
Inara termenung, menatap langit-langit rumah sakit. Inara hanya berbaring tidak perbolehkan bergerak, pasalnya Danish cukup posesif terhadap inara, tidak boleh bangun, tidak boleh bergerak.
Inara juga bingung dengan sikap Danish.
“Kau tidak papa kan di tinggal sendiri? Aku harus kembali ke kantor.” Tanya Danish menggejutkan inara yang sedang termenung. Sejak kapan Danish masuk sampai inara tidak menyadarinya.
“Nggapapa kok Danish, malahan aku berterima kasih sama kamu karna udah keluarin aku ke toilet” inara tersenyum polos. Danish tak tahan untuk mengelus kepala nya yang memakai hijab.
Sikap nya yang polos sampai orang-orang mencoba mencelakai nya.
“ sebenarnya kenapa kamu terkjunci di toilet “ Tanya Danish dengan lembut. Danish cowo tampan beridung mancung dan berasal dari keturunan Amerika Serikat itu biasanya bersikap Dingin dan Irit biacara kecuali inara. Perempuang yang sejak SMA sukai. Inara diam mennduk
“sudahlah kalau tidak cerita nggapapa aku pergi dulu “ Danish mengelus .
…
Sesampai nya di kantor, aldo memberikan sebuah bukti. Segera Danish memeriksa nya yang di dalam nya CCTV yang dia pasang di depan toilet. CCTV berbentuk sangat kecil sehingga hanya beberapa orang mengetahui nya.
Danish telah selesai menonton video itu langsung geram.
Tangan kedua nya menggenggam dengan erat.
BRAKK
Danish Menggerbak Meja dengan sangat keras hingga Aldo yang di belakang nya kaget.
“sialan mereka mencelakai inara “
“pecat mereka ssemua yag mencoba mencelakai inara”
“santai Bro, Semua beres, Gue Semakin yakin kalau Lo emang Cinta Sama Inara, Dari dulu lo bro Nyatain Perasaan ke dia, Ini saat yang tepat buat lo untuk nyatain semua nya sebelum inara diambil orang lain “ Kata Aldo selepas itu Aldo Menjalankan tugas dari Danish sekaligus Sahabatnya.
Danish Mencerna ucapan Aldo, emang benar apa yang dikatakan sahabat nya.
Danish tersenyum tipis menatap jendela perusahaan.
“ Dulu Gue Emang Pengecut, tapi sekarang Gue akan Buktikan Cinta tulus gue buat kamu Inara “ Ucap Danish membayangkan wajah cantik inara.
Aldo mencoba mencegah mereka masuk ke ruangan Danish namunn mereka tetap nekat ingin bertemu Danish karna tidak terima dirinya di pecat.
Rea, Raysa, Qirana Dan Widya
Suara Rengekan dan teriakan menggema di ruang kantor CEO.
“Jadi Ada apa kalian Kemari?” Mata Tajam Danish menatap satu-persatu orang yang tega mencelakai orang yang disayanginya.
Rea, Raysa, Qirana Dan Widya ketakutan di tatap oleh CEO Nya.
Meskipun mereka pernah bersekolah bersama.
Namjun sikap Danish yang dingin dan tidak suka di dekati perempuan kecuali inara. Membuat mereka iri.
Mereka semua terkejut ternyata CEO mereka yang jarang muncul it Danish.
“ Danish jadi kamu CEO di sini?” Danish Diam tak menjawab.
“Danish Aku Mohon…. Aku tidak bersalah Danish, jangan pecat aku yah Danish. Aku masih cinta kamu Danish rasaku tidak pernah berkurang sama seperti waktu kita sekolah “ Aldo dan juga danish memandang jijik.
Perempuan macam apa dia, masih seperti dulu, mengejar cowo dqasar perempuan rendahan, Batin Aldo.
“ Tidak ada bantahan kalian semua sudah mencelakai salah satu keryawan di sini kalian tidak memikirkan apa akibatnya setelah itu dan kalian terima surat pecat dan kalian akan mendapatkan pesangon. “
“tapi dan-nish “ ucapan Raysa terpotong.
“ Panggil yang sopan “
“Tapi Tu-an “
“ Tidak ada bantahan Nona Raysa, Nona Rea Dan yang lain nya tuan Danish sudah mengambil keputusan dan kalian tidak bisa Nego.
“Kalian Keluarlah “
Mereka semua keluar.
Setelah pekerjaan kantor selesai Danish benar-benar menemani inara.
Danish membawakan buah-buahan segar .
“Danish Ini sudah tengah malam kenapa kamu gak pulang ?” Tanya inara sambil membuka mulut nya dan Danish memasukan buah apel yang telah di kupas nya menyuapkan ke mulut inara.
“ aku akan tidur di sini menjaga mu “ ungkap Danish tidak basa-basi.
“ Danish ini keterlaluan, Kita Belum Muhrim tidak di perbolehkan Satu ruangan dengan orang yang belum muhrim “ elak inara menatap marah Danish. Danish tersenyum inilah yang Danish suka dengan inara. Dia sangat menjaga etika dan bisa menjaga diri.
“ Maka Izinkan aku menjadi Imam Mu “
“ Danish Ini gak lucu “ nada inara sedikit meninggi. Inara tau bahwa Danish beragama Islam. Rumor nya Danish tidak mempunyai tuhan. Dan Danish dengan entengnya mengucapkan kalimat yang mengejutkan.
Menjadi imam mu berarti harus mengikuti aliran agama Inara. Inara tak pernah menyangka Danish terlihat serius meskipun dengan ucapan santai.
TBC ....
“ Aku gak bercanda Inara, aku serius “ jawab Danish selembut mungkin.
"Sebelum menjadi suami mu. Aku akan lakukan apa saja asal aku bisa memiliki mu " kedua tangan Danish menggenggam tangan inara.
Inara tidak bisa menjawab apapun.
Inara menatap wajah tampan Danish,. Kulit putih, alis tebal.
Di hati inara terasa sangat nyaman berada di dekat pria ini.
“ Ini Sudah malam, Selamat malam Danish “ Ucap Inara menghindari pembicaraan menurutnya lelucon ini.
Aku tidak menyangka apa ini nyata atau halusinasi semata, Rasanya Aku seperti terbang namun akh tidak bisa di jelaskan aku senang sekali mendengarnya, batin inara.
Inara menutup seluruh tubuhnya seperti kepompong.
Danish menatap nanar inara, mungkin dia butuh waktu.
Danish duduk di sofa melanjutkan beberapa pekerjaan.
Pagi telah tiba
Suara kicauan burung mulai terdengar.
"Inara apa kau yakin akan berangkat bekerja ?" Tanya Danish memastikan lagi. Inara yang saat itu sudah mandi dan memakai baju pasien ala rumah sakit.
"Astaga Danish, kamu sudah sepuluh kali bertanya dan jawaban ku tetap sama. Aku akan berangkat kerja, lagian aku butuh uang untuk biaya kos an ku Danish " jawab Inara yang saat itu sedang bercermin di kaca.
Danish ingin bersuara namun suara pintu masuk membuat danish tepaku.
"Permisi gue ganggu kalian berdua, gue bawain baju pesenan Lo Danish nih " Dengan Seenaknya Aldo sahabatnya melempar paper bag ke danish. Untung Danish langsung.
"Aldo !!!" Pekik Inara kaget setelah sekian lama setelah lulus sekolah dia tidak pernah bertemu teman sekolahnya. Aldo yang mendengar namanya di sebut menoleh kearah sumber suara.
"Eh haaii..." Sapa Aldo. Aldo memakai pakaian kantoran.
Inara tersenyum kearah Aldo. Inara sedikit terpana akan wajah tampan Aldo meskipun Danish lebih tampan darinya.
"Ekhem " Danish berdehem, hati Danish sedikit panas melihat keduanya saling senyum.
"Gantilah dengan baju ini,apa kamu akan memakai baju pasien di kantor?"Danish memberikan paper bag ke inar, Inara menerima nya.
"Kau sangat baik Danish,terimakasih "ucap Inara tersenyum manis kepada Danish.
Hati Danish berdegub kencang melihat Inara tersenyum. Segera Inara masuk lagi kekamar mandi.
Danish memegang dadanya yang masih berdetak kencang jika bersama inara. Aldo menepuk pundak sahabatnya yg sedang memegang dadanya sambil tersenyum.
"Lo harus sadar Danish "
"Kayaknya gue harus periksa ke dokter deh " ucap Danish masih memegang dadanya.
"Emangnya Lo sakit apa Danish !" Kesal Aldo
"Gak tau makanya gue pengen di periksa, kenapa kalau bersama Inara jantungku berdetak lebih kencang "
Aldo menepuk dahinya.
"Itu namanya Lo kena penyakit Cinta, Bego! Udahlah gue tunggu di luar, males liat orang kena penyakit Cinta " selepas mengatakan itu aldo keluar dari ruangan Inara.
"C-I-N-T-A" Ucap Danish terbata-bata lalu sesaat tersenyum. Entah apa yang di pikirkan nya.
Di kantor
Inara yang di bagian OB Di pindahkan ke bagian pemasaran yang menyiapkan semua alat untuk produk Photosop.
Inara yang saat itu sedang di bagian dapur perusahaan, sedang minum mendengar beberapa orang berbicara.
"Lo ngerti gak, Raysa dan geng nya kemarin di pecat loh"
"Masa sih, "
"Iyah gara gara kemarin ngunci cewe di kamar mandi, gue juga gak nyangka tapi ya gitu "
Inara menaruh gelas kosong di meja
Apa benar raysa dan yang lain nya di pecat, gimana nasib mereka, apa ini gara-gara aku batin Inara.
Selepas pulang kantor. Inara di tunggu di parkiran khusus perusahaan, sebelumnya Danish telah mengirimkan Chat di Handphone.
Inara dengan ragu masuk ke mobil yang sebelumnya di buka kan oleh Aldo.
"Kenapa kau duduk di depan?" Tanya Danish.
"Nggapa kan,lagian aku gak enak sama kamu Danish, kamu kan bos di sini hehe " jawab Inara cengengesan.
"Pindah kebelakang " desis Danish
"Tap-"
"Udah turutin aja Inara, jangan sampai kucing berubah menjadi singa. "
"Maksudnya " Inara tak mengerti ucapan Aldo. Namun pada akhirnya Inara pindah kebelakang.
Pikiran dan hati gundah membuat kepala berpikir keras, tatapan nya menatap pemandangan luar lewat jendela namun pikiran nya entah kenapa berpikir mendengar obrolan waktu di dapur.
" Sedang memikirkan apa" ucap Danish mengejutkan pikiran Inara.
"Eh em-m...." Inara ragu untuk mengatakan nya
"Katakan saja, aku tak akan menghukummu "
Mana mungkin aku menghukum mu,batin Danish
"Apa benar yang di katakan orang kantor kalau raysa dan geng nya di keluarkan? " Ucap Inara hati- hati
"Menurutmu?" Tanya balik Danish melirik inara yang berpikir keras.
"Apa ini gara-gara aku?"
"Tidak!"
Ck, bilang nya tidak padahal emang semua demi Inara, emangnya cinta itu bikin orang jadi bego, batin Aldo melihat pantulan Cermin mobil pemandangan yang menurutnya membosankan harus menghadapi kebucinan sahabatnya.
"Kalau begitu Aku mohon jangan pecat mereka, kasian bagaimana nanti mereka membiayai kehidupan nya"
Bagaimana bisa kamu malah menghawatirkan orang lain padahal diri kami sendiri selalu di siksa okeh mereka , tidak aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti orang yang aku sayang, tidak akan, sekalipun kau membenciku, ucap Danish di dalam hati. Batin Danish ingin menjerit namun ia tahan.
"Tidak akan!"
"Please Danish...."
"No, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu "
Hening.
BRUK
Mobil seketika berhenti mendadak.
Sebelum kepala gadis remaja itu terbentur kursi dengan tangan Danish lebih dulu menahan nya agar tidak terbentur.
Inara yang memejamkan matanya tidak merasakan sakit menoleh ke depan tangan besar menahan kepalanya dan seketika me oleh ke kanan Danish yang sedang menatapnya dengan dalam.
Mereka berdua seperti terhipnostis
Danish sangat tampan, batin Inara menjerit.
Cantik, dan baik, batin Danish.
Ekhem
Keduanya kembali ke dunia nya
" Aldo!!!" Geram Danish yang di bentak nya malah cengengesan tak berdosa.