
Sepulang Sekolah Danish bergegas ke kafe nya bersama Kedua sahabatnya yang selalu menemani nya dengan mengendarai mobil milik Danish melaju dengan kecepatan sedang melintasi kepadatan Kota Jakarta.
Danish, David dan Putra Mempunyai Mobil pribadi masing-masing dengan Hasil Kerja keras mereka meliputi Kafe yang selalu ramai dengan kedatangan anak remaja dan Juga perusahaan di bidang Makanan.
Mobil yang di kendarai Danish Sampai di Luar kafe. Ketiganya keluar dengan Memakai seragam Sekolah SMA nya yang masih melekat Di badan mereka. Ketiganya masuk ke kafe dengan Cool. Para remaja yang semula sibuk dengan makanan mereka seolah terhipnotis dengan pelajar yang sangat tampan.
"La, la Liat Ganteng Banget" Ucap pengunjung remaja wanita menepuk punggung sahabatnya dengan tatapan melihat Ketampanan Danish, David Dan Putra.
Temannya mencari arah tatapan sahabatnya Dan Sampailah arah ke wajah ketiga pria tampan yang menduduki salah satu kursi yang kosong.
"Astaga, Bener-benet Ganteng" ucapnya seakan terhipnotis dengan tatapan nya.
Danish, David dan Putra duduk di salah satu kursi yang kosong.
Danish memanggil Karyawan nya yang akan datang, karyawan nya yang sudah tau dengan wajah Bos nya langsung mengerti dan mendekati bos nya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya karyawannya menunduk Hormat dengan ramah.
"Ambil semua data laporan yang di meja Dan Bawa kesini!", ucap danish dengan cool nya.
"Dan Bawa Minuman apa saja 3 Ya "Timpal Putra yang sudah kehausan.
"Baik tuan" jawab nya lalu menunduk hormat dan berlalu Pergi.
Para pengunjung remaja langsung lari mendekati Danish, David Dan Putra dengan bergrombolan.
"Kakak kok ganteng banget" , David Dan Putra langsung berdiri dari duduknya heran dengan kedatangan para wanita.
"Kak, kak Bisa Foto bareng Nggak?"
"Mancung banget"
"ih, kakak ganteng banget " cubit pengunjung wanita yang mendekati David dan mencubitnya.
Remaja lain juga mencubit pipi Danish membuat Danish marah berani sekali Menyentuhnya.
"Ada apa Ini?!" Ucap Danish setengah berteriak membuat mereka ketakutan di buatnya.
"Maaf kak, kami kemari cuma mau Foto bareng kakak semuanya" Ucap dengan gemetar dari salah satu remaja di situ.
Danish yang sudah geram dan tidak pernah Dekat dengan wanita kecuali Inara. Langsung Marah apalagi ada yang coba-coba mengajaknyNya Foto Bareng.
David yang tau situasi sahabatnya yang tidak ingin berdekatan dengan wanita langsung menengahinya.
"Udah-Udah, kalian semua sebaiknya duduk di Kursi kalian Masing-masing dan kami Mohon jangan ganggu kami, Kami Mohon maaf semuanya" ucap David dengan senyum. Para pengunjung lain akhirnya bubar dan duduk kursi masing masing dengan setengah kesal. keinginan nya yang akan Fotbar tidak tercapai apalagi wajahnya yang sangat tampan.
Mereka bertiga duduk kembali.
"Yang paling ganteng Itu Danish, Loe mah Pas-pas an" ledek David pada sahabatnya, Putra mendengus kesal Mendengarnya.
"Diam aja bisa gak sih Los Dav, " ucap putra dengan kesal. David tertawa terkekeh.
Tak berapa lama karyawannya datang membawa dokumen dan Karyawan di sampingnya datang membawa minuman. Dan meletakan nya di meja nya, berlalu pergi.
Danish langsung mengambil Laporan Itu dan membacanya. fokus Danish sekarang teralihkan. David, Putra Mengambil Minuman mereka Menyeruputnya sampai habis.
Inara, yang masih berbalut selimut terganggu dengan kehadiran suara nada dering telephon yang mengganggunya.
Drrrtttt...Drrrtttt
"Siapa sih yang nelpon" ucap Inara lalu setengah bangun dari tidurnya, mengambil Hpnya Tidak ada Namanya hanya Nomor telephon yang tidak di kenal. dengan Penawaran Inara mengangkatnya.
"Halo, Assalamualikum" Ucap inara Lalu memejamkan mata nya.
"Waaalaikumsalam, Mbak, Mbak akhirnya mengangkat Telfon ku juga, Maafin aku ya mbak ganggu istirahat mba, Aku cuma mau Nanya Bagaimana keadaan Mbak sekarang?" cerocoh sang penelphon, suaranya Seperti laki-laki.
"Maaf sebelumnya, kamu siapa?" tanya Inara yang sekarang sudah tidak mengantuk lagi.
"ih mbak, masa nggak kenal sama aku, aku mba Raksa" ucapnya dengan kesal.
"Mbak Besok Mbak berangkat nggak?, Katanya mba sakit, GWS ya mbak" Ucap raksa.
"Iya Berangkat," jawab inara langsung mematikan sambungan telphon nya setelah tau yang menghubunginya Raksa Adik kelas nya.
Inara kembali berbaring menatap langit-langit kamar nya.
"Raksa" ucap Inara menatap langit-langit.
Raksa Adik kelas Inara, Kelas 10 SMA nya. Dari dulu raksa selalu menyatakan Perasaan nya langsung pada Inara. Inara tidak suka dengan adik kelas, Apalagi di bawah umurnya, menurutnya Orang seperti Raksa hanya bermain-main dengan perasaan nya.
Inara lebih suka Umur nya yang masih sama atau yang lebih Dewasa sehingga mengerti dengan keaadan kita. hingga Inara menolak Arka dan memilih Aldi.
Pagi telah Tiba, Inara segera bangun dari tidurnya dan bergegas mandi. Inara memakai seragam sekolahnya, sekarang tubuhnya lebih mendingan. setelah selesai bersiap-siap Inara keluar kamar dan makan pagi bersama keluarganya.
"Kamu Udah sembuh inara?" tanya Mama inara.
"Udah Ma Alhamdulillah" jawab inara di sela-sela makan nya.
"kalau kurang sehat lebih baik tidak usah berangkat" ucap ayah Inara.
"Tidak yah, Inara udah sehat kok" jawab inara tersenyum pada kedua orang tuanya memastikan dirinya baik-baik saja.
setelah selesai makan inara pamit keluar dan mengendari motor kesayangan nya.