INARA

INARA
Bab 14. Rindu



"hey, kok begong!" Ucap Danish mengagetkan Inara.


"Hahhh... Nggapapa kok" jawab gugup Inara.


"Kalau ada apa-apa ceritain aja, ngapain ragu-ragu kita kan teman bukanya begitu nar " kata Danish meskipun hanya di jawab anggukan oleh Inara.


Mereka pun kembali diam dan hanya suara berderu mobil yang mengiringi nya sampai ke jalan rumah Inara. Di sepanjang perjalanan Inara Bingung dan penasaran.


'kok kak Danish bisa hapal yah jalan Rumah aku. Apa jangan.. jangan.. kak danish suka sama aku?. Haha ngga mungkin gak mungkin kak danish suka sama aku. Tau diri Inara kamu siapa dan kak Danish siapa nggak sepantasnya aku suka sama kak danish' batin Inara sambil menggelengkan kepala.


Danish melihat Inara geleng geleng kepala ltu pun menjadi penasaran.


"Inara.. kamu nggapapa kan?" Tanya Danish menggetkan Inara. Inara yg sedari tadi menggelengkan kepa menjadi kaget.


"Aku.. Akku. Nggak papa Kok kak Danish. Ngomong ngomong kak Danish kok tau ya jalan rumah aku?" Tanya Inara dengan hati hati. Danish diam dalam terpaku dengan pertanyaan Inara.


Bagaimana gak tau kalau setiap hari Danish selalu mengamati keadaan inara di rumah.


'gimana gue gak tau. Kalau setiap hari juga gue selalu memperhatikan kamu. Kamu aja yg gak tau' batin Danish sambil menatap inara sembari menyetir mobilnya. Inra membalas dengan ber Oh Iya. Akhirnya Danish tidak perlu lagi membalas pertanyaan Inara.


Tak berapa lama akhirnya sampai di rumah Inara. Danish memapah Inara turun dengan hati hati sampai di masuk di rumah Inara. Danish celingukan mencari orangtuanya inra.


"Orang tua aku nggak ada kak, udah pergi " ucap inara mengangetkan Danish. Danish lupa kalau orang tua Inara susah tidak asa kemarin.


"Maaf Nar, gue lupa. kamu yang sabar ya nar, ikhlasin orang yang sudah pergi " Kata Danish mengelus punggung inara. inara malah tersenyum sambil mengingat orang tuanya. baru kemarin pergi.


Akhirnya Danish pulang Setelah berpamitan dengan Inara. Setelah di rumah inra Danish balik lagi ke sekolah berkumpul bertemu dengan para sahabatnya yang langsung di beri pertanyaan.


"Gimana Danish tadi Lancar Nggak ", sentak David tertawa cengengesan. " Yang pasti lancar dong, tuh liat dav Danish senyum terus berarti hatinya sedang berbunga bunga cieeee ciieee assekk" goda Aldo. Danish melempar tisu yang ada di depan nya.


"Diem Lo" jawab Danish tawa.


"assek"


"ada yang lagi kasmaran nih hahaha" Goda Aldo.


"Udah udah jangan ribut terus " Celah David berasa seperti orang dewasa. Akhirnya mereka diam dan melanjutkan menikmati makanan yang sudah di pesankan.


"Biasa bro. Tugas, tapi tenang kok, udah beres. " Jawab Aldo kita di sela sela makan nya


"Jadi giman kelanjutan hubungan loe sama Inara?" The point David, seketika Danish sejenak menghentikan makan. " Biasalah kaya sebelum nya.",


"Jangan lama lama memperhatikannya nanti di ambil orang lagi lie nangis " sindir Aldo.


"Diem Lo, bisa diem nggak!" Tegas Danish menahan marah karna mendengar nya


"Udah udah gak usah berantem. Tapi danish apa yang di omongin Aldo juga ada benernya. " ucap David menengahi.


Danish akhirnya menghentikan makan nyan dan berdiri bersiap untuk pergi.


Danish berdiri sambil melamun melihat lalu lalang siswi lewat sambil melamun kan keadaaan Inara.


di rumah Inara. Inara melamun setelah mengganti bajunya yang tadi basah ambil mengingat orang tua Inara. Inara pergi ke kamar orang tua Inara membuka Kamar ibunya. sepi Itu yang ada di depa kata inara. sepi dan kosong.


"ayah, Ibu, Inara kangen kalian......"tangis pecah inara berdiri di depan pintu.


"kalian terlalu cepat pergi, padahal Inara belum membahagiakan kalian... maafiin Inara yang belum membahagiakan kalian. "


Inara memasuki kamar nya. kehadiran ayah dan ibunya Adah kebahagian yang satu-satu nya ia miliki.


lantas ketika kebahagiaan satu-satu nya hilang harus pergi kemana?.


"aku sendirian Bu" kata Inara menangis mengingat orang yang di cintai nya pergi.


" Ayah"


"Ibu..."


"Inara Rindu"


"harus pergi kemana Bu, ke makam untuk menghilangkan rinduku....?"