
Diiaaa... Kan " ucap Eliza mengingat seperti bertemu sebelum nya
Eliza mengingat kejadian di Jakarta sepert pernah bertemu dengan nya Dan blarr… orang yang akan dijodohkan ku...
Bukan nya dia yang halangi gue waktu di Jakarta,batin Eliza.
Sedangkan pria itu hanya diam menatap tak bersuara sedikitpun.
Sontak Eliza kaget saat kedua orangtua dari kedua belah pihak mempersilahkan kami untuk berkenalan.
"Sapa dan kenalan lah kalian berdua " ucap orang tua sang lelaki yang akan di jodohkan dengan eliza. Orang tua Eliza tersenyum
"Siapa namamu cantik " tanya orang tua cowo itu.
"Eliza "
"Ouh, nama anaku raksa"
"Kalian berkenalan lah"
“haii?,” ucap eliza dan raksa" hampir bersamaan sambil mengacung jari telunjuk seolah tak percaya.
Kedua orangtua kami sontak berkata" kalaun cocok sekali,” tanya mereka tak percaya.
“Yaampun, ngapain gue dijodohin sama cowok brengsek ini,” batinku.
Eliza lalu diseret raksa menjauhi kedua orangtua kami.
“Lo ngapain coba mau dijodohin ama gua?” tanyanya dengan dingin.
“Heh, siapa juga yang mau dijodohin sama lo. Kalo gue tau elo orang yang bakal dijodohin sama gue yakali gue mau,” jawab eliza tak mau kalah.
"Gue gak mau nikah... Tapi..."
"Tapi?"tanya raksa berbalik
"Orang tua gue yang maksa. Itu juga katna umur gue udah 28 tahun "
"Apa?!" Raksa terkejut. Menyemburkopi nya mendengar umur wanita itu sudah sangat tua.
"Tapi karna penampilan gue dan wajah gue yang cabtik jadi gak kelihatan umur tua kan "ucap Eliza dengan pedenya
Ingin raksa muntah.
"Emang umur Lo berapa" tanya balik Eliza
"23 tahun"
"Apa?!' sekarang giliran Eliza yang tak percaya.
Dari penampilan Raksa seperti sudah dewasa.
"Intinyah gue gak mau dijodohin " ucap raksa.
Pria itu masih mengejar cinta lamanya.
“Udah mending lo jujur,” katanya tak puas.
“Ngapain coba mama sama papa mau jodohin aku sama bocah galak gini,” kata Eliza mengejek.
“Idihh, siapa juga yang mau sama lo seharusnya Lo itu sama kakak gue. ,”
"Lo punya Kaka dek raksa?" Tanya Eliza dengan lembut.
Aneh,batin Eliza
"Kakak gue gak tau apa-apa, dia ada di luar negri, gue akan kenalin ke kakak gue aja, Lo juga pantes nya jadi kakak ipar gue " ucap raksa menjelaska.
"Terserah "
“Udah ah, intinya gue gak mau dijodohin sama lo,” ucap raksa
“Gue lebih malah,”
“Tapi..,” katanya..
“Tapi apa?,” tanyaku lagi.
“Gimana sama kedua orangtua kita yang udah terlalu berharap?” katanya balik bertanya.
Tak terasa kami berbicara dengan kepada dingin dan sangat akrab tak seperti di sekolah.
Kemudian kami membuat keputusan bahwa kami akan pura-pura saling cinta dan suka di depan orangtua saja dan tidak dibelakang.
kami sudah pulang.
Eliza langsung menuju tempat tidurdan mengangkat telpon dari Inara
"Inara gue sedih" kata Eliza
"Kenapa ?"
“cerita nya panjang "
"Di persingkat dong Eliza.
"Gue di jodohin "
"Terus " bukan nya terkejut Inara malah terdengar biasa saja.
"Yang akan di jodohin sama gue kan masih bocil kayaknya seumuran Lo deh nar, "
"Terus cowo itu katanya mau kenalin kakak nya yang seumuran dengan gue agar sebanding umur "
"Astaga Eliza, berlibet banget sih, kalo dia tampan setampan pangeran mah gak papa lah Eliza umur mah terakhirnya yang penting tampan kaya
"Ekhem" terdengar erangan pria di samping Inara
"Hehe maaf Kak,"
“Tapi tetep aja ngeselin,” kata Eliza tak suka dengan tanggapan inara tentang cowo itu.
Lama berbincang tak lama aku memutuskan telepon dengan alasan ingin beristirahat karena kecapekan.