perempuan cantik yang usianya lebih tua darinya.


Alasan Louis ada di Mansion ini sebenarnya adalah karena Rena, Louis menyukai perempuan itu karena suatu hal dan Louis ingin menjaganya sekarang. Tapi Louis tak menyangka kalau Jeanelle lebih dulu mengirim Ceberus untuk berada disisi Rena.


Bagus sih jika Jeanelle begitu menyayangi Rena.


"Apa anda baik-baik saja?" tanya Rena yang terlihat khawatir.


"Ya, tentu. Cece membantu saya, anjing ini sangat terlatih ternyata." kata Louis sembari mengelus kepala Ceberus itu.


"Tentu saja, ini peliharaan Tuan Putri. Saya yang pertama kali mengetahuinya dan Tuan Putri begitu senang bermain dengan Cece." kata Rena sambil tersenyum hampa. Ia jadi memikirkan gadis kecil itu, saat ini Jeanelle pasti sedang berjuang mati-matian untuk menyelamatkan Kekaisaran. Rena benar-benar membenci Kaisar Evan.


"Jangan khawatir, saya tidak tau apa yang nyonya pikirkan tapi Tuan Putri pasti akan baik-baik saja."


"Saya tau, Tuan Putri adalah orang yang selalu menepati janjinya." walaupun begitu Rena tetap khawatir.


Louis melihat keatas dimana ia bisa melihat adanya perisai pelindung yang melindungi Istana Kaisar dan Mansion tempat permaisuri Elizabeth berada. Haa... Louis juga sangat membenci Kaisar Evan.


Tatapan Louis menajam, ia terlihat sangat kesal. Louis mengangkat tangannya keatas ia membuat sebuah perisai yang melindungi Mansion Dandelion.


"Louis!" panggil Baila yang baru saja sampai di tempat itu.


"Putri Mahkota? Selir Rose?" ucap Rena terkejut.


"Rena, untunglah kau baik-baik saja." Rose terlihat cukup lega.


"Kau membuat perisai pelindung?" tanya Baila.


"Saya hanya akan melindungi Mansion Dandelion saja, saya tidak berniat untuk melindungi Mansion lain." jelas Louis dengan tegas. Baila tersenyum, perkataan Jeanelle benar.


"Tidak masalah, sisa Mansion lainnya sudah saya lindungi." Baila menatap kearah Mansion Rose, Mansion Putra Mahkota, Mansion Pangeran dan Mansion dirinya."


"Iya, saya mendapatkannya dari Jeanelle."


"Apa dia mencurinya dari saya?"


"Apa? Mana mungkin." elak Baila, tidak mungkin adik bungsunya yang manis itu mencuri.


Itu benar, secara teknis Jeanelle mencuri Artefak yang berserakan diruang kerja Louis dan secara harfiah itu adalah kesalahan Louis yang menaruh artefak secara sembarangan.


Di Sisi Lain...


"Hachoo..." Jeanelle mendadak bersin-bersin.


"Jeje kau tidak boleh mati sekarang!" kata Hyun dengan panik.


"Aku tidak mati, aku hanya bersin! Bagaimana bersin bisa menyebabkan orang mati?" protes Jeanelle yang tangannya terus bergerak memanah para monster yang semakin lama semakin banyak.


"Itu bisa, tapi kenapa kau bersin?" sahut Jeremy yang terus menebas para monster yang berani mendekatinya.


"Memangnya kalau bersin harus ada alasan? Dan juga sepertinya ada yang membicarakan ku!" ucapnya tiba-tiba serius.


"Tidak ada yang mau membicarakan mu."


"Itu benar, kecuali Louis yang ingin kau cepat-cepat membawakan pesanannya."


"Ah, kalian ini!"


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


"Ini memang di luar perkiraan ku, aku tidak menyangka kalau ada monster yang bisa terbang." ucap Evan sembari menatap para monster yang berterbangan.


"Jumlahnya sangat sedikit Baginda, saya yakin kalau Tuan Putri dan Tuan Duke berusaha untuk menahan mereka." ucap pria tua berseragam putih itu.


"Benar sekali Pendeta Agung, kalau begini gadis lemah itu mungkin akan mati." Elizabeth menyeringai senang.


"Walaupun begitu, jalankan rencana kedua. Buka portalnya." perintah Evan dengan seringai licik yang terpantri diwajahnya.


"Sesuai perintah Baginda." Pendeta itu membungkuk hormat dan kemudian pergi dari hadapan Evan.


Evan tidak peduli dengan yang lainnya selain dirinya sendiri, bagaimanapun juga ancaman itu harus segera dihilangkan. Sesuatu yang mengancam dirinya sekecil apapun tidak boleh dibiarkan hidup.


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


Terry dan Kai memacu kudanya dengan sangat cepat, ia tidak peduli dengan apapun selain adik-adiknya yang sedang dalam bahaya.


Mereka mendapatkan surat dari Baila yang memberitahukan kalau Jeanelle harus ikut bertarung melawan para monster bersama Duke dari wilayah barat.


Terry mengertakkan giginya dengan marah, harusnya Terry sudah menduga hal ini. 'Sial! Sial! Sial!' umpat Terry dalam hati. Kaisar sialan itu ingin sekali Terry membunuhnya sekarang.


"Tenanglah Kak." ucap Kai yang kini tengah menyamakan langkah kudanya dengan langkah kuda milik Terry.


"Bagaimana aku bisa tenang?! Adik-adik kita dalam bahaya!" sentak Terry kesal. "Haruskah kita melakukan pemberontakan sekarang?!"


"Belum, Belum saatnya. Jangan sampai kesalahan dimasa lalu terulang lagi. Kali ini kita harus mempersiapkannya dengan sangat rapih." ujar Kai dengan ekspresi wajah yang tenang, namun dalam hati Kai sudah mengeluarkan sejuta sumpah serapah untuk Evan.


Kai juga ingin melakukan pemberontakan sekarang, tapi selain karena umurnya yang belum memungkinkan, Kai juga tidak ingin mengulangi sejarah dimasa lalu.


Sia-sia dirinya memutar waktu jika sejarah masa lalu terus berulang.


'Kami harus bersabar sedikit lagi, kalian juga bertahan lah.'


Mereka berdua tau kalau sekarang adalah perburuan terburuk di musim dingin ini.


...꧁-`π™±π™΄πšπš‚π™°π™Όπ™±πš„π™½π™ΆΒ΄-κ§‚...



(Selir Rose)



(Rena Monata)