INARA

INARA
Bab 17. Tuan muda



Inara sampai di kos kecil nya, meskipun kecil Inara sangat nyaman tinggal di sana. Meskipun Inara juga terkadang merindukan desa nya. Inara juga sesekali datang ke rumah yang dulu di desa.


Inara langsung mandi karna sudah sangat lelah dan letih setiap hari bekerja di kafe.


Setelah selesai mandi dan berpakaian inara merebahkan di kasur kecil yang hanya bisa di tempati satu orang.


Inara memikirkan kehidupan nya.


Setelah lulus SMA nya Inara hanya fokus bekerja dan bekerja untuk melanjutkan masa depan nya.


Inara tidak kuliah.


Inara tergolong bukan gadis yang sangat pintar. IQ Inara biasa saja. Sayang sekali nasib baik tidak berpihak kepada Inara.


padahal Inara sangat ingin mendapatkan beasiswa


Inara juga bukan tergolong anak orang kaya, setelah orang tua nya meninggal Inara berusaha menerima kenyataan.


Inara mengingat masa dulu Aldi, mantan pacar nya berselingkuh dengan sahabat nya sendiri Alya, Dan juga ternyata alya hanya pura pura manis terhadap Inara.


Inara terisak sesaat hatinya sangar perih mengungatnya.


Tak berapa lama Inara memejamkan mata nya.


Terdengar suara ketikan di kos an Inara.


Biasanya teman Inara di kafe yang akan kemari yaitu Shinta tapi Shinta tidak mengabari kalau kemari.


"Siapa sih?" Gumam Inara akhir nya membuka mata nya dan menunju pintu kos nya.


Inara membuka pintu nya sedikit terkejut melihat tamu nya datang ke kos nya.


"Maaf Inara ganggu istirahat kamu" ucap tuan Riko tersenyum manis.


Tuan Riko membawa sekantong plastik.


"Tuan Riko ada apa kemari bukan nya ini sudah malam" tanya Inara mengernyitkan dahi nya.


"Sekali lagi saya minta maaf nona Inara, saya hanya ingin memberikan mu makanan " jawab Riko sambil menyerahkan sekantong plastik.


"Untuk apa tuan?, Jangan panggil Inara Nona Tuan, saya bukan anak orang kaya sepertinya gak pantas " ucap Inara.


Tetap saja Inara memegang plastik berisi makanan.


"Gapapa pasti kamu belum makan kan"


"Yasudah kalau gitu panggil nya sayang saja yah" goda Riko.


"Ih bapak apa apa sih, panggil Inara saja pak, duduk dulu pak" ucap Inara wajahnya sudah merah seperti tomat. Riko duduk di kursi di depan teras kos Inara. Kursinya ada dua pas banget untuk Inara dan juga Riko.


Inara izin masuk dulu sambil membuatkan 2 kopi hangat dan kedepan menemui Riko.


Inara menaruh gelas yang berisi kopi itu ke Pak Riko.


Inara juga minum kopi Agar Mata Inara tidak mengantuk akibat lelah.


"tuan Riko gak kasih racun atau apa kan pada kue ini " tanya Inara dengan melihat banyak kue kering yang di bawa oleh Riko.


Tuan Riko terkekeh dengan pertanyaan yang menurut Riko konyol.


"Haha gak mungkin lah masa saya tega lihat kamu sakit" jawab Riko menahan tawa.


Inara pun memang sudah sangat lapar pun memakan nya.


"Bapak kesini sendiri?" Tanya Inara di sela sela makan nya.


"Iyah, tadi saya sudah suruh sekretaris saya untuk pulang "


"Inara, jangan manggil saya tuan dong saya terkesan sudah tua" kata Riko agak risih mendengar kata 'tuan' dari mulut Inara.


"Loh bukan nya tuan sudah tua saya, saya juga gak enak manggil panggil tuan Riko selain tuan Riko, karena tuan Riko pengusaha besar "tanya Inara kembali sambil memakan kue nya.


"Saya masih muda inara, saya saja belum masih belum menikah sampai sekarang, tolong lah, nar jangan manggil saya tuan okey " jelas Riko.


Inara kembali menatap Riko.


Riko memang masih muda, wajah nya sangat tampan apalagi Riko bekerja di perusahaan besar.


"Kalau begitu Inara manggil tuan Riko kak Riko saja gimana?" Tanya Inara balik


"Good, setidak nya lebih baik" jawab Riko tersenyum manis menambah ke ketampanan nya.


Inara juga tersenyum menatap Riko yang tersenyum manis, Inara juga menyadari kalau Riko semakin tampan.


"Jangan memandangku lebih dari 5 menit karena kamu akan jatuh cinta kepadaku" ucap Riko menggoda Inara yang tadi menatap Riko. Inara langsung mengalihkan pandangan nya.


Inara merasa malu.


Inara menjadi canggung.


"Hati hati" ucap Inara. Riko semakin tersenyum.


Perlahan mobil nya menghilang.


Teman teman kos Inara mendekati inara.


di sini cuma ada kos wanita.


jadi semua temen kos Inara rata-rata perempuan.


"Gila!, Cowo tajir tuh Inara, loe harus Nerima nya "


" Ganteng banget Inara, loe Nemu dimana cowo kaya tadi"


"Kayak nya dia suka deh sama kamu Inara"


Ucap teman teman kos Inara mendadak mengosip


Inara yang mendengar jadi malu sendiri. Padahal Inara dan Riko bukan siapa siapa.


"Tadi itu kak Riko, pelanggan setia di kafe aku bekerja dia bukan siapa siapa kok, " ucap Inara gadis manis menjelaskan.


Seketika raut kecewa dari mereka.


mereka berharap dia kekasihnya Inara


kalau tidak mereka akan mengejarnya.


mereka juga bertanya banyak hal, Inara hanya menjawab seadanya saja,


Inara tau teman di sini teman teman nya suka ngegosip, apalagi sekarang Inara sedang di dekati pria tampan membuat mereka tertarik mendekati Inara hanya sekedar untuk bahan gosipan. Inara hanya tersenyum tipis.


memang di mana saja gosip selalu ada. tapi bijaklah juga dalam memahami gosip. apalagi gosip yang tidak tau tentang kebenaran.


"oh ya tadi kak Riko bawain kue banyak buat kalian saja yah, Inara udah kenyang soalnya"


ucap inara mengalihkan pembicaraan.


Mereka mengambil makanan yang ada di meja tadi.


"Waahhh makasih Inara loe Emang baik banget" puji mereka lalu memakan nya


Inara menguap.


"Kalian makan aja yah Inara, aku pamit masuk mau tidur besok mau kerja "


para gadis Langsung di acungi jempol.


Inara lalu masuk merebahkan Diri di kasur.


Pagi yang cerah


Sinar matahari sudah muncul di langit.


Inara sudah bangun dari tadi, karena sebelum nya Inara harus menunaikan ibadah solat nya.


Sampai di kafe dengan menaiki bis Inara sampai di kafe tempat nya bekerja.


Semua karyawan di kumpulkan, seperti nya ada berita penting hari ini.


Tibalah bos muda dan sekretaris nya tempat pemilik kafe mengumumkan hal penting.


"Sebelum nya saya minta maaf, kalau dari kalian saya memiliki kesalahan, saya sangat berterimakasih kepada kalian semua sudah bekerja di sini, ada berita penting, saya sudah bukan bos kalian lagi..." Seketika semua karyawan terutama wanita menangis.


Apakah tuan Jack akan pergi atau apa.


Inara juga bingung sekaligus sedih.


Tuan Jack kembali melanjutkan ucapan nya


"Saya sudah tidak bekerja di sini lagi, ekonomi keluarga saya sedang bangkrut Dan juga Kafe ini Sudah di Jual, saya akan memberi kalian semua pesangon Dan semoga kalian bisa kembali bekerja meskipun bos nya bukan saya "


Semua karyawan sudah menangis histeris.


Sekteraris Jack, Nona Maya, juga ikut merasa sedih.


"Semoga kalian semua semakin sukses" itu kata terakhir dari tuan jack.


Seluruh karyawan sudah bubar dan sudah mendapatkan pesangon.


Inara sudah bersiap siap untuk pulang.


Inara juga merasa sedih karen tuan Jack merupakan bos nya baik.


Inara menghela nafas nya dengan berat. Secepatnya harus mencari pekerjaan untuk menghidupi kebutuhan nya.