INARA

INARA
37. perjodohan 2



Eliza lalu berjalan lesu menuju kamar yang bernuansa Navy. Warna kesukaan nya adalah Navy yang ada di lantai atas.


Langsung merebahkan tubuh di spring bed kesayangan seraya mengambil ponsel. Satu tujuan. Hanya ingin menceritakan semua ini pada Inara, teman yang di temuinya beberapa hari yang lalu. Ia merasa nyaman berada di dekat Inara. Gadis polos dan lugu.


Eliza langsung membuka WhatsApp mencari nama yang tertera 'Inara Polos'


"gue beri nama nya, pasti dia bertanya jika dia tau, dia terlalu tidak curiga pada yang siapapun yang datang." Monolog Eliza pada dirinya sendiri


lalu memulai chattingan dengan Inara.


Setelah menceritakan semuanya, Inara berkata “Kamu harus mengenal siapa orang yang akan dijodohkan denganmu, barulah aku bisa beri tanggapan ,” kata Inara


"Gak gitu Inara " balas Eliza melalui ketikan.


"Tapi apa salahnya kalo kamu melihat siapa yang akan dijodohkan denganmu" balasan Inara. .


“Iya Kan, doain aku ya?” Pinta Eliza


“Sudah tentu,” jawabnya.


"See you Inara,sampai jumpa di Indonesia " pesan terakhir dari Eliza.


Inara lalu menyimpan ponsel dan memejamkan mataku sebentar untuk merasakan istirahat siang.


"Kira kira siapa yang akan kenalkan orang tua ku yah, apakah dia tampan atau tidak."tak berapa lama Eliza tertidur.


Malam sudah tiba. kemudian Eliza bangun dari tidur.


Eliza dibangunkan oleh sang mama.Tak ada niat untuk pergi ke acara perjodohan itu namun apa daya harus menuruti perkataan orangtuaku.


Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul malam. Tersisa 1 jam untuk bersiap. Aku lalu turun sebentar ke bawah. Mengambil minum di kulkas dan meneguknya untuk menghilangkan dahaga.


“eliza, gaunmu sudah mama belikan yang baru. Mama letakkan di lemarimu. Ambillah dan pakai itu malam nanti,” ucap mama nampak antunitas dari kejauhan.


“Iya ma,” jawab eliza sedikit lesu.


Handuk navy sudah Eliza taruh di bahuku. Waktunya mandi. Selesai mandi bersiap menggunakan Ungu muda dengan hiasan yang cantik sekali. Eliza melirik jam yang menunjukkan pukul 20.00.


Eliza lalu mengambil ponsel dan menghubungi inara bahwa sebentar lagi ia akan pergi.


Tap sang empunya tidak online.


"Sedang apa Inara sih, kenapa gak balas pesanku"Eliza menggerutu


Ia butuh refres otak.


“eliza, ayoo berangkat,” ajak mama .


Oh ya mama Eliza bernama Dewi Maharani dan suaminya bernama Boby Raharjo.


“Iya ma,” jawb Eliza


Ternyata mobil kami diparkirkan di sebuah restoran yang mewah. Eliza lalu turun dengan pelan dari dalam mobil. Kami bertiga berjalan bersama ke dalam resto mewah itu. Mata para lelaki tak kukenal melihat eliza dengan senyuman mereka.


Mama dan papaku bersalaman sambil cipika cipiki.


"Jeng nambah cantik aja " katanya pada mamah Eliza. Mamah Eliza tersenyum bahagia.


"Ih kamu juga kok, nambah cantik " jawab sang mamah.


Eliza hanya membalas dengan senyuman tipisku. Kami sampai di meja di mana ada orangtua sosok yang akan dijodohkan denganku.


"Oh yah Eliza ini sahabat mamah, waktu mama kuliah, dia sahabat yang paling setia Sama mama buktinya dia mau menolong perusahaan papah mua" Eliza jengah lalu menyibukkan diri dengan bermain ponsel.


Terdengar para orang tua membahas sosialita sedangkan papah Boby membahas suatu pekerjaan.


"Hampir papah lupa kenalkan dia anak sahabat mamahmu tanga akan dijodohkan dengan mu Eliza" ucap papa.


Eliza tertarik lalu mendongak melihat nya seperti mengenal dia.


"Diiaaa... Kan " ucap Eliza mengingat sepert bertemu sebelum nya.Perjodohan eliza


Eliza dijodohin lalukabur


Eliza lalu berjalan lesu menuju kamar yang bernuansa Navy. Warna kesukaan nya adalah Navy yang ada di lantai atas.


Langsung merebahkan tubuh di spring bed kesayangan seraya mengambil ponsel. Satu tujuan. Hanya ingin menceritakan semua ini pada Inara, teman yang di temuinya beberapa hari yang lalu. Ia merasa nyaman berada di dekat Inara. Gadis polos dan lugu.


Eliza langsung membuka WhatsApp mencari nama yang tertera 'Inara Polos'


"gue beri nama nya, pasti dia bertanya jika dia tau, dia terlalu tidak curiga pada yang siapapun yang datang." Monolog Eliza pada dirinya sendiri


lalu memulai chattingan dengan Inara.


Setelah menceritakan semuanya, Inara berkata “Kamu harus mengenal siapa orang yang akan dijodohkan denganmu, barulah aku bisa beri tanggapan ,” kata Inara


"Gak gitu Inara " balas Eliza melalui ketikan.


"Tapi apa salahnya kalo kamu melihat siapa yang akan dijodohkan denganmu" balasan Inara. .


“Iya Kan, doain aku ya?” Pinta Eliza


“Sudah tentu,” jawabnya.


"See you Inara,sampai jumpa di Indonesia " pesan terakhir dari Eliza.


Inara lalu menyimpan ponsel dan memejamkan mataku sebentar untuk merasakan istirahat siang.


"Kira kira siapa yang akan kenalkan orang tua ku yah, apakah dia tampan atau tidak."tak berapa lama Eliza tertidur.


Malam sudah tiba. kemudian Eliza bangun dari tidur.


Eliza dibangunkan oleh sang mama.Tak ada niat untuk pergi ke acara perjodohan itu namun apa daya harus menuruti perkataan orangtuaku.


Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul malam. Tersisa 1 jam untuk bersiap. Aku lalu turun sebentar ke bawah. Mengambil minum di kulkas dan meneguknya untuk menghilangkan dahaga.


“eliza, gaunmu sudah mama belikan yang baru. Mama letakkan di lemarimu. Ambillah dan pakai itu malam nanti,” ucap mama nampak antunitas dari kejauhan.


“Iya ma,” jawab eliza sedikit lesu.


Handuk navy sudah Eliza taruh di bahuku. Waktunya mandi. Selesai mandi bersiap menggunakan Ungu muda dengan hiasan yang cantik sekali. Eliza melirik jam yang menunjukkan pukul 20.00.


Eliza lalu mengambil ponsel dan menghubungi inara bahwa sebentar lagi ia akan pergi.


Tap sang empunya tidak online.


"Sedang apa Inara sih, kenapa gak balas pesanku"Eliza menggerutu


Ia butuh refres otak.


“eliza, ayoo berangkat,” ajak mama .


Oh ya mama Eliza bernama Dewi Maharani dan suaminya bernama Boby Raharjo.


“Iya ma,” jawb Eliza


Ternyata mobil kami diparkirkan di sebuah restoran yang mewah. Eliza lalu turun dengan pelan dari dalam mobil. Kami bertiga berjalan bersama ke dalam resto mewah itu. Mata para lelaki tak kukenal melihat eliza dengan senyuman mereka.


Mama dan papaku bersalaman sambil cipika cipiki.


"Jeng nambah cantik aja " katanya pada mamah Eliza. Mamah Eliza tersenyum bahagia.


"Ih kamu juga kok, nambah cantik " jawab sang mamah.


Eliza hanya membalas dengan senyuman tipisku. Kami sampai di meja di mana ada orangtua sosok yang akan dijodohkan denganku.


"Oh yah Eliza ini sahabat mamah, waktu mama kuliah, dia sahabat yang paling setia Sama mama buktinya dia mau menolong perusahaan papah mua" Eliza jengah lalu menyibukkan diri dengan bermain ponsel.


Terdengar para orang tua membahas sosialita sedangkan papah Boby membahas suatu pekerjaan.


"Hampir papah lupa kenalkan dia anak sahabat mamahmu tanga akan dijodohkan dengan mu Eliza" ucap papa.


Eliza tertarik lalu mendongak melihat nya seperti mengenal dia.


"Diiaaa... Kan " ucap Eliza mengingat seperti pernah bertemu sebelum nya.