IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Kemunculan Koroido Hole



...꧁-`π™·π™°π™Ώπ™Ώπšˆ πšπ™΄π™°π™³π™Έπ™½π™ΆΒ΄-κ§‚...


...β—Ό...


...β—Ό...


...β—Ό...


Fajar telah menyingsing, Jeanelle dan yang lainnya langsung menghela nafas lelah. Pertarungan belum usai masih banyak monster-monster yang menyerang, tapi bagaimanapun juga mereka adalah manusia yang butuh istirahat, makan dan minum.


Sekali lagi, Jeanelle melempar anak panahnya kepada monster-monster yang bersembunyi.


Diego tiba-tiba mengangkat tangannya, untuk saat ini para monster pasti sedang bersembunyi. Pada dasarnya monster tidak bisa melihat dengan jelas saat ada matahari, namun bukan berarti mereka tidak bisa bergerak.


Apalagi pepohonan yang ada disini sangat rimbun dan menutupi cahaya matahari, sudah pasti akan ada monster yang bergerak. Tapi untuk saat ini mereka akan beristirahat.


"Tuan Putri, bagaimana jika kita beristirahat sebentar sekarang?" saran Diego, Jeanelle menatap para kesatria nya yang juga sudah kelelahan.


Jeanelle mengangguk, ia juga sangat lelah. Padahal Jeanelle menggunakan Manna sihirnya hanya sedikit untuk membuat anak panah.


"Hey kalian." panggil Jeanelle pada 10 orang yang terpilih untuk mengumpulkan bangkai dan inti monster.


"Kumpulkan inti monster dalam karung ini." Jeanelle melempar sebuah karung besar berwarna coklat.


"Bagaimana dengan bangkai monster nya?"


"Ah, iya." Jeanelle mengulurkan tangan kirinya membuat sebuah lingkaran sihir yang cukup besar muncul dihadapan mereka.



"Lemparkan bangkai monster itu kesana, lingkaran sihir itu akan menghubungkan ke ruang bawah tanah Istana yang ku pinjam dari Baginda Kaisar." jelas Jeanelle yang membuat mereka semua mengangguk paham.


"Ku pikir 10 orang itu akan membawanya hingga ke Ibukota." kata Hyun yang baru saja turun dari pohon.


"Kalau kita menangkap 10.000 monster berarti 1 orang harus mengangkut 1.000 monster? Ku rasa itu ide bagus." Jeanelle terkekeh saat melihat 10 orang yang diutus untuk mengangkut monster itu gemetar. Yang benar saja satu orang seribu monster bagaimana cara mereka membawanya?


Apalagi tidak ada sihir teleportasi. Bisa-bisa mereka mati duluan sebelum sampai disana.


Hyun, Jeremy dan Jeanelle tertawa melihat reaksi lucu para Kesatria itu.


"Kami hanya bercanda, kalian tidak perlu gemetaran begitu." kata Jeremy sambil terkikik geli.


"Baik." kata salah satu dari mereka sambil menghela nafas lega.


"Bagaimana dengan Suno? Apa dibawah sana sudah selesai?" tanya Hyun, sepertinya ia merasa khawatir dengan keadaan Suno.


Apalagi Suno harus tetap menunggu dibawah sana sampai mereka semua turun kebawah, tidak mungkin Suno harus bulak-balik naik turun. Dia sih pastinya tidak akan keberatan tapi bagaimana dengan Kesatria yang ia bawa? Naik turun mendaki dataran tinggi juga sangat melelahkan.


"Ya, sudah selesai. Mereka juga sedang beristirahat." sahut Jeanelle sambil memakan makanannya. Mereka membawa bekal roti yang mudah dibawa dan beberapa buah-buahan serta minuman.


Mereka tidak mungkin mengambil air di hutan ini karena dikhawatirkan jika air yang ada di hutan ini sudah terkontaminasi oleh racun. Buah-buahan disini juga tidak terlihat meyakinkan.


"Bagaimana Tuan Putri bisa tau?" tanya Diego yang tiba-tiba sudah berdiri disamping Jeanelle.


"Itu karena Suno memakai permata yang Tuan Putri berikan, barang-barang yang sudah terisi oleh sebagian Manna Tuan Putri bisa dirasakannya. Dalam kata lain Manna itu berbagi pengelihatan dan pendengaran dengan Tuan Putri." jelas Jeremy yang membuat Diego paham.


Ternyata ada kasus seperti itu juga? Padahal biasanya orang yang berbagi Manna hanya bisa merasakan dimana keberadaan Manna nya tidak bisa melihat ataupun mendengar.


Deg. Jantung mereka terasa berhenti tiba-tiba, seluruh tubuh mereka merinding ketika merasakan eksistensi yang luar biasa ini.


Ini mengerikan dan berbeda dengan monster yang mereka temui. Apa ada bagian ******* untuk part ini? Jeanelle yakin kalau selain monster yang bisa terbang itu tidak ada lagi hal-hal berbahaya lainnya.


"Ah! Suno!" pekik Jeanelle tiba-tiba, namun baru saja ia ingin turun gunung sesosok monster besar yang entah dari mana muncul dihadapannya.


"Jeje!" Hyun dengan sigap menarik Jeanelle kebelakang dan Jeremy sendiri melompat untuk menebas monster dihadapannya.


Crash...


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...



Suno mengusap peluh yang mengalir di keningnya, seluruh tubuhnya terasa lengket dan ingin secepatnya ia mandi. Suno menatap sekelilingnya yang sangat kacau karena hamparan mayat monster yang berada dimana-mana.


"Sepertinya sudah selesai semua." kata Suno sembari menancapkan pedangnya diatas tanah.


Mereka beruntung hanya monster yang bisa terbang saja yang lolos dari tempat ini, sisanya aman dan juga monster-monster yang lolos tidaklah banyak.


"Apa tidak ada lagi?" tanya Suno.


"Tidak ada Tuan Muda." Suno mengangguk paham, kalau seperti ini mungkin dalam beberapa hari mereka sudah bisa pulang.


Deg.


Suno secara spontan langsung menoleh kebelakang, perasaannya tidak begitu enak seperti ada sesuatu yang aneh disini.


Apalagi eksistensi yang mengerikan yang belum pernah Suno rasakan sebelumnya. 'Apa ini monster?' sepertinya bukan.


Suno memfokuskan inderanya, samar-samar ia mendengar suara angin.


Bzzttt... Krak... Bruk...


"Akh..." Suno meringis. Permata pemberian Jeanelle mendadak retak dan hancur berkeping-keping.


Sosok bayangan wanita dengan mata yang bersinar muncul dihadapannya dan mendorong Suno begitu saja. Sosok itu membawa obor api yang cukup panjang dan ditengah obor tersebut ada api berwarna biru.



Suno terdiam menatap sosok itu, ia sendiri tidak tau itu sosok apa. Apa itu spirit? Sepertinya bukan, Jeanelle tidak memiliki kemampuan memanggil spirit. Apa itu Guardian ? Atau jangan-jangan mahluk dunia bawah?! Tapi yang jelas kapan Jeanelle menguasai kemampuan ini?


Sosok itu terbang mendekati Suno, ia terlihat memperhatikan Suno yang masih terdiam dengan ekspresi terkejut. Tak lama kemudian sosok itu berbalik membelakanginya dan memasang sikap waspada.


Perlahan namun pasti suara angin itu mendekat, tidak! pada dasarnya angin itu memang ada di belakang Suno. Angin itu terlihat berkumpul membentuk sebuah lingkaran yang makin lama makin besar.


Suno tau dengan pasti apa lingkaran itu, itu adalah koroido hole atau lubang penghisap yang dimana jika kalian berjarak sekitar 3 meter dari lubang itu maka kalian akan tersedot masuk dan tidak akan pernah bisa keluar lagi untuk selamanya.


Suno tidak tau kenapa lubang itu bisa ada disini, tapi yang pasti ini sama sekali tidak baik. "SEMUANYA! NAIK KEATAS! MENJAUH DARI TEMPAT INI!" seru Suno dengan lantang dan seketika para Kesatria berlarian dengan heboh menjauhi Koroido hole yang semakin lama semakin membesar dan bersiap menghisap apapun yang ada disana.


Katanya lubang itu akan menghilang dengan sendirinya setelah 2-3 jam, tapi masalahnya apa mereka mampu bertahan selama itu?


...꧁-`π™±π™΄πšπš‚π™°π™Όπ™±πš„π™½π™ΆΒ΄-κ§‚...