IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Ingatan Yang Tumpang Tindih



...꧁-`π™·π™°π™Ώπ™Ώπšˆ πšπ™΄π™°π™³π™Έπ™½π™ΆΒ΄-κ§‚...


...β—Ό...


...β—Ό...


...β—Ό...


"Apa kau benar-benar tidak ingin kembali lagi?" ucap seorang wanita cantik yang tengah menatap adiknya dengan tatapan sendu.


Wanita dihadapannya menghela nafas, ia meletakan ponselnya diatas meja dan menatap tiga orang dihadapannya dengan tatapan jengkel.


"Kembali kemana?"


"Apa maksud mu? Tentu saja kerumah kita." kata pria bersurai merah dengan setelan tuxedo hitam yang sangat rapih, sepertinya ia baru pulang kerja.


"Rumah kita?" tanyanya mengejek dan kemudian wanita itu tertawa terbahak-bahak. Ketiga saudara-saudarinya yang melihat hal tersebut hanya terdiam dengan tatapan aneh.


"Lucu sekali sih ucapan kalian..." katanya sembari mengontrol tawanya. "Itu rumah kalian dan bukan rumah ku, itu tempat kalian pulang, tapi itu bukan tempat untuk ku pulang."


"Apa maksud mu bukan tempat untuk pulang? Kita ini keluarga jadi bukankah keluarga adalah tempat untuk pulang--"


"Memangnya ada yang menganggap ku keluarga?" ia mengacak-acak surai pendeknya dengan kasar. "Yang memiliki keluarga itu hanya kalian dan bukan aku, Ya aku sangat berterimakasih karena sudah mengurus ku sejak kecil dan jangan khawatir kalau kalian ingin bayarannya aku akan memberikannya."


"Apa yang kau bicarakan?" kakak perempuannya menatapnya dengan tatapan sedih, ia menangis dan langsung mendapatkan pelukan dari kakak pertamanya.


Haa... Ia benci dengan hal ini, selanjutnya pasti akan ada yang bilang...


"Kenapa kau membuat kakak menangis?" tanya saudara kembarnya yang saat ini tengah memeluk wanita cantik itu.


"Aku? Membuatnya menangis? Apa kau melihat jika aku membentaknya? Atau aku memukulnya? Tidak kan, aku tidak melakukan kedua hal itu, aku hanya membicarakan sebuah fakta." ia menggidikan kedua bahunya tak acuh.


"Kalau kau tidak ingin melihat saudari mu menangis, pergilah dan jangan pernah menemui ku lagi." katanya dengan dingin.


...||β€’||β€’||β€’||β€’||...


"Apa kau tidak sedih? Tuan Putri." tanya Rena sembari menatap Jeanelle yang saat itu masih berusia 12 tahun.


"Aku sedih karena ibu meninggal tapi aku baik-baik saja karena ada Rena disini." Jeanelle tersenyum manis yang justru membuat Rena sedih.


"Tuan Putri, sebenarnya Putri memiliki 3 orang kakak."


"Aku tau, ibu sering bilang begitu. Tapi mereka tidak pernah menemui ku jadi aku tidak akan melupakan fakta kalau mereka tidak menyukai ku. Asalkan ada Rena, aku akan baik-baik saja."


Rena terdiam, sifat Tuan Putri yang seperti ini justru membuat hatinya semakin sakit.


"Tuan Putri, anda harus berjanji pada saya kalau kita akan hidup bahagia bersama."


Tatapan Jeanelle berbinar dan ia tersenyum senang. "Iya, janji."


...||β€’||β€’||β€’||β€’||...


Jeanelle terdiam, menatap rumah kayu yang telah berlumuran darah tersebut dengan tatapan sedih.


"Ini hukuman yang cocok untuk seorang pencuri." sebuah suara menginterupsinya membuat Jeanelle menoleh kearah belakang. Dua orang wanita berpakaian putih berdiri dibelakangnya sambil tersenyum puas.


"Bukankah kalian sudah berjanji untuk tidak menggangu nya? Rena sudah pergi dari Istana." Jeanelle berucap dengan suara yang gemetar.


"Tapi kami tidak pernah berjanji untuk tidak membunuhnya. Dia sudah tau terlalu banyak."


"Apa? INI TIDAK SESUAI DENGAN PERJANJIAN! Aku sudah melakukan apa yang kalian inginkan." Jeanelle menangis, ia memeluk tubuh tanpa kepala tersebut.


"Seharusnya kau tidak boleh terlalu naif Tuan Putri. Bukankah hati manusia bisa berubah?" ia tersenyum dan senyum itu adalah senyuman yang sangat Jeanelle benci. "Lagipula ini adalah perintah Pangeran untuk membasmi semua pengkhianat."


Jeanelle membelalak terkejut saat mendengar pernyataan itu. Perintah Pangeran katanya?


...||β€’||β€’||β€’||β€’||...


"Tidak, Rena..." seorang pria terduduk dihadapan kuburan Rena. Pria bersurai emas itu menangis dengan putus asa, tatapan penuh kebencian dan kehampaan tergambar dengan jelas diwajahnya.


Jeanelle hanya bisa melihatnya dari kejauhan, ia tidak berniat untuk mendekatinya.


"Pergilah."


Jeanelle terdiam, pria itu tau kalau Jeanelle ada disana.


"Ini adalah belas kasihan dari saya." pria itu melempar sebuah kantung berukuran sedang berwarna coklat. "Ambil itu dan pergilah."


"Kenapa kau membantuku Louis? Aku sudah membuat Rena terbunuh." tatapan Jeanelle terlihat kosong.


"Karena saya mencintai Rena, saya tidak bisa melukai orang yang Rena cintai. Karena itu saya mohon agar anda pergi dari hadapan saya."


...||β€’||β€’||β€’||β€’||...


"Dimana Jeanelle?!" tanya Kai sembari menatap wanita dengan surai yang dikepang dua.


"Saya tidak akan memberitahunya." Regina menatap Kai dengan tatapan tajam.


"Kau tau kan kalau aku tidak bisa melakukan ini pada mu? Tolong mengertilah." kata Kai dengan suara yang bergetar dan tatapan sendu.


"Yang Mulia, lebih baik bunuh saja saya. Bagaimana bisa saya menyerahkan sahabat saya untuk dibunuh? Sekalipun itu anda, saya tidak akan memberitahunya."


"Maaf Yang Mulia, saya lebih memilih Jeanelle daripada anda."


Crash... Saat itu juga toko yang awalnya memiliki wangi bunga berubah menjadi bau anyir darah.


...||β€’||β€’||β€’||β€’||...


"Hyun?" panggil Jeanelle yang membuat pemuda itu menoleh dan tersenyum kearahnya.


"Jangan khawatir, apapun yang terjadi aku pasti akan melindungi mu." pemuda itu mengelus surai Jeanelle dengan lembut.


"Aku sudah kehilangan segalanya, kurasa tidak ada bagusnya jika aku kehilangan mu juga."


Hyun terdiam. "Maaf Jeanelle." Hyun menempelkan keningnya dengan kening Jeanelle. "Kau terlalu berharga untuk ku."


"Hyun?"


Syuk... Sebuah anak panah melesat dan menembus jantung Hyun. Jeanelle terdiam, ia tidak terlalu terkejut. Pada akhirnya ia tidak memiliki apapun. Pada akhirnya ia kehilangan segalanya.


"Tolong bahagia lah untuk kami." setelah mengucapkan kalimat itu Hyun pun terjatuh di pelukan Jeanelle.


...||β€’||β€’||β€’||β€’||...


"Maaf kan aku." ucap seorang pria sembari menangis dan memegang tangan seorang wanita yang tengah berbaring di sofa. Wajahnya begitu pucat dan tubuhnya dingin.


Jantungnya sudah tak lagi berdetak. Penyesalan terbesarnya adalah mereka tidak memaksa wanita ini untuk pulang.


"Kami bersalah, karena itu kami minta maaf."


*"Tolong jangan seperti ini." *


Mau mereka menangis seperti apapun mereka tidak dapat mengubah keadaan. Mereka tidak bisa mengulang waktu, sekalipun mereka bisa mengulang waktu maka semuanya tak akan pernah sama.


...||β€’||β€’||β€’||β€’||...


"Kalau kebahagiaan membuat ku kehilangan segalanya, kalau bahagia itu adalah sebuah kutukan lebih baik jika aku tidak bahagia."


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


"Kenapa dia tidak membuka matanya? Ini sudah 2 Minggu." ucap Terry sembari menatap Jeanelle yang terbaring di ranjangnya.


"Kau kan penyihir, apa kau tidak bisa melakukan sesuatu?" tanya Baila pada sosok pria bertudung yang ada di belakang Terry.


"Kau ingin aku melakukan apa? Menghancurkan sihirnya? Menghancurkan ingatannya?"


"Kau?! Pertahankan sopan santun mu!" sentak Kai kesal.


"Sopan santun?" pria itu tersenyum miring. "Kita semua ini pendosa, kenapa harus ada sopan santun diantara kita? Dan juga apa sopan santun itu penting sekarang?"


Kai terdiam, ia tak mau membalas ucapan pria itu. Semakin ia membalasnya maka semakin pria itu senang mengejek dirinya.


"Diantara seluruh penyihir di dunia, kenapa harus dia sih?!" cibir Kai kesal.


"Karena tidak ada yang bisa menandingi kehebatan ku." sombongnya.


Suasana kembali hening, Terry duduk disamping Jeanelle. Ia menggenggam tangan Jeanelle sambil mengalirkan sihirnya agar sihir Jeanelle kembali stabil. Lebih baik ia melakukan hal ini daripada harus mendengarkan ocehan pria gila itu.


Mereka terus memperhatikan Jeanelle dan tak lama kemudian Jeanelle perlahan membuka kedua matanya, namun tatapannya terlihat kosong. Ia tiba-tiba bangkit dari tidurnya.


"Jeanelle--"


BRAK... Jeanelle tiba-tiba saja mendorong tubuh Terry dengan keras hingga pria itu terjatuh dengan posisi telentang. Jeanelle menduduki tubuh Terry dengan kedua tangan yang menggenggam belati.


Oh, itu belati yang tergelak diatas meja samping ranjang tadi kan? Belati pemberian Suno.


"Jeanelle!" ucap Kai dengan panik.


"Kenapa..." suara Jeanelle terdengar gemetar, tatapannya benar-benar kosong seolah-olah tidak ada kehidupan didalam tubuh itu.


Air mata Jeanelle mengalir membasahi wajah Terry. "Kenapa kau terus membuat hidup ku menderita? Kenapa kau membunuh teman-teman ku? Kenapa kau membunuh orang-orang yang berharga untuk ku?"


"Jeanelle..." Terry menatap Jeanelle dengan tatapan penuh kesakitan. Bukan tubuhnya yang sakit tapi hatinya.


"Kenapa kau membunuh ku?"


Deg.


"Maaf, aku benar-benar minta maaf." Terry tidak bisa mengatakan apapun selain permintaan maaf. Apapun yang Terry katakan semuanya hanya terdengar sebagai sebuah alibi untuk membenarkan diri.


"Kalau kebahagiaan adalah sebuah kutukan, lebih baik jika aku tidak bahagia--"


Sebuah tangan menutup kedua mata Jeanelle. "Tidurlah..."


Saat itu juga belati yang ada ditangan Jeanelle terjatuh dan tubuh Jeanelle mendadak oleng, untungnya pria tersebut langsung memeluk tubuhnya.


"Yuristhi, apa yang kau--"


"Aku sudah bilang kan? Kita semua ini pendosa." ucap Yuristhi dengan ekspresi aneh.


...꧁-`π™±π™΄πšπš‚π™°π™Όπ™±πš„π™½π™ΆΒ΄-κ§‚...