IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Sebelum Pergi Berburu



...꧁-`𝙷𝙰𝙿𝙿𝚈 𝚁𝙴𝙰𝙳𝙸𝙽𝙶´-꧂...


...◼...


...◼...


...◼...


Jeanelle menghela nafas lelah, pagi-pagi buta seperti ini Jeanelle mendapatkan kabar kalau Suno akan ikut bersamanya, bertarung bersama monster. Padahal Suno tidak perlu melakukan hal ini.


"Sudah ku bilang, aku akan baik-baik saja dan kau tidak perlu mengkhawatirkan ku begini." Jeanelle berjalan menyusuri kolidor istana, ia akan pergi ke tempat para Kesatria yang akan ikut bersamanya dalam perburuan monster. Rapat memang diadakan disana.


"Kau, Hyun dan Jeremy pergi kesana, mana mungkin aku tidak ikut."


"Kau bisa disini menjaga ibu kota bersama Regina, Zin dan Zen."


"Tidak mau, aku bersumpah setia pada mu jadi aku akan mengikuti mu."


Ya ampun sejak kapan Suno menjadi keras kepalanya seperti ini? Kalau sudah begini Jeanelle tidak bisa berbuat apapun, kelihatannya Suno juga tidak berniat untuk mengubah keputusannya.


"Lakukan saja apa yang kau inginkan." kata Jeanelle yang membuat senyum Suno mengembang.


"Tuan Putri! Tunggu!" panggil Louis tiba-tiba, Jeanelle berhenti berjalan, ia menoleh kebelakang dan melihat jika Louis berjalan menghampirinya.


"Ada apa?"


"Saya sudah mendengarnya, anda akan pergi untuk berburu Monster bukan?"


"Benar."


Apa Louis mengkhawatirkan dirinya? Tumben sekali Louis--


"Karena itu, tolong bawakan saya oleh-oleh inti dan bangkai monster yang banyak."


Seketika Jeanelle terdiam, apa sih yang Jeanelle harapkan dari pria maniak sihir ini? Kalau tidak salah Louis seumuran dengan Diego kan?


"Hey, aku mau pergi untuk berburu Monster bukan pergi jalan-jalan."


"Saya tau, karena itu saya meminta Tuan Putri untuk membawakan saya inti beberapa monster dan bangkai monster."


"Apa kau tidak khawatir dengan ku?"


Louis menyeritkan keningnya dengan heran. "Kenapa saya harus khawatir dengan anda?"


Entah kenapa Jeanelle jadi kesal saat mendengarnya, Suno saja sampai speechless mendengar perdebatan antara guru dan murid ini.


"Murid mu yang masih muda ini dikirim paksa untuk berperang dengan monster, masa kau tidak khawatir sama sekali sih?! Jahatnya!" pekik Jeanelle kesal. Dasar guru berhati dingin.


"Saya rasa saya tidak perlu khawatir karena Tuan Putri pasti bisa mengatasinya. Anda adalah tokoh utama dalam hidup anda dan kehidupan anda di putuskan oleh diri anda sendiri, secara harfiah anda juga tidak dipaksa. Kalau Putri mau, Putri bisa saja kabur kan."


Gk salah sih, tapi apa Louis harus mendeskripsikannya sepanjang itu?


"Kenapa kau sangat percaya diri kalau aku bisa mengatasinya?"


"Karena anda adalah murid saya, kalau anda tidak bisa mengatasinya maka Tuan Putri mempermalukan saya. Lagipula insting saya berkata kalau anda bisa mengatasinya."


"Memangnya aku hidup sesuai dengan insting mu?"


Tapi kalau Louis sampai bilang begitu maka Jeanelle harus berusaha kan? Jeanelle jadi mendapatkan kepercayaan diri berkat Louis.


"Kalau Tuan Putri mati saya akan mengutuk anda."


"Jahat!"


Beneran deh, Kalau begini Jeanelle jadi benar-benar tidak boleh mati kan? Jeanelle bersumpah tidak akan mati dengan mudah. Lebih baik ia mati karena sakit daripada mati karena dibunuh.


...✶⊶⊷⊶⊷❍ ☆ ❍⊶⊷⊶⊷✶...


Jeanelle memasuki aula Kesatria bersama dengan Suno, namun entah kenapa wajah mereka semua menjadi tegang seolah ada berita yang tidak mengenakkan yang baru saja mereka dengar.


"Aku yakin jika aku datang diwaktu yang tepat, tapi kenapa wajah kalian buruk begitu?" tanya Jeanelle yang kini tatapannya beralih menatap kearah Diego.


Diego terdiam sesaat, kemudian ia menyuruh para kesatria untuk pergi meninggalkan tempat itu hingga tersisa mereka bertiga saja.


"Kenapa kau menyuruh mereka pergi? bukankah sekarang ada rapat untuk mengatur strategi?" tanya Suno sembari menatap Diego dengan heran.


"Tuan Putri, apa kita bisa bicara? Bagaimana jika kita mengadakan rapat berdua?"


Jeanelle agak heran tapi pasti ada sesuatu sekarang. "Suno, kau panggil Jeremy dan Hyun ke ruang baca. Tuan Duke mari kita adakan rapat di ruang baca."


...✶⊶⊷⊶⊷❍ ☆ ❍⊶⊷⊶⊷✶...



Jeanelle menompangkan dagunya diatas meja, wajahnya yang kesal tidak di bisa ditutupi lagi.


Jeanelle mendengar kabar dari Diego kalau kepemimpinan atau komando perburuan monster kali ini bukan berada ditangan Diego melainkan berada ditangan Jeanelle. Tentu saja Diego sempat menolak dengan keras, bagaimana pun juga Jeanelle masih anak-anak yang tidak tau apapun tentang pertarungan ini.


Tapi Kaisar yang bersikukuh memaksa Diego untuk menyetujuinya, Kaisar menggunakan Baila untuk mengancam Diego dan Diego tidak bisa berbuat apapun sekarang.


"Dasar kau Kaisar xxxxx benar-benar xxxxx xxxxx xxxxx." gumam Jeanelle kesal namun gumaman itu masih terdengar jelas ditelinga Diego, Jeremy, Hyun dan Suno.


Jeremy, Hyun dan Suno sudah tau kebiasaan Jeanelle jika sedang kesal, kalau Jeanelle sedang kesal seluruh isi kebun binatang dan kata-kata kasar pasti akan keluar dari mulutnya.


Ingin rasanya Jeanelle membuat boneka Voodoo dan menempelkan foto Evan di boneka itu, lalu Jeanelle akan menusukkan paku-paku di boneka itu.


'Oh, apa aku buat seperti itu saja ya? Sepertinya akan ampuh.'


"Jangan!" kata Diego tiba-tiba. "Saya tidak tau apa yang Tuan Putri pikirkan, tapi apapun yang Tuan Putri pikirkan tolong jangan dilakukan."


Jeanelle langsung berdecih kesal, ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Tuan Putri jangan khawatir, saya sudah memikirkan cara untuk mengatasi hal ini. Biarkan semua berjalan seperti biasanya dan saya akan bilang kalau Tuan Putri lah yang memimpin jalannya perburuan ini." jelas Diego yang menurut Jeanelle itu adalah ide yang bagus.


"Tidak bisa, Kaisar pasti telah menempatkan mata disekitar kita. Bahkan sekarang pun ada mata yang melihat kita." Jeanelle melirik sekelilingnya, Diego memang merasa jika ada yang mengawasi mereka sejak tadi tapi Diego tidak menyangka kalau Jeanelle juga merasakannya.


"Saya punya strategi, kalau Tuan Duke tidak keberatan apa anda mau mendengarkan strategi saya?" kata Jeanelle sambil tersenyum picik.


'Lihatlah Evan, aku tidak sebodoh yang kau pikirkan. Kalau kau memang ingin berperang dengan ku maka aku akan menghadapi mu.'


...✶⊶⊷⊶⊷❍ ☆ ❍⊶⊷⊶⊷✶...


Baila berlari di lorong istana, ia mencari-cari Jeanelle dan sialnya kenapa Baila baru mendengarnya sekarang? Tentang Jeanelle yang akan pergi ke perburuan. Pantas saja Baila selalu gelisah akhir-akhir ini.


"Jeanelle!" panggil Baila yang sontak membuat Jeanelle menoleh kearahnya. Jeanelle baru saja keluar dari ruang baca bersama dengan Diego.


Melihat Jeanelle berada disana Baila mengangkat sedikit gaunnya dan berlari menghampiri Jeanelle.


"Aku baru mendengarnya, tentang kepergian mu ke perburuan itu. Kenapa kau menerimanya? Apa kau tidak bisa menolaknya?" Baila menggenggam kedua tangan Jeanelle dan menatap Jeanelle dengan tatapan sendu, Baila mungkin bisa saja menangis sekarang tapi ia menahannya sekuat tenaga.


"Aku akan memohon kepada Baginda dan pergi menggantikan mu--"


"Jangan! Aku sudah menyetujuinya, Baginda akan mengirim ku ke perburuan itu bagaimana pun caranya. Kau cukup menunggu ku disini."


"Tapi Jeanelle, kau bahkan tidak pernah bertarung... Bagaimana jika kau--"


"Semuanya pasti memiliki pengalaman pertama, Putri Mahkota dengar kan aku baik-baik sekarang." Jeanelle mendekatkan mulutnya disamping telinga Baila, ia berbisik.


"Jangan tidur saat malam hari, tidurlah saat matahari terbit, teruslah berjaga ada kemungkinan monster akan menyerang. Kalau monster menyerang Istana, lindungi Mansion Rose lebih dulu, Selir Rose harus selamat. Lalu lindungi Mansion Pangeran, Putra Mahkota dan Mansion ku." Jeanelle kemudian memberi jarak diantara mereka, ia menepuk bahu Baila pelan dan tersenyum.


"Aku pasti akan kembali, kalau aku tidak kembali aku akan dikutuk oleh seseorang. Karena itu kau juga lakukan tugas mu dengan baik, aku akan memberikan Putri Mahkota hadiah jika Putri Mahkota melakukannya dengan baik." Jeanelle tersenyum menenangkan. "Sekarang aku harus bersiap untuk pergi, sampai jumpa lagi." Jeanelle bersama Hyun, Suno dan Jeremy berjalan melewati Baila.


Baila sendiri hanya terdiam mematung disana. Ia mendengar semua apa yang Jeanelle ucapkan tadi.


"Aku pasti akan kembali dan melindungi kalian, jangan khawatir." namun sayangnya gadis itu tidak pernah kembali, mayatnya ditemukan tak berbentuk dengan anggota tubuh yang berserakan dimana-mana.


"Putri Mahkota?" ucap Diego yang membuat Baila tersentak.


Baila seketika memegang tangan Diego, air mata mengalir dengan deras dari kedua matanya. "Ku mohon tolong lindungi Jeanelle, aku tidak mau kehilangannya lagi." ucapnya dengan suara bergetar.


Diego meraih kedua tangan Baila dan menciumnya lembut. "Saya berjanji akan melindungi Tuan Putri dengan nyawa saya, Tuan Putri pasti akan selamat. Karena itu tolong jangan menangis."


Baila terdiam dan hanya bisa menunduk. Ia takut kehilangannya lagi, Baila kan sudah berjanji untuk membuatnya bahagia di kehidupan ini.


'Tolong biarkan dia bahagia.'


...꧁-`𝙱𝙴𝚁𝚂𝙰𝙼𝙱𝚄𝙽𝙶´-꧂...



(𝔻iego 𝕄ichiels)



(𝔹aila 𝔸gnegius)