
Ketua OSIS itu Tak lain adalah Danish. Danish melewati kelas Inara. Danish berpapasan dengan ketiga perempuan kecentilan itu.
"Ada Pak Ketu Gaes"
"Haiii Pak Ketu" Tak lain Raysa, Widya Dan Qirana tersenyum manis pada Danish, Mereka bertiga tersenyum menggoda.
Danish di sebut pak ketu di kalangan para siswa, Danish yang note benya 'Ketua Osis'
Dan Inara anggota OSIS dimana Danish menjadi dekat pada Inara.
Danish yang dingin tidak membalasnya sama sekali. Membuat mereka kecewa dan bertiga pergi. Danish melihat Inara duduk sendiri di kursi tempat duduk Inara.
Tumben, Inara diam di kelas, biasanya dia Sekarang berada di kantin, Gumam Danish sambil melihat Jam Tangan nya.
Danish melihat Inara menangis sendirian ada rasa ingin sekali menemui Inara tapi langsung di cekalnya. Tidak ingin mencampuri urusan sekarang. Mungkin masalah pribadi.
dalam hati Danish ia ingin berada di sampingnya namun ia tau Inara pasti menjaga hatinya untuk Cowo busuk itu yang jelas-jelas menghianatinya.
Danish menuju ke kantin. Sahabatnya pasti sedang menunggu nya.
Inara menangis Tak bersuara tak ingin memancing keributan.
Tidak berapa lama suara bel masuk berbunyi. Segera Inara menghapus air matanya bersikap sebiasa mungkin. Para siswa masuk ke kelas. Inara hanya diam mendengarkan.
Bel pulang berbunyi. Inara keluar kelas berjalan ke arah parkir motornya. Langkah inara berhenti ketika seseorang menyapanya.
"Mbak inara... Tunggu!" Teriakan suara yang tidak asing di pendengaran Inara. Inara berhenti, membalikan badan.
"Mbak kok tadi Gak ke kantin" tanya Raksa di sebelah Inara.
Inara diam tak menanggapi.
Inara menghembus nafas beratnya sebelum mengatakan sesuatu.
"Lebih baik kamu Gak usah deketin aku Lagi Raksa. Aku gak suka Kamu deketin aku. Aku mohon padamu raksa Berhenti Ganggu aku!!" The point Inara dengan serius pada Raksa. Inara sudah berpikir berkepala dingin tidak ingin dekat dengan lelaki siapapun. Tidak ingin di ganggu oleh lelucon kecil raksa.
Raksa diam terpaku. Ada rasa sakit di hati nya. Raksa sangat mencintai Inara.
"Mbak Kok Gitu?!" Apa raksa salah sama Mbak?, Maafin Raksa Mba Udah deketin mbak. Sekarang Raksa sebisa mungkin Gak deketin mbak lagi, jika suatu saat Raksa tidak bisa melupakan mbak, Raksa bakal kejar Mbak lagi, Cinta Raksa Tulus mbak!" Ucap Raksa setegar mungkin ada rasa sesak di dadanya yang tidak mampu di ucapkan. Raksa berlalu meninggalkan Inara.
Inara menatap punggung raksa Yang sudah pergi.
"Syukur Kamu pergi Raksa, Aku masih trauma dengan semua penghianatan " ucap Inara pada diri nya sendiri.
"Sama seperti sebelumnya, sahabat? Pacar? Semua bakal pergi setelah tau kekuranganku yang bodoh ini" Inara meruntuki kebodohan nya sendiri.
Inara menghela nafas berat nya dan menaiki motornya.
Ada pasang mata yang berdiri tidak jauh dari Pembicaraan Inara dan Raksa. Dia mengamati dan mendengarkan pembicaraan mereka. Dia Danish.
Danish tersenyum tipis melihat Inara menyuruh Raksa pergi secara langsung ada rasa senang di hatinya. Danish juga melihat Inara mulai beranjak pergi.
Inara mengendarai Sepeda Motornya dengan Gusar, Inara memakirkan motor di halaman rumahnya.
Segerombolan ibu-ibu Tetangga Rumah Inara melihat Inara pulang.
"Inara, Orang Tua kamu tadi pagi kecelakaan " teriak ibu-ibu itu tiba-tiba.
Inara panik langsung mendekati Segerombolan ibu-ibu itu.
"Sekarang Ibu Dan bapak saya di mana?" Tanya Inara dengan rasa campur aduk.
"Mereka di Rumah Sakit**** Inara,"
"Makasih Bu, infonya" segera Inara pergi membawa motor beatnya.
"Kalian siapa?" Tanya Inara kepada sepasang Wanita-pria paruh baya yang berdiri di depan ruangan.
Sepasang orang tua itu saling bertatapan dengan rasa sedih dan takut melihat Inara.
"Saya Zaenal Dan Ini istri saya melati, saya yang menabrak Korban" ucapnya.
Inara diam membisu tak menanggapi mereka berdua. Inara duduk menunggu Dokter keluar.
Zaenal Dan Melati sedih merasa bersalah.
Merekapun ikut duduk.
Tak betapa lama dokter keluar.
"Keluarga Pasien"
"Saya pak anak nya. Gimana keadaan orang tua saya Dok?" Tanya Inara mendekati dokter.
Dokter memandang Inara yang memakai seragam sekolah dengan Iba.
"Kedua Pasien Kritis " Ucap Dokter.
"Tolong orang tua saya dokter, saya mohon "
"Saya usahakan Nak sebisa mungkin. saya Permisi" pamit dokter berlalu bersama susternya.
Bapak Zaenal Dan Ibu Melati Merasa bersalah.
"Maafkan kesalahan kami Nak, kami Janji akan menebus kesalahan kami, kami sudah..." Ucapan wanita paruh baya itu terpotong melihat Inara hanya diam melihat Inara sudah masuk ke ruangan Orang tuanya.
Bapak Zaenal memegang pundak istrinya.
"Sabar Mah, Anak Itu pasti kecewa kepada kita. " Ucap zaenal pada istrinya.
Inara menangis melihat orang tuanya terbaring lemah di ruang inap.
Kedua orang itu masuk ke ruang Tua Inara.
"Nak..." Ucap bapak Zaenal.
Inara yang semula menangis seketika menoleh pada orang yang sudah Menabrak orang tuanya.
"Nak kami sekali lagi minta maaf, atas kesalahan kami, semua Pengobatan kedua Orang tua kamu sudah kami bayar"
"Terima kasih sudah membayar pengobatan orang tua saya. Saya sudah memaafkan bapak dan ibu, mungkin ini sudah musibah" jawab Inara tersenyum.
Bapak Budi dan melati pun tersenyum melihat keramahan Inara.
"Terima kasih sudah memaafkan kami" ucap ibu melati.
Tak berapa lama terdengar suara.
Tut..Tut..tutt
Di Layar keduanya. Membuat Inara panik dan gelisah. Bapak Zaenal lebih dulu memanggil dokter.
Tak berapa lama dokter datang bersama suster dan Bapak Zaenal. Dokter segera memeriksa keduanya.
Inara berkaca-kaca membuat Ibu Melati mengelus pundak Inara.
"Kami akan memeriksa keadaan pasien, di mohon keluarga pasien menunggu di luar. " Ucap suster. Dengan terpaksa Inara, bapak Zaenal Dan ibu melati keluar menunggu dokter keluar.