IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Zin & Zen



...꧁-`π™·π™°π™Ώπ™Ώπšˆ πšπ™΄π™°π™³π™Έπ™½π™ΆΒ΄-κ§‚...


...β—Ό...


...β—Ό...


...β—Ό...


Regina terkejut saat pagi-pagi buta Jeanelle sudah menggedor-gedor pintu rumahnya. Tentu saja setelah dibuka kan pintu Jeanelle langsung masuk, namun kali ini ia tidak sendiri melainkan bersama dua orang asing lainnya.


Di Kekaisaran Zetta berbagai macam mahluk hidup memang hidup berdampingan, entah itu dari ras Werewolf, Elf, Drawf bahkan sampai ras Fairy semuanya hidup berdampingan. Namun memang ada kasus dimana dari ras mereka yang diculik dan dijual untuk dijadikan budak Bangsawan salah satunya ya kedua bangsa Elf ini.


"Apa kau membeli mereka dari pelelangan?" kata Regina agak terkejut.


"Darimana kau tau kalau aku ke pelelangan?" Jeanelle tidak ingat kalau dirinya pernah bercerita tentang hal ini.


"Hyun yang memberitahu ku, ia mampir kesini kemarin. Tapi bukan itu yang penting sekarang, kenapa kau membawanya kemari?"


"Oh, tentang itu... Mereka adalah pekerja baru mu."


"Apa?!" bukan hanya Regina yang terkejut tapi juga kedua Elf itu ikut terkejut.


Seolah baru teringat sesuatu, Jeanelle melirik kearah kalung anjing yang mereka pakai, ia membuka kalung anjing tersebut dari lehernya.


"Aku membeli kalian bukan untuk menjadikan kalian sebagai budak ku, tapi kalian tau kan kalau di dunia ini tidak ada yang gratis?" Jeanelle memiringkan sedikit kepalanya dan menatap kedua Elf itu yang hanya terdiam.


'Mereka tidak bisu kan?'


"Ya, sebagai ganti aku membebaskan kalian, kalian bekerja saja disini. Lagipula kalian sepertinya tidak punya tempat untuk pulang, jangan khawatir kalian akan mendapatkan upah dan juga tempat tinggal disini." Jelas Jeanelle, namun tak ada sahutan dari kedua Elf itu. Mereka hanya terdiam dan menatap Jeanelle dengan tatapan aneh.


"Hey, kenapa kalian tidak berbicara apapun?" tanya Jeanelle heran.


"Kami sudah boleh bicara?" tanya perempuan Elf itu dengan tatapan polosnya.


"Apa?"


"Kami ini seorang budak jadi kalau kami mau bicara kami harus mendapatkan izin dari majikan kami." jelas pemuda Elf itu yang sontak membuat Jeanelle dan Regina terkejut. Sepertinya sejak kecil mereka sudah mengalami penyiksaan dan sudah terbiasa menjadi budak.


Apalagi saat melihat pakaian mereka yang compang-camping dan tubuh mereka yang dipenuhi luka. Mereka sudah mengalami penyiksaan sejak kecil rupanya.


"Aku kan tadi sudah bilang, aku membeli kalian bukan untuk menjadikan kalian sebagai budak." Jeanelle menghela nafas.


"Apa?!" kata mereka berdua dengan ekspresi terkejut. Seketika mereka langsung menangkupkan kedua tangan mereka dan berlutut dilantai. Mereka memohon.


"Kami mohon jangan buang kami."


"Kami akan melakukan apapun yang Tuan perintahkan. Kami bersumpah setia pada Tuan."


"Kami tidak punya tempat kembali jadi tolong jangan buang kami."


Melihat kedua Elf itu memohon jelas saja Jeanelle terkejut bukan main, apa mereka tidak mengerti apa yang Jeanelle ucapkan tadi?


"Hey! Apa kalian tidak dengar apa yang Tuan Putri ucapkan tadi?!" Ujar Regina sembari meletakkan kedua tangannya di pinggang, ia menatap kesal kedua Elf yang tengah memohon dihadapannya itu.


"Apa? Tuan Putri?"


Jeanelle mengangguk, ia membuka tudung jubahnya dan melepas cincinnya. Seketika netra coklat Jeanelle kembali ke warna aslinya, Permata ungu.


"Saya Zen dan ini adik kembar saya Zin." kata pemuda itu yang sepertinya masih terkejut.


"Sepertinya kalian seumuran dengan Regina." Jeanelle melirik kearah Regina dan merangkulnya. "Ini Regina, yang mulai sekarang akan menjadi teman kalian. Tapi karena kalian tidak mendengarkan penjelasan ku diawal, aku akan menjelaskannya kembali."


Jeanelle pun mulai menjelaskan kembali apa yang harus Zen dan Zin lakukan, Zen dan Zin yang mendengarkan penjelasan Jeanelle hanya mengangguk paham. Mereka tidak bisa menolak karena mereka menganggap Jeanelle adalah Tuan mereka walaupun Jeanelle sudah melepaskan status budak mereka.


"Pertama-tama kalian harus ku belikan pakaian, untuk sementara Zin bisa memakai pakaian Regina tapi untuk Zen..."


"Ada pakaian Hyun dan Jeremy disini." kata Regina sembari membuka lemarinya dan mengeluarkan sebuah kemeja dan celana bahan, sepertinya kebesaran tapi untuk sementara tak masalah, Regina juga mengeluarkan gaun untuk Zin.


"Besok aku akan memanggil desainer untuk mengukur pakaian kalian, sepertinya Regina juga butuh baju baru."


"Apa? Aku tidak perlu." tolak Regina, ia merasa apa yang sudah Jeanelle berikan padanya sudah cukup.


"Bukankah toko sudah semakin ramai?"


"Ah! Itu berkat mu yang mengenalkan toko kita ke pada nyonya Bangsawan, tapi apa hubungannya?"


"Kau sebagai pemilik toko juga harus tampil menarik dan sepertinya sudah waktunya untuk mu mendapatkan pendidikan."


"Apa?! Aku bukan bangsawan, jadi tidak perlu pendidikan."


"Kau akan segera menjadi Bangsawan, aku percaya itu." Jeanelle menyenderkan punggungnya di dinding. "Sepertinya banyak hal yang harus ku urus."


"Zin dan Zen, apa kalian pernah menggunakan sihir kalian?" tanya Jeanelle yang membuat mereka berdua menggelengkan kepalanya.


"Kami tidak memiliki bakat sihir Tuan." kata Zin.


"Kalian punya, aku bisa melihat eksistensi sihir alam dalam tubuh kalian." kata Jeanelle sembari menatap tubuh Zin dan Zen dengan lekat. Jeanelle bisa melihat aliran sihir berwarna hijau daun dalam tubuh mereka.


Kalau perkiraan Jeanelle benar maka kedua orang ini bisa menjadi mata dan telinganya. Tapi sekarang bukan saatnya Jeanelle mengatakan itu, pertama-tama Jeanelle harus memastikan kesetiaan mereka dan membuat mereka percaya sepenuhnya pada Jeanelle.


Baru setelah itu Jeanelle menawarkan penawaran yang sudah Jeanelle pikirkan sejak lama. Tak hanya mendapatkan dua orang berbakat, toko Regina juga mungkin akan semakin ramai. Kalau begini bukankah sekali mendayung dua pulau terlampaui?


Pendidikan yang mereka dapatkan juga akan membantu mereka kedepannya, mereka bertiga adalah anak-anak yang pintar jadi mereka sudah pasti bisa memanfaatkan pengetahuan yang sudah mereka dapatkan.


Untuk Jeremy dan Hyun, mereka sudah mendapatkan pendidikan di Istana jadi Jeanelle tidak begitu memikirkannya, apalagi dengan Suno dia sudah mendapatkan lebih dari cukup pendidikan.


"Jeje, mata mu bersinar lagi." kata Regina yang membuat Jeanelle tersentak.


Mereka memang sudah sering melihat netra Jeanelle yang bersinar samar, tapi biasanya sinar itu hanya muncul sebentar tapi kali ini cahaya ungu di mata Jeanelle bertahan agak lama.


"Oh, benarkah?"


Ketiga orang dihadapannya mengangguk.


"Sepertinya aku terlalu fokus melihat aliran Manna ditubuh Zin dan Zen." Jeanelle melirik keluar jendela yang menampakkan langit yang perlahan mulai cerah.


"Sepertinya aku harus kembali sekarang, aku akan menghubungi kalian nanti. Nanti siang juga aku akan memanggil Desainer, jadi persiapkan diri kalian." Kata Jeanelle yang kembali memakai tudungnya.


Jeanelle pun akhirnya keluar dari rumah itu dan berjalan pulang. Kalau Louis sendiri sudah diusir lebih dulu oleh Jeanelle karena Jeanelle ingin mengunjungi Regina.


"Sepertinya pekerjaan ku bertambah banyak." gumam Jeanelle.


...꧁-`π™±π™΄πšπš‚π™°π™Όπ™±πš„π™½π™ΆΒ΄-κ§‚...