INARA

INARA
29. Panas



"Lo udah gak ingat sama gue?" Terdengar suara dari sebrang telephon.


"Ada apa kau telphon aku?" Sudah sangat lama Inara dan Nana tidak ada saling bertukar kabar.


"Memangnya kenapa kalau gue telphon Lo bukankah kita ini sahabat?" Inara mendengarnya jijik.


"CK aku gak Sudi punya sahabat munafik" jawab inara


"Aku tanya sekali lagi, ada apa kau telphon kemari ?!" Tanya Inara dengan tegas.


"Temui aku di kafe X nanti malam " jawab Nana di sebrang telphon dengan serius.


"Ok " telphon langsung terputus.


Inara berpikir ada apa sebenarnya tiba-tiba Nana ingin menemui nya. Pasti ada hal yang penting sehingga dia bisa menelpon nya.


Malam pun tiba.


Inara menaiki motor Beat kesayangan nya dan memakai jaket serta helm.


Ia pun menjalankan motor nya malam-malam.


Setelah menempuh perjalanan panjang ia pun memparkir kan motornya dan masuk.


Inara mencari tempat duduk, salah satu seseorang yang ia kenal sedang duduk dan minum jujus.


Nana.


Dia masih suka jus jeruk, batin. Inara lalu mendekatinya.


Inara duduk di depan nya.


Begitu inara datang ada beberapa pelayan yang sedang menyajikan kopi white koffe serta beberapa cemilan di depan nya.


"Lo masih suka makanan sama minuman ini? Gue udah pesenin khusus buat Lo" ucap Nana the point.


"Lo ngga campurin racun kan?" Tanya Inara merendahkan.


Nana malah tertawa


" Ngga, kalau gue mau Lo mati, Lo sekarang gak hidup kan "


Masuk akan.


Inara mendengarnya dengan kesal.


"Gue ingin Lo jauhin Raksa " ancam Nana dengan serius sambil melipatkan tangan nya ke dada.


Inara mengernyitkan dahinya.


Nama seseorang yang juga tidak asing baginya.


Inara berpikir dan mencerna ucapan Nana.


"Apa jangan-jangan Raksa belum nemui Lo yah " sambung Nana yang juga ikut berikut melihat reaksi inara yang hanya diam saja.


"Raksa siapa? " Tanya Inara bebat-benar setelah memikirkan nama itu.


Nana malah tertawa.


"Raksa anaknya pemilik sekolah waktu SMA "


"Emang kenapa kalau gue deketin Raksa? Apa masalahnya dengan Lo?" Tanya Inara menantang.


"Tidak boleh, tidak boleh pokonya jangan sampai Lo deketin Raksa, Dia calon suami gue " bentak Nana. Sampai pengunjung yang sedang makan pun melihat ke Nana yang berteriak.


Nana kembali bersikap biasa.


"Dengerin kata-kata gue Inara, cam kan itu bauk-baik " selepas mengatakan itu Nana pergi setelah membayar dengan kasir.


Inara hanya menatap kepergian dulu sahabat nya.


Inara sama sekali saat ini belum bertemu dengan raksa dan tiba-tiba harus bertemu dengan Nana hanya mengancamnya agar menjauhkan raksa.


Inara di petlihatnya dengan segerumbukna band.


Inara mendekatinya dan ingin menyanyi.


Terlalu indah dilupakan


Terlalu sedih dikenangkan


Setelah aku jauh berjalan


Dan kau kutinggalkan


Betpa hatiku bersedih


Mengenang kasih dan sayangmu


Setulus pesanmu kepadaku


Engkau 'kan menunggu


Andaikan kau datang kembali


Jawaban apa yang 'kan kuberi?


Adakah jalan yang kautemui


Untuk kita kembali lagi?


Bersinarlah bulan purnama


Bersinarlah terus sampai nanti


Lagu ini kuakhiri


Betapa hatiku bersedih


Mengenang kasih dan sayangmu


Setulus pesanmu kepadaku


Engkau 'kan menunggu


Andaikan kau datang kembali


Jawaban apa yang 'kan kuberi?


Adakah jalan yang kautemui


Untuk kita kembali lagi?


Bersinarlah bulan purnama


Bersinarlah terus sampai nanti


Lagu ini kuakhiri


Bersinarlah bulan purnama


Tepuk tangan dari pendengarnya.


Inara menyanyikan lagu dengan mengingat almarhum kedua orang tuanya yang telah tiada.


di sambut oleh tepuk tangan riu dari pengunjung membuat suasana hatinya sedikit lebih baik.


Setelah menyanyikan beberapa lagu karena permintaan pengunjung dan band nya Inara pun bernyanyi.


Setelah selesai Inara di bayar, wah sungguh keberuntungan. Inara tak menolak nya.


mungkin ini yang di namakan rezeki anak Soleha.


Seorang pelayan laki-laki menawarnya jus jeruk, karena Inara haus Inara menerimanya lalu meminumnya.


Glek.


Inara minum hanya beberapa teguk saja tapi ada hawa panas di sekujur tubuhnya.


"Panas " gumam Inara mengibaskan kerudungnya.


Inara lalu pergi ke kamar mandi. Di kamar mandi Inara mencuci muka wajahnya tapi tetap saja, gerah.


Ia pun keluar dari kamar mandi.


Tubuh Inara sudah tak karuan. Panas, gerah rasanya Inara sudah lemas berjalan.


Ia berjalan dan bertubrukan dengan seseorang.


Sebenarnya ada apa dengan minuman nya.


"Kamu ngga papa " ucap seseorang. Inara mendongak, dalam pandangan buram nya Inara meligar raksa.


"Mbak Inara " pekik raksa terkejut melihat keadaan Inara seperti sedang kesakitan.


Raksa mengecek jidat Inara. Tidak panas atau dingin tapi mengapa Inara seperti kesakitan.


"Tolong, panas " lirih Inara. Inara membiarkan raksa menyentuh keningnya ia juga memegang tangan raksa.


Lebih baik. Ada hawa dingin yang menyelimuti nya.


" Jangan di lepas, tlong.... Paanasss, gerah, " lirih inara membuka jaket sweater nya menampilkan hanya baju biasa yang sedikit ketat di tubuh.


"Ada apa dengan mbak " raksa membawa Inara masuk ke mobilnya.


Raksa sangat susah membaw inara masuk ke mobil nya.


" Apa jangan-jangan mbak inara meminum obat perangsang " pekik raksa terkejut saat menjalankan mbilnya.


Inara sangat sensitif jika mengangkut menyentuh tangan atau pun berciuman.


Tapi kali ini Inara terus menyentuh tangan raksa bahkan memeluknya.


sesaat raksa tersenyum setelah tau, raksa memikirkan sesuatu yang bahkan seseorang pun tidak tau apa keniatan raksa.


laki-laki yang dulu mengejar Inara.


"Inara aku akan membalas mu ketika dulu kau menolak cintaku " ucap raksa dengan memandang Inara yang sedang kepanasan memeluk raksa, raksa sambil menyetir mobil nya.


ada rasa dendam ketika dulu sewaktu SMA Inara menolaknya hingga pada saat di pertemukan raksa akan membalasnya.