
"Mari kita jalan-jalan" ajak Danish membawa dua tiket serta membawa bodyguard untuk menjaga Inara.
...Sore itu kita pergi meninggalkan kos an Inara untuk menuju tempat favoritku. Inara sangat menyukai pemandangan langit di sore hari. Langit sore seperti obat untuk Inara . Perpaduan warna yang apik, mampu meluruhkan semua masalahku. Ya.. meskipun sementara. Setibanya Inara dan Danish disana aku langsung menuju ke spot favoriSayangnya, spot itu sudah ditempati oleh seseorang.
Itu spot terbaik untuk melihat langit dan senja dengan jelas. Aku sudah sampai disini, jadi apapun ceritanya, aku tetap harus melihat langit senja. Lagipula, ini tempat umum .
...
Kalau sudah tiba di Bandung, belum lengkap rasanya bila tidak berkunjung ke Jalan Braga. Jalan Braga adalah salah satu jalan utama di Bandung. Nama jalan yang satu ini sangat terkenal sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda. Hingga kini nama jalan tersebut masih terus dipertahankan sebagai salah satu maskot dan obyek wisata Kota Bandung yang terkenal dengan istilah Paris van Java.
awalnya Jalan Braga merupakan sebuah jalan kecil di depan pemukiman yang cukup sunyi sehingga dinamakan Jalan Culik dikarenakan cukup rawan. Jalan ini juga dikenal dengan nama Pedati (Pedatiweg) pada tahun 1900-an. Jalan Braga lantas menjadi ramai karena banyak usahawan terutama yang berkebangsaan Belanda mendirikan toko-toko, bar dan tempat hiburan di kawasan itu.
Pada era 1920 hingga 1930-an muncul toko-toko dan butik pakaian yang mengambil model dari Kota Paris, Perancis, yang saat itu merupakan kiblat model pakaian di dunia. Dibangunnya gedung Societeit Concordia yang digunakan untuk pertemuan para warga Bandung khususnya kalangan tuan-tuan hartawan, Hotel Savoy Homann, gedung perkantoran dan lain-lain di beberapa blok di sekitar jalan ini juga meningkatkan kemasyhuran dan keramaiannya.
Namun sisi buruknya adalah munculnya hiburan-hiburan malam dan kawasan lampu merah (kawasan remang-remang) di kawasan ini yang membuat Jalan Braga sangat dikenal turis. Dari sinilah istilah kota Bandung sebagai kota kembang mulai dikenal. Sehingga perhimpunan masyarakat warga Bandung saat itu membuat selebaran dan pengumuman agar "Para Tuan-tuan Turis sebaiknya tidak mengunjungi Bandung apabila tidak membawa istri atau meninggalkan istri di rumah".
Orang bilang, jalan-jalan ke Jalan Braga paling asyik saat malam hari. Lampu-lampu sepanjang jalan dan arsitektur bangunan menghadirkan sensasi masa lampau ke dalam benak. Tapi jangan salah, menyusuri Jalan Braga di siang hari juga tak kalah seru apalagi cuaca tidak terlalu panas akibat dari awan-awan tipis menghiasi angkasa, seperti yang kami lakukan tadi siang.
Perlahan kami menjejaki Jalan Braga. Satuper-satu bangunan tua tertangkap pandangan. Bangunan-bangunan peninggalan masa penjajahan itu masih kokoh berdiri dan nampak cantik karena terawat baik. Lampu-lampu bergaya 'tempo doeloe' ada hampir di depan semua bangunan. Bahkan sepeda ontel dengan bentuk antik pun bisa ditemui di Jalan Braga! Belum lagi Jalan Braga tidak terbuat dari aspal melainkan semacam batu-batu berbentuk persegi panjang. Sangat menarik memang jalan yang satu ini.
" Inara, Terima kasih telah menerima cinta ku " pinta Danish
"Inara juga berterima kasih karena kak Danish selalu bersama dengan Inara "
Danish tak berhenti melengkung senyuman nya.
Apalagi yang ditemui di Jalan Braga selain bangunan dengan arsitektur, lampu-lampu dan suasana jaman dulu? Banyak! Di Jalan Braga terdapat banyak kafe (beberapa kafe menyajikan suasana semi-outdoor), toko roti, toko souvenir, bank, hingga warung masakan Sunda. Sepanjang trotoar kami juga bertemu dengan para pemburu gambar (fotografer) dan pelukis! Lukisan berbagai aliran, warna, bentuk dan masa, dipamer sepanjang jalan dan menjadi atraksi wisata tersendiri di Braga.
Jalan-jalan siang di Jalan Braga memang nikmat. Langkah demi langkah tidak terasa hingga kami nyaris tiba di ujung jalan ternama ini. Puas rasanya bisa menyusuri Jalan Braga sambil berjalan kaki, menangkap obyek dan mengabadikannya dengan kamera.
THE END