
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆΒ΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
Setelah penantian yang cukup lama akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Hari dimana Jeanelle dan Louis akan pergi ke pelelangan, beruntung Putra Mahkota tidak curiga dengan ucapan Louis yang dimana ia meminta izin untuk pergi ke luar sebentar.
Jeanelle juga mengenakan pakaian biasa, gaun selutut dengan lengan pendek berwarna biru bercorak putih, surai yang dijepit dengan pita, sepatu tanpa hak berwarna senada. Jangan lupakan netranya yang telah diubah dengan cincin sihir menjadi warna coklat. Kalau begini tidak akan ada yang mengenali dirinya, ditambah Jeanelle juga menggunakan jubah sihir milik Louis.
"Anda sudah siap?" tanya Louis dengan tangan kanannya yang direntangkan ke depan. "Kita akan melakukan teleportasi."
"Apa? Kupikir kita akan naik kereta kuda."
Louis memiringkan kepalanya. "Kalau ada sihir teleportasi kenapa harus pakai kereta kuda?" setelah itu Louis bergumam mengucapkan sebuah mantra, lingkaran sihir muncul dihadapan mereka.
Jeanelle jadi bertanya-tanya, apa selama ini Louis menggunakan sihir teleportasi untuk pergi ke Istana? Sihir teleportasi adalah sihir yang jarang bisa dikuasai dengan lancar karena sangat rumit apalagi harus menentukan koordinat yang pas.
Bahkan jarang penyihir Kekaisaran yang bisa menghasilkan sihir teleportasi. Kalau benar, pantas saja selama ini Louis ditatap dengan sinis. Menggunakan sihir teleportasi dihadapan penyihir Kekaisaran bukankah sama seperti dengan pamer?
"Putri? Kenapa anda melamun?" tanya Louis yang membuat Jeanelle menggelengkan kepalanya.
"Tidak, ayo pergi." Jeanelle pun memasuki lingkaran sihir itu bersama Louis dan bersama dengan hembusan angin lingkaran sihir itupun menghilang.
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
Dalam waktu singkat mereka berdua sudah berada didalam gedung besar yang berisi orang-orang dengan pakaian mewahnya, seluruh manusia yang datang ketempat ini mengenakan topeng yang berbeda-beda.
Tentu saja Jeanelle dan Louis menggunakan topeng yang menutupi seluruh wajahnya, topeng yang mereka kenakan hanyalah topeng berwarna putih polos tanpa corak.
Dilihat darimana pun tempat ini lebih mirip dengan aula pesta dibandingkan aula pelelangan. Benar-benar jauh dari apa yang Jeanelle bayangkan.
Jeanelle pikir ruangnya akan mirip seperti ruangan bioskop di dunia modern dan penerangan yang minim, tapi ternyata tidak. Jeanelle bahkan sampai tercengang melihat tempat pelelangan ini.
"Sepertinya ini pertama kali anda pergi ke pelelangan." kata Louis tiba-tiba.
"Untuk apa juga aku pergi ke pelelangan setiap saat? Tidak ada yang ku butuhkan juga."
Benar juga sih, tapi kalau tau akhirnya akan seperti ini sepertinya Jeanelle akan pergi ke pelelangan sejak awal.
"Wah hari ini benar-benar sangat ramai ya." ucap seorang pria dengan setelan tuxedo hitam putih dan juga topeng badut yang menangis.
Pria itu merentangkan kedua tangannya, sepertinya pria yang berdiri diatas podium itu menggunakan sihir pengeras suara, suaranya begitu menggelegar di dalam ruangan.
"Acaranya sudah dimulai." bisik Louis sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Ngomong-ngomong ini papan nomor mu, kalau kau mau membeli sesuatu kau harus mengangkat nomor ini." katanya sembari memberikan papan kayu yang berisikan nomor 123.
Benar juga kalau mau masuk ke pelelangan harus menggunakan tiket dan orang yang membeli tiket akan diberikan papan nomor yang terbuat dari campuran kayu dan emas. Jeanelle belum membeli tiketnya tapi sepertinya Louis sudah mempersiapkan segalanya.
Jeanelle melirik papan kayu Louis yang diberi nomor 56. Louis benar-benar penuh persiapan.
"Karena hari ini kita memiliki banyak barang jadi tanpa menunggu lama saya akan memulai acaranya."
Suara tepuk tangan terdengar begitu meriah dari dalam ruangan ini, orang-orang yang berdiri menyaksikan dengan saksama barang apa saja yang akan di jual dan sudah pasti barang-barang yang ada disini adalah barang ilegal.
Pembawa acara itu satu persatu mulai mengenalkan berbagai macam barang, mulai dari permata langka, mahluk langka, monster, artefak dan lain sebagainya. Tapi sepertinya tak ada satupun dari barang itu yang mengunggah selera Louis, Louis seperti sedang menunggu sesuatu yang sangat penting untuknya.
Jeanelle bahkan hampir saja ingin membeli seluruh barang-barang itu tapi ia berusaha menahan diri dan menunggu sesuatu yang amat sangat berguna untuk dirinya.
"Ini dia barang ke 36, barang yang dibuat oleh pemimpin Menara Sihir. Artefak yang memiliki kemampuan luar biasa yang katanya mampu melindungi kita semua, Artefak Chronos."
Pembawa acara itu memperlihatkan sebuah Artefak berbentuk seperti lampu tidur dengan ukiran rumit dan ditengahnya terdapat sebuah bola kristal, beberapa lingkaran mengelilingi bola kristal itu dan berputar, ada juga tulisan-tulisan atau angka yang terdapat di artefak tersebut.
Jeanelle melirik Louis yang berdiri disebelahnya, tangan Louis bergetar dan mencengkram papan kayu itu begitu kuat.
Krak.
"Hii..." ringis Jeanelle agak takut saat melihat papan kayu yang dipegang Louis retak, untungnya tidak sampai patah. Tapi itu terbuat dari campuran emas dan sedikit sihir jadi tidak mungkin retak semudah itu walau dipegang sangat kuat.
Terlihat jelas kalau Louis sangat marah, wajar sih. Louis pasti diperintahkan oleh Pemilik Menara Sihir untuk mengambil kembali barangnya apalagi sepertinya artefak itu sangatlah penting.
"100 emas."
"300 emas."
"700 emas."
Orang-orang menawarkan harga tinggi untuk artefak itu, Jeanelle bahkan tidak bisa menghitung berapa banyak uang yang bisa di hasilkan dari ratusan emas tersebut. 200 emas saja sudah bisa membeli gelar bangsawan sekelas Baron atau Viscount apalagi 700 emas, pasti sudah bisa membeli gelar bangsawan Count.
"1000 emas!" kata Louis sembari mengangkat papannya yang retak itu.
"1500 emas." sahut bangsawan lain. Sepertinya Bangsawan itu ingin memiliki artefaknya. Kalau buatan Pemilik Menara Sihir kemampuannya sudah tidak diragukan lagi sih.
"2000 emas!"
"2500 emas."
"3000 emas."
"4000 emas."
Jeanelle melongo melihat aksi tawar menawar itu, 4000 emas? Yang benar saja apa dia seorang Duke?
Louis terlihat berdecak kesal, kalau dia tidak menahan diri mungkin Louis akan melempar papan kayu itu kearah pembawa acara atau kearah bangsawan yang terus-menerus menawar harga.
Kalau saja Louis boleh menghancurkan tempat ini sudah pasti akan Louis hancurkan tapi Louis juga harus berhati-hati. Jeanelle sendiri tidak mau ikut-ikutan dalam masalah ini, ia tidak akan membantu Louis karena kalau dibantu Louis akan semakin kesal. Bisa-bisa Jeanelle kena semprot nanti.
"20.000 emas!" kata Louis penuh penekanan.
Jeanelle yang melihat hal itu jelas melongo terkejut, 20.000 emas katanya? Itu setara dengan berapa triliun? Harga monster saja tidak semahal itu. Gila! Memangnya berapa gaji Louis sampai-sampai bisa membuang 20.000 emas dengan mudah?
Apa jangan-jangan selain penyihir agung Louis juga seorang bangsawan yang bergelar Duke? Sepertinya tidak mungkin, kalau dia bangsawan tidak mungkin Louis mau mengajarinya karena Jeanelle tau kalau tugas bangsawan sangat banyak dan bahkan tidak memiliki waktu untuk tidur.
"Wah, wah sepertinya Tuan bertopeng putih sangat menyukai benda ini sampai-sampai menawarkan harga yang tinggi. Bagaimana? Apa ada yang bisa menawar lagi?" kata sang Pembawa acara yang membuat para pengunjung terdiam sambil berbisik-bisik.
"Hmm... Sepertinya tidak ada lagi! Kalau begitu selamat untuk Tuan dengan nomor 56, anda mendapatkan Artefak Chronos. Anda bisa mengambilnya setelah acara ini selesai." ujarnya sembari memberikan kode untuk anak buahnya membawa Artefak tersebut ke belakang, karena Artefak itu sudah terjual maka harus disimpan dengan baik.
Setelah itu Louis terus menerus membeli beberapa artefak atau benda yang menurutnya dicuri dari Menara Sihir, tentu saja Louis membelinya dengan harga tinggi.
'Sebenarnya seberapa kaya nya dia?' Jeanelle bahkan sampai tidak bisa berkata-kata lagi.
...κ§-`π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆΒ΄-κ§...