
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆΒ΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
"Sudah ku duga, monsternya tidak punah." kata Jeanelle sembari mendudukkan diri di bebatuan yang cukup besar.
Jeanelle menatap sekelilingnya yang menampilkan pepohonan lebat, hari masih siang jadi para monster tidak akan menyerang sekarang, walaupun tadi ada beberapa monster yang menyerangnya.
Jeanelle mengingat-ingat dimana ledakan itu terjadi, kalau tidak salah ada didekat sini atau mungkin sedikit lebih jauh dari sini. Ini hanya sebuah dugaan tapi mungkin alasan ingatan Jeanelle bercampur itu karena ledakan Manna tersebut.
Tapi apa ada kaitannya antara ledakan Manna dengan memutar waktu? Tidak, mungkin kaitannya ada pada Koroido Hole. Walaupun Jeanelle hanya menduga-duga.
"Dimana tempat Tuan Putri meledakan Manna?" tanya Louis tiba-tiba.
Jeanelle bangkit dari duduknya dan berjalan beberapa langkah kedepan. "Aku tidak ingat pasti, tapi sepertinya ada disekitar sini, eh?"
Jeanelle agak tertegun, ia menyerit bingung. Apa saat itu juga ada goa besar seperti ini? Jeanelle memang tidak begitu ingat.
"Goa apa ini? Aku tidak ingat ada goa besar ini." Jeremy berjalan mendekat dan memegang bebatuan yang membentuk goa tersebut.
"Ayo kita lihat, mungkin ada sesuatu didalam sini."
Louis merotasikan kedua bola matanya dengan malas. "Bagaimana kalau didalam sana ada monster?"
"Ya tinggal dibunuh." ucapnya cuek sembari berjalan memasuki goa tersebut. Didalamnya benar-benar gelap. Kalau bukan karena sihir yang Louis berikan Jeanelle dan Jeremy tidak akan bisa melihat apapun disini.
Goa besar yang hanya ada bebatuan didalamnya, samar-samar Jeanelle bisa melihat ada bekas gosong karena terbakar dan beberapa tubuh monster semut yang sudah hancur berkeping-keping.
Walaupun ini hanya sebuah kemungkinan tapi sepertinya monster semut itu mati akibat ledakan Manna saat itu. Berarti benar jika tempat ini adalah tempat Jeanelle meledakan Manna.
Jeremy, Jeanelle dan Louis mendadak terdiam mematung ketika melihat emas-emas, permata dan batu Manna yang berkilauan bertebaran dimana-mana. Itu terlihat seperti kolam emas.
Ada beberapa binatang, monster, bangkai manusia dan hal-hal lainnya yang terikat disebuah jaring laba-laba. Ini pasti tempat persembunyian para monster semut, monster semut memang memiliki kebiasaan untuk menyimpan makannya.
"Oh! Mahluk apa itu?" tanya Jeanelle sembari menunjuk kearah mahluk bertubuh seksi, berkulit hijau dan tampan yang terikat di sana.
"Apa maksud anda Putri? Tentu saja itu ras Orch." jawab Louis yang sontak membuat Jeanelle terkejut.
"Apa?! Mahluk tampan itu adalah ras Orch?! Bukannya Orch itu seperti..."
Setau Jeanelle dan yang selalu Jeanelle baca di komik, ras Orch adalah mahluk bertubuh besar yang menyeramkan dengan taring yang runcing, hidung panjang dan wajah yang jelek.
Sejak kapan ras Orch berubah jadi tampan dan seksi begini?! Kalau tau begini sebaiknya Jeanelle bilang saja kalau dirinya jatuh cinta pada ras Orch. Sialan! Jeanelle sama sekali tidak tau.
Ingin rasanya dia memutar ulang waktu dan kembali disaat ia berkata kalau dirinya suka dengan pemimpin Menara Sihir.
"Wah, wajah anda terlihat sangat menyesal." celetuk Jeremy.
"Kalau Tuan Pemimpin tau pasti beliau akan sakit hati."
"Keterlaluan kau Jeje, kenapa kau menghancurkan hati yang rapuh itu?" kata Jeremy dramatis.
"Diam kalian!" sentak Jeanelle kesal. Lagipula sejak kapan Yuristhi memiliki hati rapuh? Yang benar itu Yuristhi tidak memiliki hati sama sekali.
Jeanelle melirik kesal kearah Louis dan Jeremy yang terkekeh pelan. Mereka berhasil meledek Jeanelle.
"Kalau begitu apa yang ingin kau lakukan sekarang?"
"Apalagi? Sepertinya Orch itu masih hidup, ayo kita selamatkan dia dan ambil keuntungan darinya. Lalu ambil semua emas, permata dan batu Manna ini."
"Saya jadi bertanya-tanya, apa jadinya Kekaisaran Zetta kalau dipimpin oleh Tuan Putri yang memiliki bakat menjadi perampokan seperti ini." Louis menghela nafas yang sontak membuat Jeanelle kesal.
"Berisik kau! Aku juga tidak ada niatan untuk menjadi Kaisar. Lagipula ini bukan mencuri, toh barang-barang itu tidak ada pemiliknya. Aku hanya mengklaimnya saja."
"Apa bedanya?"
Walaupun memberengut tapi Jeremy dan Louis tetap mengerjakan perintah Jeanelle dengan cepat dan tepat. Jeanelle sendiri membuka portal untuk memindahkan semua barang-barang itu ke sebuah ruangan kosong di Mansion Dandelion.
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
"Nghh..." sosok Orch itu menyeritkan keningnya dan membuka kedua mata secara perlahan. Hal yang pertama kali ia lihat adalah pemandangan tiga orang yang tengah berdebat dan pepohonan lebat.
Apa dirinya sudah keluar dari sarang Monster itu? Tapi sejak kapan? Sangat sulit menghancurkan kawanan monster semut dan jaring yang menjeratnya.
"Oh, kau sudah bangun?" kata Jeremy yang akhirnya membuat atensi Jeanelle dan Louis teralihkan.
Sosok Orch itu menyeritkan keningnya dengan bingung. " Siapa kalian?"
Jeanelle tersenyum, ia memberikan sebotol air yang merupakan perbekalannya untuk Orch itu. "Minum dulu." walaupun terlihat ragu tapi Orch itu menerima dan meminum air itu.
"Kalau dilihat dari mata mu, kau adalah keluarga Kaisar. Apa kau yang menolong ku? Kenapa kau menyelamatkan ku? Aku yakin kalau hubungan antara Kekaisaran dan ras Orch tidak baik."
Jeanelle terdiam mendengar rentetan pertanyaan itu. Apa tidak bisa dia bertanya satu-satu? Tapi Jeanelle baru tau kalau Kekaisaran ternyata punya banyak musuh.
Jeanelle tersenyum. "Ya, kau benar. Aku kelurga Kaisar. Aku Jeanelle, Tuan Putri kedua." Jeanelle membungkuk hormat sesaat dan kembali menegakkan tubuhnya lagi. "Tidak ada alasan untuk aku menolong mu, kau terlihat kesulitan karena itu aku membantu mu."
Orch itu menatap Jeanelle dengan ragu, sepertinya dia bukan tipe mahluk yang mudah percaya. Tapi karena dirinya tidak kenapa-kenapa dan malah diurus dengan baik oleh orang yang mengaku Tuan Putri itu jadi Orc tersebut akan mencoba untuk percaya.
"Saya Roni, putra tertua suku Orch. Aku sangat berterimakasih kepada Tuan Putri yang mau membantu mahluk hina ini."
"Ya ampun kau jangan merendah begitu." Jeanelle tersenyum.
"Kalau ada sesuatu yang bisa ku lakukan sebagai bentuk balas budi, aku akan melakukannya."
Jeanelle terdiam, senyum licik terukir di bibirnya. "Tentu saja, tapi tidak sekarang. Aku akan mengirim surat permintaan bantuan kalau diperlukan secara resmi kepada ras mu."
Roni terdiam, ia hanya menatap Jeanelle dan Jeanelle hanya tersenyum polos. "Kalau begitu, Louis kau antarkan Orch itu kembali kerumahnya."
"Apa? Kenapa saya?" Louis terlihat tidak suka. Louis saja sebenarnya malas menemani Jeanelle, kalau bukan karena permintaan Rena mana mungkin Louis mau.
"Ey~ jangan begitu. Kalau kau tidak mau aku akan merengek pada Rena agar kau tidak bisa berkencan dengannya." ancam Jeanelle yang membuat Louis kesal.
"Apa anda mengancam saya?"
Jeanelle tertawa kecil. "Kau berlebihan Louis, mana mungkin seorang murid mengancam gurunya."
Louis menghela nafas kesal. Louis lupa kalau anak ini sangat pintar bersandiwara.
"Saya akan mengantarkan Tuan Roni ke tempatnya dengan selamat." Louis membungkuk hormat.
"Baiklah, kalau begitu selamat menikmati perjalanan kalian." Jeanelle tersenyum ramah. Ia melihat Louis menggenggam tangan Roni dan seketika mereka menghilang.
"Ayo kita pulang juga, urusan kita sudah selesai."
"Eh? Memangnya kau sudah menemukan penyebab penyakit mu?" tanya Jeremy heran. Setau Jeremy sejak tadi mereka hanya berkeliling hutan dan merampas barang saja.
"Tidak, tapi sudah pasti penyebabnya tidak ada disini. Walaupun pemicunya terlihat ada disini."
Jeremy menyerit bingung namun ia hanya mengangguk paham dan memilih untuk mengikuti perintah Jeanelle.
Cepat atau lambat mereka pasti akan tau alasan dibalik ini semua.
...κ§-`π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆΒ΄-κ§...