IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Sebelum Melakukan Ekspedisi



...꧁-`π™·π™°π™Ώπ™Ώπšˆ πšπ™΄π™°π™³π™Έπ™½π™ΆΒ΄-κ§‚...


...β—Ό...


...β—Ό...


...β—Ό...


"Apa? Putri mau melakukan ekspedisi ke hutan Skota?!" kata Rena terkejut. Sangking terkejutnya Rena bahkan tanpa sengaja membanting nampan yang berisi kukis dimeja kerja Jeanelle.


Jeanelle memalingkan wajahnya, ia menggaruk pipinya yang tak gatal dengan tatapan takut. Jujur saja Rena kalau marah itu sangat menyeramkan.


Yang Jeanelle tau, Rena itu adalah sepupu ibunya dan begitu mengagumi ibunya Jeanelle yang terkenal cantik. Karena hal itu saat usia Rena 11 tahun, ia sudah menjadi pengasuh Jeanelle. Bahkan Jeanelle cenderung lebih dekat ke Rena daripada ke ibunya.


"Kenapa anda harus kesana?!" omel Rena sambil menatap Jeanelle tajam.


"Rena dengarkan penjelasan ku dulu, aku harus kesana untuk memastikan sesuatu."


"Memastikan sesuatu?" raut wajah Rena terlihat lebih melunak.


"Kau tau kan ingatan random yang tiba-tiba muncul di pikiran ku? Itu terjadi sejak aku datang ke hutan Skota, ku pikir penyebabnya memang ada disana." jelas Jeanelle.


Jeanelle memang menjelaskan juga tentang ingatan yang muncul di kepalanya dan juga kemungkinan tentang waktu yang terus berulang, Jeanelle juga mendapatkan laporan dari Rena jika terkadang wanita itu merasa Deja vu saat melakukan sesuatu. Jeanelle tidak berniat menutupi apapun kepada orang-orang yang tulus padanya.


Namun Jeanelle tidak pernah menceritakan kehidupannya di dunia modern pada siapapun, karena itu memang tidak begitu penting dan mungkin tidak ada hubungannya dengan dunia yang terjadi sekarang.


"Tetap saja tidak boleh!" Rena agak meninggikan suaranya. "Putra Mahkota dan Pangeran sedang ada urusan, Tuan Muda Suno dan Tuan Duke juga sedang kembali ke wilayahnya. Anda juga memberikan tugas kepada Tuan Hyun, apa Putri berniat untuk pergi berdua saja dengan Tuan Jeremy?!"


"Aku cukup kuat loh." kata Jeremy sambil menunjuk dirinya sendiri namun hal itu justru membuat Jeremy mendapatkan tatapan tajam dari Rena.


"Tetap saja tidak boleh."


Jeremy jadi merasa sedih karena dianggap lemah, tapi memang benar sih kalau hutan Skota itu berbahaya. Walaupun saat itu hanya sebuah kebetulan jika seluruh monster menghilang karena ledakan, tapi bukan berarti para monster itu benar-benar menghilang.


"Harusnya anda minta ditemani oleh Tuan Yuristhi saja." wajah Rena terlihat gelisah mengingat jika Yuristhi sedang berkelana.


"Tunggu, kenapa jadi pria itu?"


"Tentu saja karena kalian sepasang kekasih, sudah seharusnya jika Tuan Yuristhi melindungi Putri." Rena terlihat antusias yang malah membuat Jeanelle speechless. Apa Rena juga kemakan sandiwara itu?


"Pftt..." Louis menutup mulutnya menahan tawa. Satu-satunya orang yang tidak kemakan sandiwara itu hanyalah Louis, selain teman-teman Jeanelle tentunya.


Jeanelle menatap Louis tajam. 'Kalau mau tertawa ya tertawa saja, sialan.'


Atensi Rena teralihkan, ia menatap Louis dengan tatapan berbinar. Benar juga, masih ada satu orang yang bisa Rena andalkan.


Rena berjalan cepat menghampiri Louis yang tengah duduk disofa yang berjarak beberapa langkah darinya. "Tuan Louis." panggil Rena yang membuat pria bermata emas itu menoleh dan menatapnya.


Rena agak membungkuk dan kemudian meraih kedua tangan Louis, ia menggenggamnya dan menatap mata Louis dengan tatapan berbinar.


"E-eh? Nyonya Rena?"


Jeanelle menatap mereka dengan seksama, kapan lagi Jeanelle bisa melihat Louis salah tingkah begini? Mungkin Jeanelle bisa membuat hal ini untuk bahan mengejek Louis.


"Apa anda bisa membantu saya?" tanya Rena dengan tatapan berbinar dan wajah yang agak memelas.


Kau Rena memasang wajah seperti itu mana mungkin Louis bisa menolak?


"Ya?"


"Bisakah Tuan menemani Putri ke hutan Skota? Saya khawatir kalau terjadi sesuatu padanya."


"Tentu saja!"


Jeanelle agak terkejut karena Louis langsung mengiyakan dan juga kenapa suaranya agak melembut gitu?! Kemana kata-kata sarkasme yang biasa ia lontarkan?!


"Jangan khawatir, saya pasti akan melindungi Tuan Putri untuk anda." Louis tersenyum cerah tapi hal itu malah membuat Jeanelle kesal.


"Bukankah sebaiknya dia juga bersikap seperti itu pada ku? Aku kan muridnya." ucap Jeanelle sambil menunjuk kearah Louis.


Jeremy berdiri dibelakang Jeanelle dan memegang kedua bahunya. "Tapi kau bukan orang penting dalam hidupnya."


'Wah, sialan. Aku jadi kesal!'


Tapi memang benar sih, disetiap kematian Rena yang Jeanelle lihat, disana pasti ada Louis yang meraung frustasi. Jeanelle jadi merasa bersalah kalau mengingatnya.


Setelah dipikir-pikir Jeanelle tidak pernah melihat kematian Louis juga. Jeanelle tidak pernah bersentuhan dengan Louis karena Louis yang selalu menghindar setiap Jeanelle ingin menyentuhnya.


'Memangnya aku kotoran?!' Jeanelle jadi semakin kesal.


Menurut penjelasan Yuristhi, alasan kenapa Jeanelle bisa melihat kematian seseorang mungkin karena sihir kegelapan miliknya. Manna sihirnya yang terlalu banyak tidak bisa di kontrol dan akhirnya membuat Jeanelle bisa menggunakan kemampuan sihirnya secara berlebihan.


Tapi berkat kalung pemberian Yuristhi, Jeanelle jadi tidak bisa melihatnya lagi. Itu bagus, kalung itu pasti memiliki sihir pengontrol Manna.


"Sebagai gantinya... Apa anda bisa meluangkan waktu untuk saya?" kata Louis yang membuat Jeanelle keluar dari pemikirannya. Berani-beraninya Louis mengajak Rena kencan didepan matanya.


"KAU!--"


Jeremy dengan sigap menutup mulut Jeanelle dan menahannya dikursi untuk tidak menggangu moment romantis tersebut, tentu saja Jeanelle memberontak.


"Tentu saja." kata Rena sambil tersenyum.


'RENAA!!' Jerit Jeanelle dalam hati. Bahkan saat Jeanelle melirik kearah Louis, pemuda itu tersenyum penuh kemenangan. benar-benar sialan!


...꧁-`π™±π™΄πšπš‚π™°π™Όπ™±πš„π™½π™ΆΒ΄-κ§‚...