INARA

INARA
26. Dadah Gibran



Danish tak hentinya tertawa setelah melihat bertemu Gibran dengan masa ke konyol lan nya.


Maklum masih anak-anak


"Udah deh tuan Danish, gitu aja ketawa" ucap kesal inara.


Mereka berdua duduk di teras kos an.


"Haha sorry khilaf, jangan panggil kakak tuan ina. Meskipun aku punya banyak harta kalau di depan orang saya cintai saya tidak ada apa-apa nya" kilah Danish


Blush


Kenapa sih, udara dingin, angin malam berhembus di tambah denger gombalan rasanya antara Malu dan mau.


Muka Inara sampai memerah,telinga nya terasa gatal, seolah semua mimpi.


Inara terus tersenyum.


"Gombal mulu deh kak Danish " jawab Inara malu-malu


" Ekhem Nemu dimana anak itu?"


"Gibran?' tanya balik Inara.


"Iyah perasaan kamu gak punya ponakan"


Inara kembali mengingat Gibran.


Kasihan anak sekecil Gibran seperti terbuang.


Inara tak mau menjawab seolah tidak ingin menceritakan tentang kesedihan hidup Gibran.


"Kalau gak mau cerita gak papa, hanya penasaran aja. "


"Besok aku akan menemani Gibran belanja buat persiapan dia sekolah, dia seneng banget tau kak waktu aku akan beliin dia baju" ucap Inara mengingat kemarin bagaimana Gibran bisa sangat senang sampai loncat loncat.


"Aku temani ya",


Inara kembali menatap Danish


"Emang kak Danish gak sibuk, kalau inara kan besok libur kalau kak Danish gak kumpul bereng sahabat-sahabat kak Danish " tanya Inra.


"Kalau buat kamu gak "


"Geli tau kak, Inara kira kak Danish dingin Banget ternyata sekarang gak ya " waktu sekolah danish terkenal dingin kecuali inara. Sampai sekarang juga dia tidak tau bahwa Danish masih dingin kecuali Inara.


Selepas malam itu danish pulang, tak lupa Gibran mengembalikan ponsel Danish.


Gibran berlari masuk kedalam kosan.


Tetangga kos an Inara mulai keluar rata-rata seumuran dengan Inara.


Mereka mendekati inara.


"Ciiiieeeee ternyata Inara gak jomblo " goda temen Inara.


" Terus gimana nasib pria dewasa gang pernah kesini"


"Yang tadi lebih ganteng dari pada pria dewasa yang kemarin",


"Kayak nya ada yang yang mendekati nikah nih"


"Apaan sih kalian, dia cuma temen kok"


"Aku masuk duluan yah"


Inara langsung masuk ke kosa an nya. Temen kos an nya emang suka penasaran seperti jiwa para ibu ibu yang suka bergosip.


Tak terasa sudah pagi.


Hari ini dampak membawa motor nya.


Jarang sekali Danish memakai motor.


Inara dan Gibran masuk ke mall. Ini karena rencana nya Danish ingin ke mall dari pada ke pasar.


Setelah memilih pakaian Danish membayarnya.


"Kak biar aku aja yang bayar "


"Gak usah itung-itung lagi belanja untuk istri dan juga anak. "


Danish memberikan Black card ke kasir.


Danish memang sangat kaya banyak perusahaan dan restoran yang dia dirikan bersama sahabat nya.


Kasir sampai melongo memegang kartu hutan tak terbatas.


"Terima kasih semoga belanja ke sini lagi buat mas juga mbak nya pasangan sosswit "


Apaan sih dia


"Iya dia calon istri saya " mulai drama


"Ih kak"


Kita kembali ke toko mainan


"Gibran " panggil seseorang


"Paman,bibi"


Sini ikut bibi ke rumah kakek, di sana banyak saudara Gibran, maaf yah paman dan bibi gak bisa ke makam


Baik paman bibi,Gibran ikut kalian


Gibran datang bersama paman dan bibi mereka berencana akan membawa Gibran ke kota mereka.


" Mba makasih yah atas semuanya, Gibran banyak ngerepotin mba, Gibran sekarang mau ikut paman dan bibi ke kota mereka sama keluarga ibu Gibran.


Inara merasa berat karena setiap hari selalu ada Gibran bagaimana kalau Gibran pergi


"Ikhlasin Ina " Danish yang tau bagaimana perasaan Inara.


"Hati hati ya di sana "


" Tetep kabarin mbak yah "


"Iya mba"


Inara dan paman bibi Gibran saling bertukar nomor ponsel


Gibran melambaikan tangan di mall Inara melihat Gibran masuk dengan mainan yang di belanjakan Inara dan membawa semua belanjaan an.


Mobil sudah jika g dari mata Inara.


"Kenapa orang yang saya cintai pergi kak, dulu orang tua ku sekarang gibran juga pergi ke keluarga "


"Dia berhak bahagia Ina udah gak papa "


"Menangis lah sesukamu tapi ingat Gibran punya keluarga dia berhak bahagia "


Inara terus menangis


Di pelukan Danish.


Ponsel di saku Danish berbunyi.


Inara melepas pelukan nya.


Danish mengangkat telepon nya panggilan dari sahabat nya. Mereka semua sudah berkumpul kecuali Danish. Apa danish akan membawa Inara bersama nya atau akan memulangkan Inara dahulu.


"Aku tak tega meninggalkan Inara di rumah sendirian apalagi sedang sedih,"batin danish