
Istirahat sudah di mulai
Inara menemui Danish di ruanganya.
"Kak Danish gak jadi keluarin mereka kan " kata Inara duduk di sofa menghadap ke Danish yang sedang membaca dokumen.
Danish sangat merindukan panggilan kak dari Inara.
" Kenapa kau bertanya tentang mereka "
"Saya tidak akan membiarkan orang yang saya cintai di sakiti"
Wajah Inara memerah.
"Aku akan pergi-"
"Makan disini saja, Aldo akan membawakan mu makanan" baru mengatakan itu aldo sudah masuk membawa beberapa box makanan.
"Wah-wah kalian pacaran terus gimana nasibku yang masih jomblo" goda Aldo duduk di hadapan mereka.
Mereka makan siang bersama.
"Gimana kabar mantan mu mar?" Tanya Aldo di sela-sela makanan nya.
Inara menghentikan makan nya.
"Aldi?" Tanya balik inara. Aldo terkekeh.
"Sialan!, Namaku persis kaya mantan mu" desis Aldo namun tertawa.
"Mungkin Lo sama buaya nya?" Timpal Danish lalu mengelus punggung Inara. Seolah membawa kekuatan untuk bersikap sabar.
"Sialan"
Danish melirik Inara, gadis yang dulu waktu sekolah cintai sampai sekarang selalu tergiang-ngiang di kepala nya.
"Udah mending fokus makan jangan ngobrol "
Setelah makan siang Inara kembali kebelakang. Ia di kagetkan dengan suara lantang sahabat nya.
"Inara, yaampun kamu kemana aja sih, gue nyariin kamu dari awal istirahat sampai istirahat selesai loh" teriak Zizi memeluk Inara.
"Em-m gue habis nemuin seseorang " jawab Inara
"Pantes di cariin gak ada"
Raysa bersama geng nya muncul di hadapan Inara dan Zizi.
"Puas Lo,kita semua di pecat"
"Ini semua gara gara Lo! Dasar gadis kampuangan " teriak qirana.
"Gadis Norak kali...." Timpal Rara mengejek
Zizi membela Inara.
"Kalian semua yang bersalah, malah kalian yang bully Inara lagi" bela Zizi.
"Minggir Lo cewe tengil, ini urusan kita Lo jangan ikut campur " sela Raysa.
"Ada apa ini" suara berat mengangetkan mereka semua. Sehingga menghentikan perdebatan mereka.
Hari demi hari telah berlalu. Tidak menyangka Inara sudah bekerja 6 bulan.
Rencana sang remaja tampan akan memindahkan dari Bagian OB ke bagian Leader OB, bukan kah itu sangat menyenangkan.
"Aku seneng deh kamu naik jabatan" kata Zizi, teman kos an nya sekaligus teman di tempatnya bekerja.
"Nanti kamu aku tanya lagi atasan kita siapa tau kamu juga naik"
Zizi tersenyum.
"Kalau gak naik jabatan yah naik pelaminan Hahaha" canda Inara tertawa.
Zizi kesal.
"Ih Na, aku masih ingin menikmati kebebasan masa single ku yah jangan doa kek gitu" teriak Zizi tidak terima.
"Nanti kalau ketemu jodoh juga ngebet nikah" goda Inara.
"Inara...!!!"pekik Zizi kesal.
Di balas tertawa oleh Inara.
Seusai pembicaraan itu mereka kembali lagi bekerja.
Inara yang menjadi kepala OB Membawa banyak berkas-berkas ia harus segera menemui HRD sehingga terburu-buru tanpa sadar ia sedikit berlari.
Bugh
Inara bertubrukan dengan seseorang.
Semua dokumen terjatuh.
Inara dengan sigap langsung mengambilnya.
Mereka berdua sudah berdiri. Seseorang yang menabraknya memberikan bukunya. Inara tentu mengambilnya.
"Terima kasih" ucap Inara lalu menatap seseorang yang hadapan nya.
"Inara....!!!!" Pekik suara di depan.
Wajah Inara memerah, nafas nya terasa sesak. Rindu, suaranya memang begitu merindukan nya namun sakit yang ada di hati nya tetap merasa sangat sakit.
Seseorang yang selalu ada di hati nya menyakitinya tentu saja masih melekat di hatinya.
"Apa kabar dengan Mu Ina" panggilnya sekali lagi. Aldi memakai setelah kantor.
Waktu memang sangat hebat membuat semua orang berubah.
Aldi menatap dari atas sampe bawah.
Aldi membawa id card yang di pakai Inara.
Yang bertuliskan kepala OB.
Inara masih sama terpaku.
Aldi melambaikan tangan nya menyadarkan Inara yang sedari tadi menatap nya namun tidak merespon nya.
Inara yang langsung tersadar langsung pergi. Antara sakit dan rindu.
"Aku permisi dulu " Inara melewati Aldi tanpa menjawab pertanyaan mantan kekasihnya.
Aldi mencekal tangan Inara.
"Ina,apa kamu tidak merindukan ku?" Suara lembut Aldi mampu membuat Inara terpaku.
Rindu?, Tentu saja rindu namun sakit saat kau menghianati ku. Batin Inara.
"Apa urusan nya dengan sekarang. "
"Kenapa kau sekarang ketus padaku Ina, nanti makan siang bareng yah " ajak Aldi belum melepaskan pegangan nya pada Inara.
Aldi begitu merindukan orang yang di hadapan nya sampai lupa kalau dia masih memegang tangan nya.
"Lepasin tangan ku
"Ada apa ini!" Suara berat Danish menengahi pembicaraan mereka berdua.
Danish melihat Aldi, Sang mantan kekasih Inara memegang tangan orang yang di cintai nya.
Sakit, tentu saja. Entah kenapa Danish tak suka Aldi memegang Inara.
Aldi langsung melepaskan tangan nya.
"Kenapa kalian masih di sini?!"
"Maaf tuan, saya permisi" ucap Inara lalu pergi. Inara masih ingat etika di perusahaan.
Kini giliran Aldi berhadapan dengan Danish.
"Kenapa kau masih mengejarnya bukan kah Dulu kamu mencampakan nya!" Kata Danish menusuk.
Aldi langsung gelagapan.
"Em- saya permisi" ucap Aldi menghindari pertanyaan itu.
Aldo yang sedari tadi di samping Danish langsung menepuk pundak sahabatnya.
"Gila, sekarang mantan Inara kerja disini,"
Waktu istirahat tiba.
Zizi dan Inara duduk dikantin.
Tiba-tiba ada aldi. Aldi mendekati mereka.
"Boleh saya duduk di sini?!" Tanya Aldi.
"Tentu saja silahkan" jawab Zizi.
Inara yang sedang makan langsung saja makan meski ada rasa tak enak pada orang yang datang membuat selera nya tidak enak.
Zizi tersenyum pada Aldi. Zizi menatap wajah Aldi yang tampan.
Tanpa mereka sadari ada pasang mata yang menatap mereka.
Danish melihat Aldi mendekati inara.
"Nar,apa kamu akan bersama nya lagi?" Ucap Danish pada dirinya sendiri.
Aldo yang tentu saja di samping Danish hanya diam saja.
"hanya mantan Danish "Aldo sahabat setia Danish tertawa terbahak-bahak.
Danish menatap tajam sahabatnya. Aldo yang menyadari nya langsung diam. Danish masih Si Cool.