
Hari ini hari weekend kebanyakan semua orang bersenang-senang liburan kesana kemari menikmati Hari libur nya tapi tidak dengan Inara. Inara hanya duduk diam di kamar nya memandangi jendela Kamarnya melihat beberapa Orang Berjalan.
Bukan Inara tidak ingin menikmati liburan atau kenapa. Tapi inilah Inara tidak mempunyai teman untuk pergi di halaman rumah kecil Inara. Ada beberapa Anak perempuan yang selalu di dalam kamarnya tidak ingin di ajak bermain, entahlah apa alasanya Inara tidak tahu.
Hingga Inara hanya diam di rumah. Apa daya Inara tidak mempunyai banyak uanb untuk sekedar menghambur banyak uang.
Kesepian?. Iya yang selalu di rasakan oleh Inara. Inara beranjak dari duduknya memasarkan jualan online nya di hp, Ting, terdengar bunyi pesan di hp Inara. Inara mengemasi pesanan tersebut sambil Mengantarnya. Hingga berlarut sore Inara masih di jalan.
Di taman. Inara mengentikan sepeda motornya dan duduk di taman melihat banyak anak kecil bermain di halaman taman yang luas. Inara tersenyum menatap banyak anak kecil yang tertawa bahagia.
Salah satu anak kecil laki-laki yang bermain bola itu mendekati Inara.
"Mbak, Inara ayo main sama kita?" Ajak anak itu sendirian mendekati inara tersenyum manis. Inara membalas senyuman anak kecil itu.
"Gak Zain, mbak mau mampir aja, sekarang sudah sore mbak harus pulang Nanti Ibu Nyariin mbak" jawab inara beranjak dari duduknya mengelus kepala Zain.
Zain, anak kecil laki-laki berumur sekitar 7 tahun yang dekat dengan Inara.
Inara yang selalu ramah dengan anak kecil tak jarang Inara bermain di taman sehingga tak jarang anak kecil yang selalu senang kalau ada Inara terutama Zain.
Zain cemberut masam.
"Yah mbak langsung balik aja" ucap Zain cemberut. Inara tertawa dengan tingkah zain dan menaiki motor beat nya.
Motor yang di kendarai Inara berlalu. Tak berapa lama sampai di halaman rumah kecilnya. Inara masuk. Ada ibunya dan ayahnya pasti sudah pergi bekerja.
Inara masuk ke kamar nya mandi, solat. Mata inara terasa berat Inara mengantuk.
"Hoaamm... Ngantuk, lebih baik tidur sebentar saja" ucap Inara merebahkan tubuhnya ke Ranjang.
" Vin, Kenapa rem nya blong" Teriak seorang gadis kecil sekitar 6 tahun mencoba menjalani sepeda yang sudah rusak. Dengan kecepatan yang sangat cepat . Tangan nya terus saja berusaha mengerem tapi tetap saja tidak berfungsi.
"Vino" teriak Gadis Kecil itu membulatkan matanya di depan nya ada pohon besar. Ia tak bisa mengelak lagi.
Aaaaaaa
BRUKH
Gadis itu terjatuh ke kiri, tangan kirinya terasa sakit
Seorang kecil pria kecil seusia inara langsung berlari ke arah pacarnya yang jatuh. Setelah sampai di hadapannya
"Aaaa Vino, sakit. Ini semua gara gara kamu dan sepeda butut kamu yang rem nya blong" Ucap Gadis kecil itu tak lain inara meringis kesakitan. Masih dengan posisi berbaring.
"Bantuin" mengulurkan kedua tangan nya, Vino membantunya . Setelah membantu pacarnya vino membenarkan motornya.
"Lagian kamu langsung naik sepeda butut itu, Mau di kasih tau rem nya rusak kamu nya aja yang langsung naik." Ucap vino
"Terus kamu gak papa kan?" tanya vino membalik balik an melihat lihat tubuh Inara jika ada yang luka.
" Sudahlah aku mau pulang" cemberutnya pergi meninggal kan vino sendiri.
"Hei tungguin dong" dengan cepat vino memutar sepeda kecil itu sambil mengejar Inara.
" Sial, udah sepeda nya Jelek, rem nya blomg lagi " oceh Inara.
Tidak lama vino sudah di samping inara dengan sepedanya.
"Yuk naik" ajaknya dengan bibir terus senyum ke arah kekasihnya yang udah kesal.
"Gak mau!" Tolak mentah mentah Inara.
". Siapa laki-laki kecil itu?, Kenapa aku tak mengingatnya siapa dia?, Di dalam mimpiku dia bernama Vino, tapi selama ini aku tak pernah mendengar ada yang bernama vino " Tanya Inara bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Setelah lelah dengan pikiran nya sendiri. Inara beranjak dari tidurnya menunaikan solat Maghrib.
Pagi telah tiba. Seperti biasa Inara memakai seragam sekolahnya berangkat sekolah dengan sepeda motor yang selalu di kenakan nya.
Inara sampai di sekolahan masuk ke kelas. Ada tatapan yang tidak suka yaitu Mantan sahabatnya. Sekarang Inara duduk sendiri di depan tanpa di temani oleh siapapun, kosong, bisa di sebut seperti itu.
Guru mengadakan lomba Agustus pada muridnya. Semua murid mendapatkan Giliran Untuk yang minta mengikuti lomba tersebut. Dan terakhir lomba Fashion show. Inara di tunjuk oleh teman teman nya untuk mengikuti lomba tersebut.
Ada tatapan iri dari 3 orang tersebut antara lain. Raysa, Qirana, Widya.
Istrihat selesai. Semua siswa keluar untuk beristirahat. Inara masih membereskan kan buku-buku memasukan nya pada tas. Ketiga perempuan itu mendekati Inara.
"Woy, Inara, Ngomong-ngomong kasian juga kamu putus dengan Aldi, Aldi itu tampan, Kaya Banyak yang ngejar sedangkan Loe?! Hahh Cantik aja kagak" ejek Raysa pada Inara.
Qirana dan Widya tesenyum remeh memandang inara. Inara hanya diam tak menanggapi. Inara beranjak berdiri.
Mereka bertiga mencegah Inara pergi.
"Tunggu Inara!. Gue mau bicara sama loe. Soal lomba fasihin show. Gue gantiin buat mengikuti lomba itu " ucap Raysa mencegah Inara pergi.
"Iya Mending gantiin Raysa aja, Raysa kan oke buat ngikutin lomba itu", timpal Qirana
"Iya" ucap Widya mengiyakan.
Inara diam berdiri berpikir sambil melihat ke tiga orang tersebut.
"Tapi tadi sudah di putuskan. Lagian aku juga ingin mencoba lomba fashion " jawab inara.
Raysa geram dengan jawaban Inara. Raysa menjambak krudung Inara. Membuat empunya kesakitan.
"Loe berani lawan gue?! Tinggal Nurut aja Loe aman Be*o!!! ", Teriak Raysa membuat Inara kesakitan.
"Hahaha emang dia be** pantes sahabat dan pacarnya ninggalin dia" ucap sinis Widya.
"Aduhhh sakit Raysa!. Lepas huhu ini sakit" ucap Inara memberontak melepaskan Jambakan Raysa gang kuat tak lama Raysa melepasnya.
"Oke sekarang gue gantiin buat ngikutin lomba fashion ya?!" Tanya sekali lagi Raysa sambil memainkan tangannya.
Inara tetap kokoh.
"Gak!"
"Loe berani sama kita hah?!" Teriak Raysa melayangkan tangannya bersiap memukul Inara.
Inara menutup mata nya.
Widya dengan panik menghentikan Raysa.
"Stop Girls Ada Ketua OSIS kemari " ucap Widya menghentikan Raysa.
Raysa berhenti. Lalu mereka bertiga panik.
"Loe sekarang beruntung Inara" Ucap Raysa dengan sinis pada Inara.
Lalu mereka pergi berlalu meninggalkan Inara setelah mengatakan.
Inara diam berdiri menahan rasa sakitnya dan semua cobaan nya.