INARA

INARA
34. Phobia gelap



POV Inara On


Pada malam ini Eliza numpang tidur di kos an Ku. Suasana mulai malam dam sunyi seperti biasa, ketika aku


melihat satu komplek kos an perumahan tempat aku tinggal terjadi pemadaman listrik. Aku yang saat itu lelah langsung bergegas menuju rumah, sampai di sana aku mulai mengeluarkan hp dari sakuku lalu menyalakan senter kemudian berjalan menuju kamarku untuk mengganti pakaian.


Dari dalam dapur terdengar suara Eliza sedang menyiapkan makan malam, dan aku langsung bergegas ke ruang makan yang letaknya tidak jauh dari kamarku untuk makan malam.


Saat itu ruang makan hanya diterangi oleh lilin jadi suasana makan malam itu agak sedikit membuatku tidak selera karena keadaan gelap yang memang aku takuti sejak kecil. Selesai makan aku pun ke luar untuk mencari udara segar, di luar hanya ada kendaraan yang sesekali lewat menerangi jalan komplek


Tidak ada suara kata dari Eliza.


"Eliza kamu ngga papa kan" teriaku dengan suara santai, Aku mengangguk dengan perasaan agak berat.


Aku keluar melihat sekeliling lagi. Lagi lagi


Lampu padam a ku kembali masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamar, dalam kamar aku menyalakan laptopku untuk mendengarkan musik dan memeriksa tugas-tugasku yang telah kukerjakan kemarin.


Di kamar yang sunyi, hanya paparan sinar dari layar laptop yang menerangiku, terdengar suara pintu depan rumahku terbuka, aku hanya diam dan berpikir itu orangtuaku yang baru saja pulang dari supermarket. Saat itu aku memanggil ayahku dari dalam kamar,


Tak berapa lama,


"Inara,gue bawain pizza nih" dengan suara agak nyaring. Aku sejenak menghentikan pekerjaaku dan menjawab dengan semangat “Oke.. sebentar lagi selesai eliza…” kataku bersemangat. Aku bergegas menyelesaikan pemeriksaan tugasku lalu aku ke luar kamar dan berjalan sambil membawa hp untuk senter menuju ruang makan.


Ketika sampai di ruang makan tiba-tiba senter di hp ku mati, “. “lilin yang tadi nyala di sini mana za?” kataku heran, “Mati.. udah habis lilinnya…” Eliza menjawab.


Entah hanya perasaanku saja atau memang lilin itu sudah habis, tapi sejak aku makan waktu pulang k tadi, lilin itu masih ada tiga buah dan masih bisa bertahan sampai dua jam. Aku tetap berpikir positif dan tidak mau mengada-ada.


“Ini makanan kesukaan kamu…” kata Eliza sambil memberikan makanan kepadaku, sambil mengambil makan yang diberikan oleh ibuku aku meraba-raba tangan Eliza yang saat itu terasa dingin dan kaku, “eliza. Kamu abis megang es ya kok tangannya dingin banget? apa hawa AC supermarketnya masih nempel di tangan kamu?” tanyaku sambil bergurau, ibuku hanya diam tidak merespon.


Tak lama berselang aku mendengar suara orang mengetuk pintu depan rumahku, aku bergegas menuju pintu depan, tapi tiba-tiba Eliza memanggilku dari ruang makan


“nar jangan dibuka itu Cuma orang iseng aja”. Kata Eliza dengan nada agak keras, aku penasaran lalu aku membuka jendela dan mengintip dari dalam. Aku kaget bukan main ketika melihat Danish.


“, cepat buka pintunya”. Badanku lemas seketika, aku menoleh kebelakang dan melihat ke arah ruang makan dalam keadaan rumah yang masih gelap gulita saat itu aku melihat sosok bayangan tinggi berambut panjang dengan wajah yang samar-samar mendekatiku dan aku teriak sambil membuka pintu, aku langsung ke belakang yang berdiri tepat di depan pintu rumah.


“Kenapa kamu nar?” Danish bertanya heran bercampur kaget. “Aku lihat hantu kak badannya tinggi rambutnya panjang” kataku


“Bener kak.. aku bicara sama mereka tadi di ruang makan, suara mereka mirip sama eliza” kataku menegaskan. “Ya sudah.. sekarang baca ayat kursi dan surat Al-Ikhlas tiga kali” katanya lagi dengan tenang.


Beberapa detik setelah membaca ayat-ayat tersebut listrik komplek perumahan kami kembali menyala, aku dan orangtuaku bergegas masuk ke dalam rumah, lalu aku dan ayah berjalan menuju ruang makan dan melihat ada sebuah piring di meja dan sebuah lilin yang masih menyala.


Padahal tadi waktu aku sedang makan tidak ada lilin yang menyala dan makanan yang aku makan juga tidak habis, tapi piring di meja itu bersih seperti habis dicuci.


Hari mulai gelap, awan menghitam, matahari tak terlihat lagi, buru-buru aku lari masuk kerumahnya. Segera membuka pintu dan menguncinya kembali. Jantungnya berdebar kencang sekali, ketakutan!


Danish yang melihatku langsung masuk begitu saja. dan dia memelukku.


"ada Apa hemm" ucapnya dengan lembut.


"ak-u...aakk-u pho-bia gelap"ucapku lalu terisak di pelukan Danish.


"nggapapa ada aku"


“lalu makanan yang aku makan tadi apa?” tanyaku dalam hati. “ina mending sholat dulu sana dari pada mikirin yang macem-macem” kata danish.


“iya sayang ” kataku sambil tertawa kecil


"Eh, ups"Danish melihatku gemas


POV inara off


Inara mulai mengambil handphone dan menelphon Eliza


"Kamu di mana?" Kata Inara dengan keras,karena kesal di dalam rumah tidak ada Eliza bahkan batang hidungnya tak terlihat sejak mati lampu.


Saempunya malah cengengesan


"Maaf, gue tadi keluar,lagi sibuk banget "


"Udah yah nar see you" katanya lalu memutuskan sambungan telephon seenaknya