
Inara sampai di sekolah dengan motor beat nya. Inara bergegas masuk ke kelas.
"Putra, Woy bangun udah siang, kita berangkat sekolah Nih" teriak David membangunkan putra yang masih tidur.
Mereka masih di kafe. Mereka mempunyai kamar satu pribadi yang jika ada Masalah atau apa mereka bisa tinggal di situ sambil bekerja.
"Siram pakai air biar bangun!" Timpal Danish habis dari kamar mandi sambil mengambil pakaian seragam dari lemari.
"Bener juga apa kata Lo" David masuk ke kamar mandi mengambil air segayung dan kembali dan mulai menyiram putra.
"Aaaa... Kebakaran...tolong kebakaran kebarakan " teriak putra langsung berdiri.
Danish dan David tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha" putra menoleh ke arah suara yang menertawainya.
"Ada apa ini, kalian mengerjai ku, kalian lihat kan tubuhku jadi basah kuyup" oceh putra dengan kesal.
"Lo gak liat, kita udah pakai seragam sekolah, hari ini kita berangkat bro. Udah sana mending kamu mandi. Hanya cara ini yang buat kamu bangun, lagian tidur kok kaya sapi" ucap David sambil terkekeh. Putra akhirnya menurut masuk ke kamar mandi sambil tak henti nya menggerutu.
Setelah bersiap-siap. Mereka masuk mobil dan menjalankan nya menuju sekolah.
Di sekolah
Danish, David dan Putra sudah sampai di halaman sekolah. Terlihat tidak ada siswa yang berada di luar.
"Ini semua gara-gara Lo putra, kita terlambat " ucap David setelah turun dari mobil.
"Ya maaf" ucap putra.
Mereka bertiga berjalan di hadang ole guru BK.
"Kalian Jangan Masuk dulu, Kalian datang terlambat bapak hukum, " Ucap Guru BK menghentikan jalan mereka.
"Baik pak, Sudah telat Di hukum Pula" ucap David pasrah. Danish hanya diam.
Istirahat telah tiba.
Semua siswa pergi ke kantin begitu juga dengan Ketiga orang itu pergi ke kantin membeli makanan dan minuman.
"Lapar banget gue, Gue belum makan dari pagi, " putra mengelus perutnya sambil makan yang sudah di beli tadi. Begitu juga yang lainya makan.
"Emangnya kamu aja yang laper, kalau bukan kamu Nggak kesiangan kita pasti udah makan dan gak di hukum" jawab David sambil menguyah makanan.
Fokus Danish teralihkan melihat kedatangan Inara di kantin dan duduk di kantin sambil memesan ke ibu kantin.
Inara memakan makanan yang sudah di beli tadi. Tiba-tiba kedatangan remaja laki-laki duduk di depan Inara.
"Hai Inara, boleh aku duduk di sini?" Ucapnya membawa makanan yang di pegang nya berdiri di hadapan Inara.
"Silahkan raksa" jawab Inara sambil makan. Dia, Raksa.
Raksa menarik kursi nya dan duduk di hadapan Inara sambil makan.
"Inara, gue denger-denger kamu udah putus dengan Aldi, Apa berita itu benar?" Tanya Raksa di sela makanan nya. Inara menghentikan makan nya.
"Iya" jawab Inara lalu mengambil minumannya untuk meminumnya.
"Yes" Ucap dengan pelan raksa tersenyum senang.
Akhirnya gue bisa lagi mengejar Inara, batin raksa tersenyum senang.
"Nar, Ini coklat dari gue" ucap raksa memberikan 3 coklat SilverQuen di meja. Inara mengerutkan dahinya.
"Untuk apa raksa, tidak perlu aku tidak butuh coklat" tolak pelan Inara menatap raksa.
"Gue tau elo suka Coklat makanya ini gue beli buat kamu, kalau kamu nolak gue akan sedih gak mau temenan lagi sama loe" ucap raksa pura-pura sedih.
Inara Tak tega langsung mengambil cokelat itu. "Terima kasih" ucap Inara menerima cokelat yang di sukainya.
"Seharusnya gue yang terima kasih karna udah Nerima cokelat dari gue" ucap raksa.
"kamu baik raksa" kata inara
Para siswa dan siswi yang lain iri dengan kedekatan Inara dan raksa. Raksa yang masih kecil namun tampan apalagi Sifat raksa yang suka senyum dan ramah.
Danish menggenggam tangan nya dan bernafas berat melihat Inara dekat dengan Cowo lain.
David dan Putra menyadari tatapan danish.
"Dav menurut loe inara suka nggak sama si Raksa, dia kan adikelas. Tapi dilihat dari tatapan nya Raksa emamg bener bener ngejar Inara" tanya putra menebak.
Danish menahan kecemburuan nya.
David berpikir sambil melirik Danish.
"Menurut gue Inara gak suka dengan raksa. Dari dulu sebelum jadian sama Aldi banyak adikelas yang mengejar Inara secara kam dia cantik meskipun gak pintar dan Ceroboh" langsung di tatapi horor oleh Danish,
"Maaf maksud gue- bukan begitu. "sambung David.
Bel masuk berbunyi, semua siswa berhenti makan dan berdiri memasuki kelas masing-masing.
Raksa masih mengikut Inara berbicara hal banyak agar bisa dekat dengan Inara.
"Mbak, nanti pulang bareng ya" ucap raksa mengiri langkah Inara. "Gak bisa, kan aku kan ada motor sendiri."
"Tapi Mbak kalau" ucapanya nya terpotong .
"Aku masuk dulu dah.." Pamit Inara melambaikan tangan nya memasuki kelasnya.
Raksa melihat punggung Inara sampai menghilang raksa menatap kelas Inara yang sudah ada gurunya.
Guru menerangkan kepada murid nya.
"Bosan sekali, Ah ya Kiya bolos yuk" ajak Putra menoleh ke David. David mengangguk kan kepala dari tadi menahan Kantuknya.
David menoleh ke belakang mengkode pada Danish untuk keluar. Danish menganggukkan kepala duduk bersama murid lain.
Guru keluar, kesempatan untuk mereka bertiga keluar. Mereka bertiga keluar dan berjalan beriringan. Mereka berpapasan dengan Inara yang mengambil satu buku di tangan nya dari perpus.
"Kalian mau kemana?" Tanya Inara tersenyum pada Danish, David, dan putra.
Mereka bertiga membalas senyuman Inara. Danish yang semula datar dan dingin sekarang berubah senyum berpapasan dengan Inara.
"Kita Mau Bolos, Ups" Putra menutup mulutnya yang sudah kecelpolosan. David dan Danish memberikan tatapan tajam pada Putra.
"Maaf gue keceplosan" Ucap putra takut. Inara tertawa sudah menjadi kebiasaan mereka dan Inara mengetahuinya karena mereka sudah sering di hukum oleh guru.
"Hahaha, selow aku gak akan laporin ke guru kok tenang aja gak usah marah sama putra" ucap Inara tertawa.
"Aku juga malas ini jam pelajaran matematika tapi aku takut di hukum, eh malah curhat, udah dulu ya aku ada kelas Dahh" ucap Inara pergi meninggalkan mereka.
"Dah juga Inara" jawab putra dan David membalas lambaiannya.
Mereka melanjutkan langkahnya.
"Inara enak ya di ajak ngobrol, mana di curhat gak suka matematika" ucap David di angguki putra. Danish hanya diam saja mendengarkan sahabatnya sampai memasuki mobil.
Sebelum masuk ke kafe, mereka mengganti pakaian mereka terlebih dahulu yang sudah ada di Mobil. Dan mulai masuk ke salah kafe terkenal menikmati hidangan khas anak remaja.
"Gini kan enak dari pada bosan di kelas" ucap Putra tersenyum senang.
Bel sekolah berbunyi, semua siswa bersiap-siap pulang. Inara keluar dari kelas sendiri, sudah tidak ada sahabat atau pacar yang biasanya menemani. Inara sudah mulai terbiasa dengan semuanya. Apalagi sekarang Inara melihat Aldi bergandengan dengan perempuan lain.
Sebisa itu kamu Al, melupakan aku, Batin Inara dadanya terasa sesak.
Inara mengusap air matanya berlari menuju parkir mengindari Aldi dan perempuan itu.