INARA

INARA
35. Senja



POV Inara


Aku terpana olehnya. Bukan,bukan kamu, Senja. Aku sama sekali tidak terpana oleh keindahanmu. Langit yang berwarna merah keunguan itu lebih menarik perhatianku. Bukan kamu, Senja!


dulu aku, seperti orang bodoh, aku masih kembali ke tempat ini. Tempat yang selalu membawaku ke masa lalu. Tempat yang selalu membawa memoriku tentangmu. Ini lucu dan mungkin kau akan tertawa jika aku berkata bahwa aku mendambakanmu hadir ditempat ini lagi. Mendambakanmu untuk kembali dan kita bisa membuat lebih banyak memori di sini. Lucu bukan? Bagaimana kalau aku mengenalkan diri? Hai, aku adalah bulan yang sedang mendamba kehadiran matahari di malam hari.


Hari ini aku melihat laut di tengah senja yang indah, tak berapa lama ada suara berisik dari arah agak jauh, aku melihatnya Aldi, ah, dia hanya masalalu.


Dia mendekatiku.


"Inara " katanya tak percaya melihatku dengan senang.


Kenapa aku bertemu dengan nya hari ini aku pergi bersama Danish lalu tiba tiba Aldi datang, mantan kekasihku.


"I Miss you Inara" katanya, aku mendengarnya sangat jijik.


"Singkirkan kata-kata mu itu, aku muak mendengarnya " ucapku dengan sinis.


Dia marah


Tiba tiba Danish datang.


Dia memang penyelamatku.


"Ada kamu" bentak Danish marah Aldi melihatku tak suka hubunganku dengan Danish.


"Enyahlah kau merusak semua momen hati ini"


"Gue akan rebut Inara kembali"


Aldi pun pergi membawa kekesalam


Aku mengingat semua kata-kata manisnya. Senyumannya, dan semua hal menyangkut tentangnya menjadi memori indah yang terekam jelas dikepalaku. Tapi satu hal yang membuatku membencinya. Selayaknya senja pada hakikatnya, dia datang membawa keindahan, membuat seluruh dunia memujanya. namun keindahannya hanya belangsung sementara. Saat malam datang, semua berubah menjadi gelap.


“Tolong jangan mencintaiku terlalu dalam, hal itu akan menyakitimu.” Aku sekarang paham makna dari kata-katamu merujuk pada kenyataan ini, kenyataan bahwa kau dan keindahanmu meninggalkanku lebih dulu, untuk selamanya.


POV off


__


POV danish


Disini, ditempat pertama kali kita berjumpa, aku masih setia menunggumu hadir. Saat langit menunjukkan senjanya, aku berharap kau juga ada disana. Tersenyum kepadaku dan menceritakan banyak cerita. Namun, kenyataannya bayangmu saja tak kasat oleh mata.


Aku masih disini dengan cerita yang sama dan aku merindukanmu dengan sangat setia, Senja. Aku selalu berdoa setiap langit melukiskan senjanya. Doaku adalah agar aku bisa bahagia disini, tanpamu. Dan dengan begitu, kau juga bisa tersenyum bahagia dari tempatmu berada. Aku harap senja bisa menenggelamkan rinduku padamu. Merindukan mu rasanya hatiku seperti tersayat oleh belat.


Dan sekarang, senja sudah terlelap, bersama dengan semua anganku tentang dirimu. Terimakasih telah memberiku satu pelajaran berharga. Berkatmu, aku menjadi lebih banyak bersyukur dan menikmati momen berharga di hidupku. Karena aku tahu, kadang-kadang Tuhan menciptakan sesuatu yang sangat indah, tetapi hanya berlangsung sementara. Seperti kamu, Senja


Diantara sekian banyak santri putri yang kukenali namanya. Ada satu nama yang mampu menyita


perhatianku. Inara namanya. Terdorong rasa suka yang begitu mendalam. Akupun berani untuk


menyatakan perasaan sukaku itu kepadanya. Dan rupanya diapun memiliki perasaan yang sama bagiku.


Dia juga menaruh suka padaku dan hal itulah yang menyebabkannya mau menerimaku sebagai


membuatku bingung.


Aku tidak tahu bagaimana cara melanjutkan atau mempertahan hubungan ini sampai pada jenjang


Aku harus mencari jalan lain.


Entah darimana datangnya kegiatan yang dulu kubenci itu kini menjadi kugemari. Sesekali aku mengirimkan tulisanku ke media cetak lokal. Suatu ketika pada sebuah senja.


Kemarin malah aku rumah kos an Inara. Mengajaknya ke laut di pagi senja. Mulai saat itulah terbuka jalanku untuk terus melanjutkan hubungan percintaanku dengan inara. Jalan itu kami namakan jalinan asmara dalam tinta.


Saat matahari setengah berhasrat turun ke peraduan, di remang langit, ia tinggalkan begitu banyak pesan, diantara rasa enggan dan sebuah keharusan.


Tuhan pasti punya alasan telah memisahkan siang dan malam di tapal batas senja, mungkin agar kita tidak tiba-tiba jatuh dalam kecewa karena telah kalah berseteru dengan waktu dan letih berselisih dengan hari dan agar sebagian kita tak lantas lekas berpuas diri.


Di batas masa yang hanya sepelangkah maut, Tuhan perintahkan kita untuk bersujud.


Ketika mata cahaya mulai meruyup, bunga-bunga dan dedaunan ikut menguncup dan naluri seolah memaksa semua makhluk takluk merunduk: bersimpuh pada duli Sang Penentu Waktu.


.


Betapa bersahaja sebuah senja, begitu tenang dan agung. Ketika ia hadir, seisi alam jatuh dalam diam: hening, tanpa suara. Dan angin hanya berkabar lewat kisi-kisi jendela.


Tidak ada gejolak yang benar-benar menghentak di rembang senja, kecuali sebuah paradoks yang indah: dimana langit yang tenang temaram diterangi semburat warna api matahari yang enggan terbenam.


Aku selalu takjub dengan sifat mendua dari pengalaman ini, seolah menyaksikan sebuah pagelaran epik yang diam-diam berlangsung dalam gerakan lambat.


POV Danish off



"Inara aku mencintaimu" ucap Danish sedikit terbata sambil melirik Inara yang berada di sebelahnya


"Sejak kapan" tanya balik Inara


"Entahlah aku mencintaimu sejak kapan yang aku tau aku benar benar mencintaimu, maukah kau jadi kekasihku" Danish mengambil tangan Inara.


Inara mengangguk.


Danish tersenyum.


"I love you " ucap Danish tanpa malu.


"Aku juga mencintaimu kak Danish aku baru menyadarinya "


!“Tolong jangan mencintaiku terlalu dalam, hal itu akan menyakitimu.” Aku sekarang paham makna dari kata-katamu merujuk pada kenyataan ini, kenyataan bahwa kau dan keindahanmu meninggalkanku lebih dulu, untuk selamanya. Inara takut Danish akan seperti Aldi yang akan mengkhianatinya dan meninggalkan nya


"kau masih trauma dengan masalalu tak masalah aku akan membawamu agar bisa berdamai dengan masalalumu"


"Aku tidak akan pernah tersasikiti justru aku sangat bahagia jika aku mencintaimu setulus hatiku" kata Danish.


"'ih kak Danish sejak kapan pandai gombal". Geli Inara mendengarnya, Danish hanya tersenyum.


"sejak aku mencintaimu