IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Bertemu Kaisar



...๊ง-`๐™ท๐™ฐ๐™ฟ๐™ฟ๐šˆ ๐š๐™ด๐™ฐ๐™ณ๐™ธ๐™ฝ๐™ถยด-๊ง‚...


...โ—ผ...


...โ—ผ...


...โ—ผ...


"Aku sama sekali tidak mengira kalau kau akan menolaknya." ucap Jeremy yang entah sejak kapan sudah berada dikamar Jeanelle, Jeanelle yang baru saja memasuki kamarnya cukup terkejut dengan kehadiran Jeremy yang tiba-tiba.


"Bagaimana kau bisa masuk ke tempat ini?" Jeanelle buru-buru menutup pintu kamarnya dan menunjuk Jeremy dengan tidak sopan.


"Ada caranya, aku tidak menduga kalau sihir di Istana akan selemah ini." Jeremy menggidikan bahunya, ia awalnya duduk diranjang kini berjalan dan berdiri dihadapan Jeanelle.


"Kau kan bukan penyihir."


"Tidak ada yang bilang kalau aku seorang penyihir, tapi bukan berarti aku tidak bisa melewati sihir lemah ini."


Benar juga, kalau sihirnya kuat maka tidak mungkin banyak penyusup yang masuk.


"Apa hobi mu menguping pembicaraan orang? Kalau kau ketahuan oleh Pangeran dan Putra Mahkotaโ€”"


"Mereka tau." tungkas Jeremy yang membuat Jeanelle menatapnya terkejut.


"Mereka tau aku menguping, kita bahkan sempat bertatapan tapi entah kenapa mereka membiarkannya. Aneh sekali." Jeremy memiringkan sedikit kepalanya. "Ah! Sepertinya mereka juga sudah lama memperhatikan mu."


Kenapa Jeremy malah membicarakan hal yang mustahil? Kalau Baila mungkin saja tapi kalau Kai dan Terry, sepertinya sangat tidak mungkin.


"Jangan bicara omong kosong, katakan saja kenapa kau kesini." Jeanelle berjalan melewati Jeremy dan mendudukan diri diranjang.


"Awalnya aku ingin mengajak mu bermain, aku bosan habis berlatih pedang. Tapi tanpa sengaja aku melihat mu bertemu dengan para bintang Kekaisaran, aku jadi menunggu mu deh." Jeremy terdiam sesaat, sepertinya ia agak ragu ingin membicarakan hal ini.


"Tapi, apa kau yakin menolak tawarannya? Kau seorang Tuan Putri dan sudah seharusnya kau mendapatkan apa yang harus kau dapatkan."


"Aku sangat yakin, lebih nyaman hidup seperti ini. Aku bisa kabur sesuka hati ku dan juga aku tidak ingin berharap apapun lagi pada mereka."


Jeremy tidak berbicara, ia hanya mengangguk dan diam-diam menyetujui apa yang Jeanelle katakan. Mansion Dandelion mungkin saja memiliki penjagaan yang ketat mengingat tempat itu adalah tempat dimana para Tuan Putri tinggal, tapi tidak memungkiri juga jika pengawalan disana mungkin dilakukan secara ogah-ogahan.


Walaupun Jeanelle tinggal disana bukan berarti mereka tidak bisa bertemu lagi sih. Toh, Jeremy bisa saja membawa Jeanelle kabur diam-diam.


Tok... Tok... Suara pintu diketuk itu membuat Jeremy dan Jeanelle menoleh kearah sumber suara.


"Itu pelayan." bisik Jeremy yang membuat Jeanelle mengangguk.


"Siapa?" ucap Jeanelle agak berteriak.


"Ini Rena Tuan Putri." sahut wanita itu dari balik pintu.


"Kenapa? Aku lelah jadi ingin beristirahat."


"Putri, Baginda Kaisar meminta ingin bertemu dengan Tuan Putri sekarang juga."


Seketika Jeremy dan Jeanelle saling berpandangan, mereka sama-sama membulatkan kedua matanya dengan terkejut.


"Apa?!"


...โœถโŠถโŠทโŠถโŠทโ โ˜† โโŠถโŠทโŠถโŠทโœถ...


Jeanelle berdiri dihadapan sebuah pintu besar dengan ukiran rumit yang terbuat dari emas, dua orang pengawal yang berjaga di pintu tersebut saling berpandangan dengan heran.


"Siapa kau?" tanya salah satu kesatria itu dengan tatapan mata yang agak tajam.


Jeanelle yang mendapatkan perlakuan ini langsung menyerit heran, bukankah Kaisar sendiri yang menyuruh dirinya untuk datang kemari?


"Saya kesini atas perintah Baginda Kaisar." kata Jeanelle dengan ekspresi tenangnya.


"Kami tidak pernah mendengar kalau Baginda mengundang seorang tamu. Pergilah Baginda Kaisar sedang sibuk."


Apakah ini cara mereka memperlakukan seorang tamu? Walaupun Jeanelle adalah Tuan Putri yang diabaikan tapi Jeanelle tetaplah keluarga Kaisar. Ada baiknya jika kedua prajurit itu membuka matanya lebar-lebar dan melihat netra permata milik Jeanelle.


Ya, tapi kalau di usir begini Jeanelle sangat bersyukur sih. Dirinya kan jadi tidak bertemu dengan Kaisar sialan itu.


"Kalau begitu tolong sampaikan kepada Baginda Kaisar jika Jeanelle Agnegius datang berkunjung atas perintah beliau." ucap Jeanelle yang sontak membuat kedua prajurit itu terkejut.


Mereka berdua memang pernah mendengar rumor jika Kaisar memiliki seorang putri yang tinggal di Mansion tak bernama di ujung istana. Tapi mereka tidak tau kalau hari ini putri yang dirumorkan itu datang kemari terlebih atas perintah Baginda.


"Dilihat sekilas pun gadis ini memang sangat mirip dengan Baginda Kaisar, bukan?" bisik salah seorang prajurit itu pada temannya.


"Benar, apalagi permata ungunya." timpal temannya. Mereka berdua kemudian terdiam dan kemudian mengangguk.


"Tolong tunggu sebentar, kami akan sampaikan pesan anda pada Baginda." ia berjalan memasuki ruangan itu namun tak lama setelah pria itu kembali dan membukakan pintu yang lebar untuk Jeanelle.


"Baginda menyuruh anda untuk masuk, kami minta maaf atas tindakan tidak sopan kami." mereka berdua membungkuk hormat. Lagipula itu juga bukan salah mereka.


"Sudahlah, aku pergi dulu." Jeanelle dengan santainya memasuki ruangan itu, setelah memastikan Jeanelle berada dihadapan Baginda kedua prajurit itu langsung menutup pintunya rapat-rapat dan kembali bergosip ria.


Berbeda dengan Jeanelle yang kini berusaha mati-matian menahan gemetar pada kedua kakinya, kalau bukan karena diperintahkan Jeanelle ogah untuk ketempat orang gila ini.


Jeanelle menatap seseorang yang tengah terduduk di singgasananya, pria tua dengan rambut blonde bergelombang sebahu, wajahnya yang telah keriput karena dimakan usia, netra permata ungu yang menatapnya dengan tatapan meremehkan dan juga mahkota yang sepertinya sangat berat itu selalu terpasang di kepalanya, jangan lupakan jubah berwarna merah yang dihiasi bulu-bulu putih di setiap garis ujungnya.


Lambang kalajengking pun tergambar di jubah tersebut.


Jeanelle benci mengakuinya tapi tak bisa dipungkiri jika wajahnya memang sangat mirip dengan Baginda Kaisar. Jeanelle membungkuk hormat dan dengan suara lembut ia memberi salam.


"Jeanelle Agnegius memberi salam kepada matahari Kekaisaran yang agung, semoga anda panjang umur dan selalu sehat Baginda."


'Semoga anda bernafas pendek.' Jeanelle menyumpahinya dalam hati.


"Hahaha bangunlah nak." Evan terkekeh, ia mengangkat tangan kirinya meminta agar Jeanelle menegakkan tubuhnya dan Jeanelle pun menurut. Ia menatap Evan penuh dengan rasa percaya diri dan ketenangan yang luar biasa.


Walaupun dalam hati jantungnya sudah hampir mau meledak dan kedua kakinya yang semakin gemetar. Aura Evan sungguh menakutkan untuk dirinya, apalagi dia adalah antagonis utama dalam cerita ini.


"Sekali lihat pun orang-orang akan tau kalau kau adalah putri ku, kau sangat mirip dengan ku."


"Anda berlebihan Baginda."


"Kau sangat merendah ya. Aku jadi merasa bersalah karena sudah menelantarkan seorang putri yang begitu mirip dengan ku, maafkan aku. Ku harap kau menerima permintaan maaf ku." Evan tersenyum tipis yang membuat Jeanelle mengangguk dan ikut tersenyum.


"Saya juga minta maaf karena baru bisa mengunjungi Baginda sekarang, saya tidak memiliki rasa percaya diri untuk bertemu dengan Baginda." Jeanelle membungkuk dengan wajah yang dibuat se sedih mungkin.


"Ya ampun nak, kenapa jadi kau yang meminta maaf." Evan tertawa kecil. "Mulai sekarang kau akan mendapatkan perlakuan layaknya seorang Tuan Putri dan Minggu depan kau akan melakukan debutante sekaligus memperkenalkan mu pada publik."


Jeanelle hanya bisa terdiam sambil tersenyum, dalam hati dirinya menangis sedih.


'Sial! Kenapa jadi begini?!'


...๊ง-`๐™ฑ๐™ด๐š๐š‚๐™ฐ๐™ผ๐™ฑ๐š„๐™ฝ๐™ถยด-๊ง‚...


๐—–๐—ฎ๐˜€๐˜ :



ใ€๐•eremyใ€‘