
...κ§-`**π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆ**Β΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
Jeanelle tiba-tiba bangkit dari pingsan nya, seluruh tubuhnya merinding. "Kenapa aku merasa kalau Louis sedang mengutuk ku ya?" kata Jeanelle dengan serius sekaligus bingung.
Jeanelle menatap sekelilingnya, tempat ini sangat aneh dan gelap, tidak ada cahaya matahari yang masuk ke tempat ini, hanya ada beberapa tumbuhan, air, permata, emas dan tengkorak-tengkorak manusia saja yang ada ditempat ini.
Apa dirinya sudah mati? Sebenarnya ini dimana? Dihadapan Jeanelle ada sebuah bangunan tua yang sudah berlumut, bangunan itu adalah satu-satunya penghasil cahaya. 'Apa ini di dalam Koroido Hole?'
"Kau sudah bangun?" sebuah suara menyapa indera pendengaran Jeanelle, gadis itu langsung menoleh ke arah sumber suara.
'Apa dia penjaga tempat ini?'
"Bukan, Bukan. Aku bukan penjaga tempat ini, aku sama seperti mu. Terjebak disini." kata sosok berjubah hitam lusuh itu. Sosok itu berjalan mendekati Jeanelle dan berlutut dihadapan Jeanelle yang masih terduduk disana.
Sosok itu membuka tudung jubahnya hingga terlihat wajah seorang pria yang tampan dengan bibir seksi, mata yang berujung runcing hingga menambah kesan tajam pada mata itu, iris matanya berwarna merah dengan pupil mata yang berbentuk seperti mata kucing, surainya berwarna hitam pekat, kulitnya putih pucat namun tubuhnya cukup tinggi dan tegap.
"Kau membaca pikiran ku?" kata Jeanelle agak curiga.
"Aku tidak bisa membaca pikiran mu Nona, tapi ekspresi wajah mu yang mengatakannya." pria itu terkekeh pelan. Pria itu tiba-tiba saja mencengkram wajah Jeanelle memaksa agar mereka berdua saling bertatapan.
"Kalau dilihat dari mata mu, kau berasal dari keluarga Kaisar." iris mata pria itu tiba-tiba saja bersinar sesaat. "Kau menarik sekali, jadi begitu ya. Ingatan mu bercampur aduk dan berantakan." tiba-tiba saja ia menghempaskan wajah Jeanelle membuat Jeanelle agak terkejut dan heran.
"Kau gila ya?! Apa sih yang kau lakukan?!" sentak Jeanelle kesal. Pipinya sakit karena cengkraman pria itu cukup kencang.
"Nona, kau tidak akan bisa keluar. Mungkin kau akan berakhir seperti mereka." kata pria itu sambil menunjuk kearah beberapa tengkorak yang tersebar di segala penjuru arah. "Bahkan emas-emas sebanyak ini tidak bisa mengeluarkan ku." pria itu berkata sambil menggenggam koin-koin emas yang tersebar disana.
Kalau Jeanelle memiliki semua koin itu mungkin Jeanelle bisa hidup dengan bebas dan keluar dari Istana.
"Kalau kau segitunya ingin keluar dari Istana bukankah tinggal disini adalah pilihan yang bagus?"
Jeanelle tersentak, apa lagi-lagi pria itu bisa membaca pikirannya? Jeanelle menatap pria itu namun pria itu hanya menggidikan kedua bahunya tak acuh dan bangkit dari posisinya.
"Siapa nama mu?"
"Kenapa kau ingin tau?" sinis Jeanelle.
"Aku Yuristhi."
"Dengar ya, aku ingin keluar dari tempat ini."
"Aku juga, tapi aku tidak bisa. Tapi kabar baiknya aku bisa bertahan hidup ditempat ini." Yuristhi berjalan kearah tanaman yang ada disana, tangannya bergerak mencabut tanaman tersebut. "Lihat lah, bawang nya sudah berbuah." kata Yuristhi dengan riang sambil memperlihatkan tumbuhan tersebut.
Ya, Jeanelle akan memberikan Yuristhi apresiasi karena telah membuatnya terkesan dengan tekad untuk bertahan hidup. Bahkan sepertinya seluruh tumbuhan yang ada ditempat ini adalah tumbuhan yang pria itu tanam.
Tapi disini tidak ada cahaya matahari, bagaimana bisa seluruh tanaman itu tumbuh? 'Kalau dilihat-lihat sepertinya dia seorang penyihir.'
"Ya, aku penyihir dari menara." celetuk Yuristhi yang tengah mencabuti beberapa bawang itu dengan tangan kosong.
"Katakan pada ku! Kau bisa membaca pikiran kan?!"
"Tidak juga." Yuristhi mengangkat kedua bahunya tak acuh.
Tidak juga? Bukankah itu sama saja jika ia bisa membaca pikiran?
Jeanelle menghela nafas, ia bangkit dari posisinya sambil menepuk-nepuk bajunya yang terlihat kotor dan penuh darah. Jeanelle kemudian menatap sekelilingnya, entah kenapa Jeanelle bisa merasakan kekuatan suci yang ada ditempat ini.
Ada beberapa jenis Manna sihir dan asalnya. Para pendeta, Healer dan Sanitess memiliki Manna sihir yang berasal dari dewa.
Black Mage/Penyihir Kegelapan, Summoner, Siren dan beberapa mahluk kegelapan lainnya memiliki Manna sihir yang berasal dari dunia bawah/Dewa kematian.
Para penyihir, Elf, Alchemist dan lainnya memiliki Manna sihir yang berasal dari alam. Jeanelle bisa merasakan kalau tempat ini memiliki kekuatan suci yang biasa dimiliki oleh para pendeta.
"Kau merasakannya bukan?" ujar Yuristhi tiba-tiba yang sontak membuat Jeanelle menoleh kearahnya. "Seperti yang kau tau, tempat ini dikelilingi oleh kekuatan suci yang luar biasa. Aku tidak bisa keluar dari tempat ini karena hal tersebut."
"Apa itu berarti hanya orang-orang memiliki kekuatan suci saja yang bebas keluar masuk ke tempat ini?"
"Hmm, awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi lihatlah." Yuristhi menunjuk kearah tengkorak yang menggunakan pakaian berwarna putih yang diujung bajunya terdapat bordiran berwarna emas.
Sekali dilihat pun Jeanelle tau kalau mungkin saja orang itu adalah seorang pendeta yang berarti orang itu memiliki kekuatan suci.
"Tidak semua orang yang memiliki kekuatan suci bisa bebas keluar masuk ketempat ini. Sepertinya hanya orang-orang yang memiliki kekuatan suci yang luar biasa seperti Utusan Dewa, Pendeta Agung ataupun Saintess yang mungkin bisa dengan bebas keluar masuk tempat ini." Yuristhi terdiam sesaat. "Ini hanya perkiraan ku sih, tapi sepertinya kau bisa keluar dari sini."
"Benarkah?" Jeanelle berjalan mendekati pria yang lebih tinggi darinya itu. "Bagaimana caranya?"
Yuristhi tersenyum, ia merunduk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Jeanelle hingga jarak wajah mereka terpaut beberapa jengkal saja. "Dengan cara meledakan diri." katanya dengan riang.
'Apa?! Dia sudah gila ya?!'
...κ§-`π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆΒ΄-κ§...