
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆΒ΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
"Tuan Putri, Minggu depan ada acara pelelangan dan sepertinya Tuan Putri juga tidak ada jadwal khusus saat itu." kata Louis tiba-tiba. Saat ini adalah jam pelajaran ilmu sihir dan entah kenapa Louis tiba-tiba bicara seperti itu.
Tapi memang benar jika minggu depan Jeanelle tidak ada acara khusus, ia sengaja mengosongkan jadwalnya dihari itu.
"Benar, saat itu aku tidak memiliki acara."
"Kalau begitu, ayo kita pergi ke acara itu." ujarnya santai dengan pandangan yang masih fokus menatap buku.
"Apa kau sedang mengajak ku berkencan?" tanya Jeanelle dengan tatapan mata yang berbinar.
Louis mendadak mendongak dan menatap Jeanelle dengan tatapan datar. "Tidak." tolaknya, Jeanelle berdecih malas. Tidak mungkin juga sih gurunya yang berwajah datar itu mengajaknya berkencan.
"Saya mengajak Tuan Putri karena Tuan Putri juga ingin kesana kan? Bukankah lebih baik jika kita pergi bersama? Saya akan meminta izin pada Putra Mahkota dan berkata kita keluar untuk urusan pekerjaan." jelas Louis panjang lebar.
"Aku bertanya-tanya kenapa kau bisa tau jika aku ingin ke pelelangan, apa ada yang memberitahu mu?"
Louis menutup bukunya dan meletakkannya diatas meja. Louis menyilang kedua tangannya di depan dada. "Saya sudah mendengar ceritanya, anda diserang oleh pembunuh bayaran kan? Tapi pembunuh bayaran itu menghilang tanpa jejak sebelum bisa menyentuh Tuan Putri atau Putri Mahkota." Louis terlihat menjeda ucapannya, ia memperhatikan ekspresi Jeanelle yang santai.
"Selain karena perintah Putra Mahkota, saya juga penasaran bagaimana bisa para pembunuh bayaran yang begitu terlatih menghilang tanpa jejak? Saat saya sampai disana hanya ada tengkorak saja dan juga terdapat sisa-sisa sihir milik Tuan Putri. Penyihir biasa atau penyihir Kekaisaran mungkin tidak menyadarinya tapi saya tau persis kalau anda memanggil mahluk iblis itu untuk menghabisi mereka kan?"
"Tidak ada seorang pun yang bisa benar-benar anda percayai di istana ini bukan? bahkan Hyun dan Jeremy yang merupakan pengawal setia anda sekaligus teman anda, anda tidak begitu mempercayainya. Tidak! Mungkin anda lebih ke waspada dan takut terjadi sesuatu pada mereka."
"Kalau saya jadi anda, saya pasti akan pergi ke pelelangan untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan sebagai budak setia yang tidak akan berkhianat. Apa saya salah Tuan Putri?" Louis tersenyum, sepertinya ia benar-benar berpikir jika asumsinya itu benar.
"Aku tidak akan bilang kalau kau salah, nyatanya memang seperti itu." Jeanelle mengangkat kedua bahunya tak acuh. "Tapi kata 'budak' itu terlalu kasar untuk digunakan dan daripada tidak percaya aku memang takut terjadi sesuatu pada mereka."
"Tapi Louis, aku tidak akan mengabaikan orang-orang ku. Walaupun ia sudah bersumpah setia dan hanya seseorang yang ku beli bukan berarti aku akan mengabaikannya dan membuangnya untuk kepentingan ku sendiri. Aku akan selalu menjaga orang-orang yang berpihak pada ku." kata Jeanelle penuh keyakinan, tatapannya bahkan tidak terlihat seperti ia sedang bermain-main. Jeanelle benar-benar serius dengan ucapannya.
Mendengar ucapan Jeanelle entah kenapa hati Louis jadi ikut bergetar, ia bahkan sampai tertegun melihat raut wajah penuh keyakinan Jeanelle. Tak lama kemudian Louis tersenyum. "Saya harap Tuan Putri menepati ucapannya."
"Tentu saja."
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
Jeanelle berlari kecil di kolidor Mansion, ia begitu bersemangat saat mendengar kalau Suno datang berkunjung. Jeanelle bahkan menyuruh Suno untuk menunggunya diruang tengah.
"Suno." panggil Jeanelle saat sudah memasuki ruang tengah, Jeanelle mengangkat sedikit gaunnya dan kemudian tersenyum lebar.
Didalam sana Suno sedang berbincang-bincang dengan Hyun dan Jeremy.
"Salam kepada bintang ke empat Kekaisaran." ucap Suno sembari membungkuk hormat, Jeanelle membalas sapaan Suno dan kemudian menyuruhnya untuk berdiri.
"Aku senang sekali kau datang berkunjung, sudah lama kita tidak bertemu."
"Benar, sudah 3 bulan lebih ya. Kau benar-benar sudah beradaptasi dengan kehidupan sebagai Tuan Putri."
"Walaupun sesekali aku merasa pusing dengan kehidupan di Istana ini. Kau sendiri sepertinya sangat sibuk."
"Kelas penerus lebih sulit dari bayangan ku dan juga saudari-saudari ku sepertinya masih tidak terima dengan keputusan ini." Suno tertawa. "Aku sudah biasa sih."
"Kau terbiasa dengan banyak hal ya." ujar Jeremy.
"Mau bagaimana lagi? Aku sudah mengalaminya sejak kecil." Suno menggidikan bahunya tak acuh. "Ku dengar Jeje juga mengalami percobaan pembunuhan."
"Tapi sepertinya yang di incar adalah Putri Mahkota bukan Tuan Putri." celetuk Hyun.
"Walaupun bisa saja mereka berdua, aku bersyukur karena Jeje bisa mengatasinya." kata Jeremy.
"Ya, saat itu aku dan Jeremy sedang dalam masa pelatihan jadi kesatria lain yang mengawal mereka."
"Tapi bukankah itu aneh? Kesatria yang ditugaskan untuk mengawal Putri Mahkota harusnya Kesatria yang hebat dan juga bukankah Putra Mahkota menempatkan bayangan untuk menjaga kalian? Rasanya aneh kalau tidak ada satupun dari mereka yang menyadarinya."
Apa yang dikatakan Suno itu benar. Entah pembunuh bayaran itu yang hebat sampai bisa menyembunyikan eksistensinya atau mereka semua yang sengaja membiarkan pembunuh bayaran itu bekerja.
"Tapi Jeje sudah mengatasi mereka, bukankah itu berarti para bayangan dan Kesatria mengetahui sihir mu?" tanya Suno.
"Itu mungkin saja, tapi aku melakukannya diam-diam. Sebenarnya sejak awal aku tidak berniat untuk menyembunyikan sihir ini, tapi aku juga tidak ingin memamerkannya."
"Kemampuan mu sudah meningkat, sepertinya aku tidak boleh kalah."
Suno bangkit dari duduknya dan tiba-tiba saja ia berlutut dihadapan Jeanelle. Jeanelle yang melihat hal itu jelas kebingungan, Suno merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah belati. Suno tiba-tiba saja meletakan belati itu dikedua tangannya dan menyerahkan belati itu pada Jeanelle.
"Suno Algabert dengan ini menyatakan bersumpah dengan seluruh jiwa dan raga untuk menjadi pedang Jeanelle Agnegius, saya harap Tuan Putri menerima sumpah saya." Suno mendongak dan tersenyum begitu manis.
Jeanelle tertawa kecil dan kemudian mengambil belati itu, ia meletakan ujung belati itu di atas kepala Suno. "Jeanelle Agnegius menerima sumpah Suno Algabert."
Suno tersenyum dan kemudian mengambil kembali belati itu lalu menyimpannya.
"Aku terkejut karena kau tiba-tiba melakukan sumpah setia." kata Hyun dengan kedua mata yang membelalak kaget. Padahal tadi mereka tidak membahas tentang sumpah setia tapi tiba-tiba secara random Suno melakukan sumpah setia.
"Benar, aku juga terkejut."
Suno terkekeh pelan, ia sudah merencanakan ini sejak lama. Bahkan sebelum Jeanelle ketauan sebagai seorang Tuan Putri. "Aku hanya ingin melindungi Tuan Putri, apalagi setelah ada insiden ini. Bagaimana pun juga Jeje adalah teman ku yang paling berharga dan juga Jeje yang pertama kali mengajak ku bermain, lalu aku bisa bertemu dengan kalian." jelas Suno.
Bagi Suno, Jeanelle adalah cahayanya saat dirinya berada dalam kegelapan. Suno ingat dengan pasti pertemuan pertama mereka.
Apapun yang terjadi Suno bersumpah akan tetap melindungi Jeanelle walaupun nyawa taruhannya.
...κ§-`π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆΒ΄-κ§...