
Di parkiran sudah ada Raksa yang sudah Stand bye di mobilnya. Raksa anak dari pemilik sekolah ini, ayahnya seorang kepala sekolah, yang pasti raksa selalu di hormati oleh para siswa.
"Kamu nangis Inara?" Raksa bergegas lari ke arah Inara. setelah melihat kedatangan inara. nara segera mungkin menghapus air matanya tak ingin membuat siapapun khawatir denganya.
"Aku ngga papa ko raksa jangan pedulikan aku " jawab Inara menatap wajah Raksa yang tampan, meski lebih tampan di dari padanya.
"Kamu ini gimana sih Inara, siapa yang udah buat kamu nangis?, Akan gue hajar dia. Apa jangan jangan yang buat kamu nangis si Aldi, si bre***** itu!" Tuduh Raksa.
"Itu bukan urusan kamu!" Inara melangkahkan kakinya ke motornya. Raksa mengejar Inara menarik tangan Inara.
"Inara tunggu!"
"Ini urusan aku Inara, karna gue udah suka sama Lo" Teriak raksa membuat Inara menghentikan langkahnya, membalikan badanya menghadap raksa.
Raksa kembali melanjutkan ucapan nya.
"Gue masih suka sama loe Inara, meski dulu sebelum gue sebelum sekolah di sini udah ngejar loe dan mentah-mentah menolak gue, dan sekarang sudah satu tahun yang lalu rasa gue masih sama seperti dulu Inara, gue masih suka dengan loe!" Ucap secara terang-terangan raksa di hadapan Inara. Inara menatap secara intens raksa tidak ada kebohongan di matanya.
Inara menghela nafas pelan nya.
inara benar benar tidak tau apa yang harus di lakukan nya sekarang. Hati Nya masih sakit mengingat penghianatan Aldi.
"Tapi aku sampai sekarang gak suka sama kamu raksa. Hati ku masih terasa sakit untuk merasakan kehadiran cinta kembali" jawab Inara air mata nya menetes begitu saja. Raksa berdiri terpaku mendengarkan kata yang tidak ingin di dengar menurutnya sangat Menyakitkan.
"Aku pamit pulang, Assamualaikum" pamit Inara setalah melihat raksa hanya diam.
Inara kembali ke motornya dan menjalankan motornya.
Inara kembali dengan pikiran nya. Hatinya masih terasa sakit dengan penghianatan Aldi ditambah Raksa yang menyatakan cintanya. Inara menambah kan kecepatan motornya sebagai kekesalan.
Kruk
Motor Inara terasa oleng, Inara menghentikan motornya dan turun melihat ada apa dengan motornya kenapa jalan nya terasa gak enak.
Ban motor Inara Bocor.
"Ban ku bocor!" Ucap Inara sedih sembari melihat jalanan berkendara berlalu lalang.
Inara sedih harus bagaimana pulangnya, pasti ibunya menghawatirkan keadaanya.
"Aduh gimana ini, aku gak kuat harus dorong motor sendirian ke tukang bengkel, apalagi tukang bengkel nya jauh dari sini" keluh inara menangkupkan tangan pada wajah yang terasa berat.
Inara mengambil handphone nya dari tas nya melihat sudah sore.
Inara bingung harus mencari bantuan kepada siapa.
"Inara!" Ucap suara berat yang di kenal Inara. Inara menoleh ke Samping.
"Danish!" Ucap Inara terkejut tiba tiba Danish ada di sini.
"Kamu kenapa belum pulang ?" Tanya balik danish.
Danish terlihat berfikir sambil melihat ke arah mobilnya terlihat ada seseorang.
"Lebih baik kamu saya antar kembali ke rumah, biar urusan motor Putra yang nanganin ", Inara membulatkan matanya sambil menggelengkan kepala.
"Ngga, ngga, ngga Nanti motor aku kenapa-kenapa lagi atau nanti kalau pulang ibu aku tanya di mana motornya aku harus jawab apa Danish, pokoknya aku mau di anter ke tukang ban" bantah Inara mencoba kokoh dengan keinginannya.
"Inara ini udah sore, Emangnya ibu kamu Ngga khawatir dengan kamu?" Tanya danish masih bersifat lembut pada Inara.
Inara berpikir sambil mengiyakan apa yang di katakan danish memang benar.
Danish tersenyum lalu mendekati putra yang hanya di dalam mobil sambil berbicara dengan putra.
Putra keluar dari dalam mobil dan mendekati Inara lebih tepatnya Inara.
"Motor aman sama gue, Inara" ucap putra cengengesan. Inara tersenyum." makasih yah putra dan kamu Danish terima kasih" ucap Inara tersenyum.
Danish membalas senyuman Inara sambil membuka pintu mobil nya. Inara dengan tidak enak masuk kedalam mobil Danish, Danish ikut masuk dan menjalankan mobilnya menuju rumah Inara.
"Emm Danish makasih ya atas semuanya, aku jadi Gak enak repotin kamu" ucap Inara memecahkan keheningan.
Danish hanya tersenyum menanggapinya.
"Entah kenapa kamu selalu ada pas aku butuh" ucap Inara dengan jujur.
Danish hanya menoleh pada Inara dan tersenyum sambil mengendarai mobilnya.
mereka sama sama diam di mobil.
Inara sangat gugup berdekatan dengan Danish.
Tak berapa lama sampai di rumah Inara. Sudah ada motor Inara, cepat sekali perbaiki dan sampainya. Ibunya Inara sudah ada di depan rumahnya
"Danish, makasih sekali lagi" Inara tersenyum manis membuat degub jantung Danish beedetak. Danish hanya mengangguk.
Inara turun dari mobil Danish.
Perlahan mobil danish pergi menghilang dari perkarangan rumah Inara.
Inara mendekati ibunya mencium punggung tangan ibunya
"Inara syukurlah kau baik-baik saja, tadi ada cowo bawa motor kamu ngaku temen kamu, dan bilang kalau tadi motornya ban nya bocor dan sekarang sudah di perbaiki, apa itu benar nak?" Cercah pertanyaan ibunya Inara.
"Emm iya Bu, udah ya Bu Inara capek" jawab inara sambil masuk.
"Tadi kamu di antar siapa?" Tanya ibunya penasaran sambil masuk.
"Temen kok Bu", jawab inara tidak ingin ditanya hal aneh dan masuk ke kamarnya.