IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Pesta Sosial



...꧁-`π™·π™°π™Ώπ™Ώπšˆ πšπ™΄π™°π™³π™Έπ™½π™ΆΒ΄-κ§‚...


...β—Ό...


...β—Ό...


...β—Ό...


Disebuah aula di kediaman Count Elmanuel sebuah pesta sosial diadakan, beberapa bangsawan hadir dalam pesta ini termaksud Putri Mahkota dan Tuan Putri yang baru saja melakukan debutante nya.


"Sebuah kehormatan Putri Mahkota dan Tuan Putri dapat hadir dalam pesta sederhana yang saya adakan." ucap seorang wanita paruh baya bersurai orange sembari membungkuk hormat, dia adalah penyelenggara pesta dan juga seorang Ratu di pergaulan kelas atas.


"Justru kami yang berterima kasih karena Countess sudah mau mengundang kami." kata Baila sembari tersenyum manis.


"Kalau begitu saya harap Putri Mahkota dan Tuan Putri dapat menikmati pestanya."


"Tentu."


Baila kembali tersenyum namun kali ini Baila menatap Jeanelle yang juga menatapnya. "Sekarang saatnya untuk mu bergaul dengan para bangsawan Jeanelle." bisik Baila.


Itu memang tujuan yang sudah Jeanelle rencanakan.


"Apa kau ingin aku perkenalkan dengan para Lady Bangsawan?"


"Tidak perlu, saya akan bergaul dengan cara saya sendiri. Putri Mahkota silahkan menikmati pestanya." Jeanelle membungkuk hormat dan kemudian berlalu pergi dari hadapan Baila yang terdiam bingung.


Yang benar saja, Jeanelle tidak tertarik dengan Lady Bangsawan yang paling-paling hanya membicarakan pria tampan yang sudah memasuki usia dewasa. Tujuan Jeanelle datang ke pesta ini bukan untuk mendekati para Lady melainkan untuk...


"Salam kepada para Nyonya bangsawan saya Jeanelle Tuan Putri dari Kekaisaran Zetta memberi salam." kata Jeanelle sembari membungkuk hormat.


Benar, tujuan Jeanelle adalah untuk bersahabat dengan para Nyonya bangsawan yang memiliki pengetahuan lebih luas walaupun agak kolot.


Jeanelle mendatangi perkumpulan nyonya Bangsawan yang tempatnya agak jauh terpisah dari perkumpulan para Lady atau Tuan Muda. Para Nyonya bangsawan yang seperti sudah memasuki usia 30 tahun atau lebih itu tersenyum manis.


"Kenapa Tuan Putri memberi salam pada Bangsawan seperti kami? Duduklah Putri." kata salah seorang nyonya Bangsawan sembari menepuk sofa kosong disebelahnya, Jeanelle pun menuruti ucapan nyonya itu dan duduk dengan santai.


"Saya tidak menyangka Tuan Putri yang baru saja melakukan debutante memilih untuk menghampiri kami daripada menghampiri para Lady yang seusia dengan Putri."


"Pesona para Nyonya yang menarik saya untuk datang kesini, saya begitu mengagumi Nyonya-nyonya sekalian." puji Jeanelle yang sebenarnya hanyalah sebuah basa-basi biasa.


"Saya tidak menyangka jika Tuan Putri pandai bicara, padahal orang tua seperti kami mana mungkin memiliki pesona." salah satu Nyonya bangsawan itu tertawa dan menganggap jika ucapan Jeanelle sangat lucu.


"Ya ampun Viscountess Reya kenapa anda merendah begitu? Padahal saya dengar dulunya Viscountess adalah orang yang paling berbakat di bidang ekonomi. Bukankah justru itulah pesona anda?"


Demi hari ini Jeanelle bahkan rela begadang dan menghapal ratusan atau mungkin ribuan nama-nama Bangsawan beserta nyonya dan anak-anaknya. Jeanelle harap ia tidak melakukan kesalahan karena ini adalah pendekatan yang sangat penting.


"Saya juga pernah mendengar kalau Marchioness Freya begitu menyukai tumbuhan sehingga anda disebut-sebut sebagai ahli botani, saya jadi penasaran dengan tumbuhan yang sangat anda sukai."


"Countess Elma, bukankah anda begitu menyukai teh? Apa saya boleh merekomendasikan toko teh yang sangat bagus dan mungkin sesuai dengan selera Countess?"


Jeanelle pada akhirnya berbincang-bincang seru dengan para Nyonya bangsawan, berbagai topik mereka bicarakan. Karena Jeanelle adalah orang yang mudah berbaur alhasil pendekatan dengan para Nyonya bangsawan berjalan dengan mulus, mungkin karena Jeanelle juga sudah berusaha dengan keras juga sebelum datang kesini.


Baila yang melihat kedekatan Jeanelle dengan para Nyonya bangsawan hanya terdiam kaget, ia tidak menyangka kalau adiknya yang ia tau sangat pemalu dan lembut itu ternyata adalah orang yang sangat mudah berbaur seperti ini. Terlebih para Nyonya bangsawan adalah orang-orang yang sangat sulit untuk didekati karena mereka sangat waspada dan agak kolot.


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


Didalam kereta kuda Jeanelle bersenandung kecil dan ia terlihat cukup senang.


"Kau terlihat sangat senang Jeanelle." kata Baila yang duduk berhadapan dengan gadis itu.


"Tentu saja, pertemuan yang tadi sangat menyenangkan. Sayang sekali karena waktu berjalan begitu cepat." jawab Jeanelle yang matanya menatap keluar jendela.


Jeanelle hanya bisa menatap hamparan pepohonan yang cukup rindang, rumah-rumah sederhana juga berjarak cukup jauh. Pantas saja jika ada tindak kriminal tidak akan ketauan disini.


'Ngomong-ngomong kenapa banyak hama yang mengikuti?' Batin Jeanelle, tanpa Jeanelle sadari netra permata ungunya agak bersinar dan Baila yang melihat hal itu agak terkejut.


Karena menjalani pelatihan sihir bersama guru killer seluruh indera perasa Jeanelle jadi sangat sensitif. Ekspresi Jeanelle saat ini juga terlihat waspada dan dingin.


"Jeanelle ada apa?" tanya Baila yang membuat Jeanelle tersenyum.


'Apa Baila tidak merasakannya? orang-orang yang mengikuti kita memang menyembunyikan eksistensi nya dengan baik sih.'


"Saya hanya sedang memikirkan pekerjaan saya saja."


"Apa pekerjaan yang kami berikan terlalu banyak? Harus aku meminta Kai untuk mengurangi pekerjaan mu?" Baila terlihat khawatir namun Jeanelle hanya menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu Yang Mulia, lagipula saya memiliki banyak waktu luang."


"Begitu kah?"


"Yang Mulia tidak perlu khawatir." Jeanelle tersenyum menenangkan.


Ctak. Jeanelle menjentikkan jarinya, tanpa Baila sadari sebuah lingkaran sihir muncul di belakang kereta kuda. Jeanelle memanggil peliharaannya.


'Ini kan waktunya Cece makan, selamat makan Cece.' batin Jeanelle, diam-diam Jeanelle menyeringai senang.


Kalau Ceberus milikinya yang mengurus mereka, sudah pasti mereka tidak akan memiliki jasad selain tengkorak. Sepertinya Jeanelle juga harus menyuruh Cece untuk membawa beberapa barang bukti agar Jeanelle tau siapa yang mengirim mereka.


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


"APA?! BAGAIMANA BISA MEREKA MENGHILANG BEGITU SAJA?" bentak orang itu dengan kesal, bahkan sesekali orang itu melempar barang-barang miliknya dengan sembarang arah.


"Kami benar-benar minta maaf, tapi kami tidak tau kenapa orang-orang suruhan anda bisa menghilang. Sepertinya mereka melarikan diri." ucap Kesatria itu dengan takut-takut.


"Maksud mu mereka adalah penipu?! SIALAN! Cari mereka dan potong tangan dan kaki mereka!"


"Baik Tuan." beberapa Kesatria langsung buru-buru keluar dari ruangan gelap itu. Tidak ada yang berani menentang Tuan mereka, menentangnya sama saja dengan bunuh diri.


Suara tawa terdengar diruangan gelap yang hanya sebuah lilin yang menerangi ruangan gelap tersebut.


"Kenapa kau terburu-buru begitu? Aku saja santai. Lagipula Putri Mahkota kan masih muda jadi agak kasihan kalau ia tewas diusia semuda itu." pria itu terkekeh pelan.


"Apa maksud mu? Putri Mahkota kan ancaman untuk faksi kita." ujarnya dengan jengah.


"Walaupun begitu jangan terburu-buru, kita masih memiliki banyak hari. Iyakan?" pria itu menyeringai sembari memainkan gelas berisi cairan merah itu.


...꧁-`π™±π™΄πšπš‚π™°π™Όπ™±πš„π™½π™ΆΒ΄-κ§‚...