
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆΒ΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
"Oh ya, sebelum itu." Jeanelle merogoh saku jubahnya ia mengambil 3 buah permata berwarna hitam. Ia kemudian menggenggam 3 buah permata itu erat-erat dan seketika cahaya samar keluar dari tangan yang tengah menggenggam permata itu.
"Simpan ini, ini akan membantu kalian jika kalian kesulitan." Jeanelle memberikan tiga permata itu pada Hyun, Suno dan Jeremy. Jeanelle tidak perlu memberikannya pada Diego karena toko utama pria memang sudah disetting dengan kekuatan yang luar biasa.
Diego adalah seorang Sword Master level up yang kekuatannya tidak tertandingi. Diego bahkan sudah bisa menjadi Sword Master ketika usianya 10 tahun.
Jeanelle mewajarinya sih, tokoh utama pria maupun tokoh utama wanita harus memiliki kekuatan yang setara agar tidak tumpang tindih. Itulah yang membuat komiknya menarik.
"Ini apa?" tanya Jeremy sembari melihat permata yang berbentuk seperti kacang almond.
"Tempelkan itu di pakaian mu, aku bisa mengetahui keberadaan kalian jika kalian menggunakannya." mereka bertiga menurut.
"Hebat, kau benar-benar mempelajari sihirnya dengan sangat baik." puji Hyun.
Kalau Jeanelle tidak mempelajari sihir dengan baik Jeanelle tidak akan bisa membayangkan reaksi Louis. Dia pasti akan cerewet dan mengeluarkan kata-kata sarkasnya.
"Ngomong-ngomong..."
Jeanelle menarik busur panahnya seketika anak panah keluar dari busur tersebut dan tanpa ragu Jeanelle melepaskan anak panahnya kearah timur tepat dibelakang Suno.
Anak panah itu melesat dan menusuk seorang monster berukuran kecil berwarna hijau dengan taring yang mencuat keluar, hidung dan telinga panjang. Mahluk itu adalah Goblin yang hampir mirip dengan Ras Orc tentu mereka memiliki banyak perbedaan, salah satunya adalah Goblin yang merupakan seorang monster yang tidak terlalu berbahaya.
Goblin tidak memiliki akal dan cenderung bodoh, mereka menyerang secara berkelompok dan hanya mengikuti insting mereka. Mereka adalah monster yang merugikan warga karena sering merusak tanaman dan membunuh hewan-hewan ternak, bahkan terkadang Goblin sering menculik anak-anak untuk dijadikan santapannya.
"Apa?! Bagaimana bisa?!" kata Diego terkejut. Aneh sekali karena Diego tidak merasakan eksistensi Goblin.
"Perburuan sudah dimulai."
"SEMUANYA BERSIAP! IKUTI RENCANA YANG TELAH TUAN PUTRI KATAKAN!" seru Jeremy yang sontak membuat para Kesatria yang hadir disana bersorak.
Kelompok Suno langsung bergegas untuk turun kebawah, anggota Hyun menaiki pohon tinggi yang sekira mereka aman, orang-orang yang dipilih Jeanelle hanya berusaha menghalau monster yang menyerang mereka namun mereka lebih banyak bersembunyi dibalik para Kesatria milik Duke.
Para Goblin keluar dari persembunyiannya dan menyerang mereka semua secara membabi-buta. Mereka bisa mengatasinya dengan mudah, namun Jeanelle yang memang tidak ahli dalam pertarungan jarak dekat tidak begitu membantu dalam hal ini.
Untuk saat ini Jeanelle cenderung bersembunyi dibelakang Jeremy dan memikirkan cara untuk lolos dari situasi ini.
"Apa rencana mu sekarang?" tanya Jeremy dengan tangan yang terus-menerus bergerak mengayunkan pedang untuk menebas para Goblin tersebut.
Jeanelle terdiam, ia berpikir. Goblin yang menyerang tidak begitu banyak tapi bukan berarti mereka tidak waspada, justru mereka harus waspada karena setelah pasukan Goblin mundur maka akan ada monster lainnya yang kemungkinan dua kali lipat lebih besar dari ukuran manusia.
Jeanelle menoleh kearah kanannya ia melihat sosok monster berukuran sangat besar yang tingginya sekitar tiga meter, tubuhnya dipenuhi oleh lumut hijau, ia hanya memiliki satu lubang mata yang besar tanpa ada bola mata didalamnya, bibirnya yang besar ikut menyeringai. Sosok monster itu tak hanya satu melainkan ada sekitar 10 atau lebih, mereka datang secara berkelompok.
Setiap monster memiliki inti yang berbentuk seperti permata dengan berbagai macam warna, inti monster itu adalah nyawa bagi para monster, jika monster tersebut tewas maka inti monster akan keluar dengan sendirinya dan berserakan begitu saja.
Harga inti monster jika dijual akan sangat mahal, apalagi bangkai monster. Tapi bangkai monster memiliki kerugian yang cukup besar dan inti monster memiliki keuntungan yang besar, karena itu orang-orang lebih memilih untuk mengambil inti monster dan membakar bangkai monster.
Tapi bagi Jeanelle kedua hal itu akan sangat berguna untuk dirinya.
"Bersiaplah, setelah ini akan ada monster yang lebih besar lagi." kata Jeanelle yang membuat Jeremy mengangguk. Sepertinya Jeanelle belum memiliki ide lain lagi karena semua masih ada dalam kendalinya.
... βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
Diego menatap Jeanelle yang sedang fokus memanah, Jeanelle menargetkan monster-monster yang bersembunyi sedangkan Diego dan yang lainnya memilih fokus dengan monster yang keluar dari persembunyiannya.
"Tuan Duke!" ujar salah seorang Kesatrianya sembari menunjuk keatas langit gelap yang sedikit tertutup oleh pepohonan.
Diego membulatkan kedua matanya ketika melihat monster yang berbentuk seperti ayam kalkun terbang diatas langit, tubuhnya benar-benar besar dan suara pekikannya begitu nyaring memekakkan telinga.
"Pemanah! Jatuhkan monster itu!" seru Hyun yang berdiri diatas pohon.
Hyun terlihat bergumam dan saat itu juga seekor burung Phoenix yang seluruh tubuhnya terbuat dari api muncul dipundak Hyun.
"Bakar sayap mereka tapi jangan di buat menjadi abu." perintah Hyun yang membuat burung Phoenix itu mengangguk, ia terbang dan mengikuti perintah Hyun.
Diego membenarkan ucapan Jeanelle untuk tidak meragukan perkataan para penggosip. Ucapannya benar, walaupun kemungkinannya kecil untuk monster yang bisa terbang itu muncul tapi Jeanelle berani bertaruh. Bahkan strategi yang Jeanelle gunakan sangat bagus.
"Tuan Duke, akan sulit bagi kita untuk membunuh monster yang bisa terbang. Alih-alih membunuhnya di udara akan lebih baik jika kita memanah sayapnya dan membuat mereka terjatuh, ketika mereka terjatuh dan melihat manusia mereka mungkin akan mengamuk dan saat itu kita bisa memenggal kepalanya dengan mudah."
Diego akui, jika Jeanelle lebih dewasa dari umurnya. Pantas saja Kaisar begitu terobsesi untuk membunuhnya dan Baila begitu mencintai si bungsu ini.
"KAAKKK...." mereka semua menutup kedua telinganya ketika mendengar suara pekikan tersebut. Monster berbentuk kalkun itu tiba-tiba saja berlari, tatapannya begitu marah dan bersiap menyerang siapa pun yang berada dihadapannya.
Crashh... Diego dengan santainya memenggal kepala monster itu dan seketika monster tersebut tewas. Inti monster itu keluar dari tubuhnya.
Diego membiarkan inti tersebut berserakan di tanah, bukan tugasnya untuk mengumpulkan inti para monster.
Tapi bukankah monster burung itu terlalu besar? Diego tidak bisa membayangkan jika monster itu terbang dan memasuki Ibukota.
Disisi lain...
Jeanelle mendesah dengan keras, ia tidak menduga jika ukuran monster tersebut lebih dari 5 meter.
"Sial, aku tidak memperkirakan ukurannya." gumam Jeanelle yang membuat Jeremy terkekeh.
"Sepertinya Hyun dan Suno harus bekerja keras." celetuk Jeremy.
Ya, disini juga harus bekerja keras juga sih.
...κ§-`π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆΒ΄-κ§...