IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Acara Pelelangan 2



...꧁-`π™·π™°π™Ώπ™Ώπšˆ πšπ™΄π™°π™³π™Έπ™½π™ΆΒ΄-κ§‚...


...β—Ό...


...β—Ό...


...β—Ό...


"Ini dia barang kita yang ke 78, Elf! Satu bangsa Elf seharga dengan 10.000 emas, apa ada yang berani menawar?" seru sang pembawa acara penuh semangat. Beberapa algojo menarik paksa dua orang Elf yang terlihat masih sangat muda.


Surai mereka berwarna kuning keemasan, netra hijau, bibir yang pucat, hidung mancung dan telinga yang agak runcing. Mereka sepertinya kakak beradik, perempuan dan laki-laki.


Melihat para Elf itu mengingatkan Jeanelle pada Baila, kalau tidak salah sang Ratu yang merupakan ibu kandung Baila juga seorang wanita dari Ras Elf.


Jeanelle melirik kearah para bangsawan yang menatap kedua Elf itu dengan tatapan lapar. Wajah mereka yang rupawan memang begitu menarik, sudah pasti nantinya kedua Elf itu tidak akan diperlakukan sebagai mahluk hidup.


"12.000 emas."


"13.000 emas."


Tawarannya begitu tinggi, Jeanelle tidak boleh kalah. Tapi Jeanelle juga tidak ingin bersikap gegabah, dia akan menunggu sampai tawaran terakhir.


"150.000 emas."


"Wah, 150.000 emas? Hebat, rupa bangsa Elf memang tidak bisa di ragukan lagi ya. Tapi apa anda hanya membeli salah satunya?" Jeanelle bisa merasakan senyum licik yang terukir pria itu dari balik topengnya.


"Apa? Tentu saja 150.000 emas untuk dua Elf." kata bangsawan tersebut yang sontak membuat pembawa acara itu terkekeh.


"200.000 emas untuk dua Elf!" seru Bangsawan lain. Suasana kembali hening sepertinya tidak ada yang berani menyaingi Bangsawan itu.


Tapi bukankah itu bangsawan yang tadi menawarkan harga untuk membeli Artefak Chronos? Sepertinya dia sudah membeli banyak barang.


Jeanelle bertatap dengan Bangsawan pria bermata hijau itu, mata hijau? Terlihat tidak asing, Jeanelle pernah melihatnya dimana ya?


Tatapan pemuda itu sangat dingin dan tajam, Jeanelle bahkan merinding saat bertatapan dengannya. Tapi sejak tadi Bangsawan itu hanya membeli mahluk hidup saja. Tapi untuk kali ini Jeanelle tidak akan mengalah.


"500.000 emas!" seru Jeanelle sambil mengangkat papannya tinggi-tinggi.


"600.000 emas!" seru pria itu tak mau kalah yang sontak membuat Jeanelle kesal. Jadi ini perasaan yang Louis rasakan saat beradu penawaran tadi?


"650.000 emas!"


"700.000 emas."


"900.000 emas!"


"Wah, sengit sekali." pembawa acara itu tertawa. Ia sangat menikmati pertarungan menawar harga ini.


'Orang ini kenapa gigih sekali?!' Kesal Jeanelle ketika penawaran harganya tidak selesai-selesai, ditambah sang pembawa acara terlihat begitu menikmatinya.


Pria bangsawan itu berdiri dengan angkuhnya dan menatap Jeanelle tak kalah kesal. Pokoknya Jeanelle tidak boleh kalah!


"2.000.000 emas!" seru Jeanelle kesal yang sontak membuat orang-orang yang berada disana terdiam terkejut.


2.000.000 emas bisa membeli sebuah Kerajaan kecil. Louis terlihat biasa saja karena tadi ia juga mengeluarkan jutaan banyak emas untuk membeli barang-barang ini.


"2.500.000 emas!" seru Bangsawan itu.


"3.000.000 emas!" seru Jeanelle. Kalau lebih dari ini Jeanelle bisa bangkrut. Pengeluaran untuk wilayah Mansion saja lebih dari 3.000.000 emas dalam 6 bulan.


Mengeluarkan 3.000.000 emas sekarang sama saja seperti mengeluarkan anggaran untuk wilayah Mansion selama 6 bulan.


Tapi tidak apa-apa, paling juga habis ini Jeanelle harus memutar otaknya dan bekerja lembur bagai kuda, walaupun uangnya jadi pas-pasan.


'Dasar sialan!' umpat Jeanelle dalam hatinya.


"Apa ada yang berani menawar lagi?" tanya pembawa acara yang membuat suana hening. Pria bangsawan itu terlihat kesal dan menatap Jeanelle tajam.


Akhirnya!


"Selamat untuk Nona bernomor 123, anda bisa mengambilnya saat acara selesai."


Kedua Elf itu terdiam dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan. Ia hanya menatap Tuan barunya tanpa ekspresi.


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


Sesuai perjanjian, Jeanelle dan Louis mendatangi pembawa acara tadi. Karena acara pelelangan ini hanya menerima pembayaran cash, mau tak mau Jeanelle dan Louis harus bulak balik ke istana untuk membawa emas-emas yang sudah dijanjikan tadi.


Jeanelle menatap beberapa koper yang berisi emas dengan tatapan sayang, dia jadi membuang emas-emas ini karena pria sialan itu! Tapi disatu sisi, Jeanelle mendapatkan keuntungan yang luar biasa.


Bangsa Elf terkenal akan bakat sihir dan kepintarannya, yang Jeanelle manfaatkan dari mereka adalah kepintaran mereka.


"Saya tidak menyangka kalau anda akan membuang jutaan emas hanya untuk dua orang dari bangsa Elf ini." kata Louis yang membuat Jeanelle mengangguk.


"Aku juga tidak menyangka akan membuang jutaan emas untuk artefak-artefak itu."


Louis terlihat menghela nafas lelah. "Seluruh artefak itu milik Pemimpin Menara Sihir dan selama beliau belum kembali saya yang bertugas untuk menjaganya, saya bisa mati kalau barang-barang itu tidak ada saat Pemimpin kembali. Jutaan emas itu sangat murah dibanding nyawa saya." jelas Louis, Jeanelle memahami perasaan itu.


"Aku merasakan apa yang kau rasakan jadi aku paham perasaan mu." Kata Jeanelle dan seketika mereka berdua menghela nafas bersamaan.


"Ini barang Nona dan Tuan." kata pria bertopeng badut tersenyum itu. Dia berbeda dengan pria pembawa acara tadi.


"Kalung yang dipasang di leher Elf itu apa?" tanya Jeanelle saat melihat kalung anjing yang melekat dileher kedua Elf itu.


"Ah saya lupa menjelaskan. Mereka tidak akan bisa kabur dari anda kalau anda menekan tombol yang ada di cincin ini." ia memperlihatkan sebuah cincin dengan permata berwarna merah, permata itu adalah tombol untuk mengendalikan Elf tersebut, cincin sihir yang terhubung dengan kalung yang dipakai oleh mereka.


Jeanelle hanya menatap cincin itu dengan tatapan datar dan kemudian mengambilnya. "Kalau begitu kami pergi dulu."


"Baik Nona dan Tuan, terimakasih sudah berkunjung saya harap anda berdua bisa berkunjung lagi." pria itu membungkuk hormat.


Louis kembali mengulurkan tangannya dan sebuah lingkaran sihir teleportasi kembali muncul. Jeanelle menyuruh kedua Elf itu untuk masuk kedalam lingkaran sihir tersebut dan mereka berdua menurut, mereka tidak berkata apapun. Setelah itu baru Jeanelle dan kemudian Louis beserta barang bawaannya.


Lingkaran sihir menghilang bersama hembusan angin meninggalkan pria bertopeng itu seorang diri.


Setelah memastikan jika disana tidak ada orang, pria itu membuka topengnya. Ia menyisir surai orange nya kebelakang dan dengan seringai khasnya ia menatap lurus kedepan.


Kulit pria itu berwarna kecoklatan, surai orange, mata berbetuk kacang almond dengan iris berwarna oranye yang senada dengan rambutnya.


"Aku jadi penasaran apa yang akan Tuan Putri lakukan terhadap bangsa Elf itu, aku harap Tuan Putri melakukan sesuatu yang menarik agar Kekaisaran ini tidak membosankan." Ia menyeringai sambil mengambil bongkahan batang emas.


"Tiga juta ya? Dia tidak main-main rupanya."


...꧁-`π™±π™΄πšπš‚π™°π™Όπ™±πš„π™½π™ΆΒ΄-κ§‚...