
Pada akhirnya Aldi juga makan bersama mereka. Zizi antunitas ketika Aldi bergabung bersama mereka.
"Boleh kita gabung?" Suara dari depan lalu mereka berdua duduk di samping Aldi tanpa persetujuan.
Tuan CEO bersama asisten nya meminta gabung bersama mereka.
Banyak pasang mata dan telinga dengan Tatapan iri pada mereka.
Zizi masih heran kepada Tuan Mereka Masih bergabung bersama sahabat nya.
Apa dia tidak risih bersama kita bawahan.
"Kak Danish mau makan apa?" Ucap Inara yang sedari tadi diam.
"Biarkan aku yang memesan"ucap inara beranjak dari duduknya.
"Tidak usah Ina,biarkan aldo yang memesan" mendapatkan perintah Aldo yang tau menu kebiasaan Danish langsung pergi.
Inara kembali duduk.
Tiba-tiba Zizi dan Aldo merinding.
Inara tetap melanjutkan makanan nya.
"Inara,aku mencari mu setelah lulus kamu kemana aja?, " Ucap Aldi memberanikan diri.
Aldi tidak tau bahwa atasan nya adalah Danish.
Mendengar pertanyaan Aldi membuat darah Danish mendidih. Dia tidak kuat ingin sekali melayangkan pukulan agar tidak mengganggu orang yang di sayanginya.
Danish tiba-tiba beranjak dari duduknya.
"Aku ada urusan, permisi" selapas mengatakan itu dia pergi.
Mereka bertiga hanya bingung mengapa Danish tiba-tiba pergi.
"Lalu bagaimana dengan kabar Pacar baru mu it-u" Inara menanya balik seseorang yang pernah ada di hatinya.
"Apa kamu cemburu nar?"
Zizi yang tadi diam saja berbicara.
"Tunggu pacar baru?, cemburu?, apa kalian saling mengenal Maksudnya apa sih?" Tanya Zizi yang kebingungan.
Inara menghela nafas nya pelan.
Gadis remaja ini masih malas membahas masa lalu.
"Dia mantan pacar ku" jawab Inara sedikit berat.
"Tunggu?!" Zizi malah berpikir keras. Otak minimalis nya berusaha untuk mencerna.
"Mantan pacar? Apa ?!" " Sesaat bola matanya membulat.
"Serius nar, kalian berdua ..."
Inara malah menutup mulut Zizi.
"Udah deh jangan kek gitu,biasa aja kali" ucap Inara.
"Maaf kan aku kaget"
Aldi hanya tertawa Inara ternyata masih sama.
Sayang sekali sahabat sekolah nya nana juga menghianatinya.
"Danish kemana?" Tanya Aldi tiba-tiba datang.
"Udah pergi, kita juga udah selesai makan "
"Aku permisi duluan " Inara berjalan duluan diikuti Aldo dan diiikuti Zizi juga ikut berlari.
"Inara tungguin dong" teriak Zizi.
Jam waktunya pulang
"Capeknya..." Inara merenggangkan tangan nya setelah keluar.
"Inara," aldi berlari mendekati Inara.
"Pulang bareng yuk" ajak Aldi
"Tidak, terima kasih " Inara menghindar.
"Inara, kenapa kau berubah!" Aldi tanpa sadar mencekal keras tangan inara.
Inara kesakitan.
"Lepasin"
"Tidak sebelum kita pulang bareng" Aldi mencekam tangan Inara.
Seseorang langsung memukul pipi kanan Aldi
Aldi langsung melepaskan tangan yang mencekal Inara.
Dan memegang pipinya, merah.
"Jangan kasar sama cewe!" Ucapnya dingin. Aldi merinding melihat sosok Danish yang menyeramkan.
"Kak Daniiissshhh" ucap Inara langsung mendekat pada danish.
"Kamu ngga papa?" Danish lalu menarik tangan Inara untuk melihatnya lebih dekat. Merah. Danish mendadak ingin sekali memukul lagi.
"Aku ngga papa kak Danish, aku mau pulang sekarang "
"Aku antar" tanpa sepertujuan Danish menarik tangan Inara sambil membawa ke parkir mobilnya.
Aldi, sang mantan Inara hanya menatap Inara yang dibawa pergi oleh Danish. Satu gak yang Aldi tidak tahu bahwa Danish mewanti org yg di sayanginya.
"Brengs*k" umpat Aldi menendang botol yang ada di sekitarnya. Rencana ingin mengajak Inara pergi malah gagal oleh laki-laki.
Belum lagi tamparan dari Danish sangat keras, Aldi menyentuh pipinya yang memar.
Sampailah dimana tempat tinggal kos an Inara.
Danish memandang tempat tinggal kos an kecil Inara.
Kecil tapi asri banyak tanaman di halaman.
"Ina, bagaimana kalau kamu tinggal di apartemen ku Saja. Tenang kita akan sebelahan" Danish menawarkan. Ia tak tega melihat tempat tinggal Inara yang kecil.
"Tidak Danish terima kasih, aku banyak merepotkan mu" tolak halus Inara. Inara tidak ingin ada hutang balas Budi.
"Ayo masuk akan ku perkenalkan dengan Gibran" Inara lalu membuka pintu mobil dan berjalan duluan ke rumah kos an.
Gibran?, Siapa dia apa kekasih Inara?, Batin Danish tak suka.
Inara keluar bersama anak kecil.
"Ayo Danish sini" ucap Inara setengah berteriak. Danish segera keluar dari mobil lalu mendekati Inara.
"Kenalin dia Gibran udah aku anggap ponakan ku"Danish mengerut alisnya. Sejak kapan Inara mempunyai ponakan.
"Dia teman mba, namanya Danish panggil saja ' om Danish' "
"Enak aja, saya belum tua yah Ina" ucap kesal Danish.
"Mukanya borosh upppss" Inara langsung menutup mulutnya menahan ketawa.
Danish yang kesal mengabaikan lalu berjongkok mensejajarkan dengan Gibran
" Panggil kak Danish oke"
" Kak Danish boleh aku meminjak sesuatu?"Gibran malu-malu sambil memohon.
Inara melototkan matanya. Ber isyarat tak sopan.
"Tidak apa-apa Inara."
"Emm emangnya kau mau apa anak tampan" Danish mencubit hidung Gibran.
"Emm- it-u mau emm pinjam handphone boleh "
Tanpa banyak tanya Danish langsung mengambil hp nya lalu memberikan nya pada Gibran.
Gibran Langsung kesenangan. Langsung mengambilnya tanpa menghiraukan Inara yang marah padanya.
Gibran lalu memutarkan sebuah video.
Hiks
Begitu syulit lupakan reyhan apalagi Reyhan baiiikkk...
Begitu syulit lupakan lah Reyhan apalagi Reyhan baiiikk
Gibran langsung tertawa melihat video itu. Tak lupa diikuti Danish dan Inara yang mendengar kelucuan dari video tersebut.
"Siapa dia Gibran hemm?" Tanya halus Inara.
"Tiktok mba intan ehh" setelah mengatakan itu Gibran menutup mulutnya.
"Jadi sekarang kau main tik tik yah" ucap Inara dengan nada marah.
Gibran langsung berlari keluar.
"Kabur mbak inara sedang mode galak" teriak Gibran berlari keluar halaman kosan kecil Inara,
Gibran berbalik berbicara.
" kak Danish Gibran pinjam hp nya ya buat nonton kalau hidup ini sulit percayalah lebih sulit melupakan intan huaaaa"
Danish tertawa melihat ke konyolam Gibran.