INARA

INARA
BAB 19. Gibran 1



Terkadang kenyataan itu begitu menyakitkan sehingga salah satu jalan nya hanyalah bermimpi, seolah semua Baik-baik saja.


~Siti Salmah~


Hari ke dua inara bekerja, semua terasa biasa-biasa saja. Terkadang ada karyawan posisi inara dengan tatapan iri. Inara tidak memperdulikan nya


Sepulang dari kerjaan nya inara pulang menaiki bus. Kemudian terhenti di Prapatan jalan. Akhirnya inara pulang ke kosan nya jalan kaki.


Inara melangkah kan kaki. Seperti biasa udara sore terkadang banyak debu karena banyak kendaraan berlalu lewat.


Suara teriakan agak jauhan terdengar. Seperti suara perempuan yang sedang memarahi anak-nya.


"Aaaaaagggggghhhhh Mamah...... Adeeekk......" Suara teriakan samar-samar terdengar dari telinga inara. Perasaan inara kalang kabut.


Sebisa mungkin inara sedikit berlari.


Suara itu terdengar dari rumah kecil kumuh.


Tanpa basa-basi inara berlari kearah warga yang sedang berkumpul.


Sepertinya para warga sedang berkumpul mengenai suara teriakan dari rumah itu. Terlihat jelas wajah kepanikan mereka.


Inara mendekati para bapak-ibu itu.


"Bapak, ibu tolong buka rumah itu sepertinya ada masalah besar" inara mengucapkan itu. Para warga menganggukkan.


"Seperti yang kita duga bapak-ibu mari kita buka ibu suminarti pasti Malasah terjadi lagi, Mari Kita kesana bapak-ibu" semua warga bersorak menjawab persetujuan.


Inara mengikuti warga membuka rumah itu.


Bruk.


Begitu pintu terbuka, pemandangan mengerikan yang seharusnya terlihat, di lihat oleh mereka.


Seorang anak perempuan sekira umur 5 tahun. Tergeletak bersimbah darah.


Inara menutup mulutnya tak percaya.


Air mata membanjiri meski dia tidak mengenal orang itu.


Tatapan mereka berlatih kepada seorang wanita paruh baya sedang mencekik seorang anak laki-laki sekira 12 tahun.


Cekikan itu terhenti oleh para warga yang menolong nya.


Polisi menangkap wanita paruh baya itu.


Wanita paruh baya itu meronta ingin di lepaskan.


Pd lahirnya wanita paruh baya itu Suminarti di tangkap dan di bawa oleh para polisi yang sebelumnya sudah mengubungi nya sebelum rumah di grebek.


Sebelum di bawa anak laki-laki itu, mendekati adiknya lalu tatapan nya beralih ke orang tua nya. Ibunya.


"Mamaaaahhhhh tega bunuh adek" teriak terdengar dari anak laki-laki itu. Suara bisikan ibu ibu mulai berkomentar.


Suminarti tertawa lalu menoleh ke belakang.


"Hahaha seharusnya dulu saya tidak pernah melahirkan kalian, saya menyesal melahirkan kalian" suara tangisnya terdengar. Anak laki-laki itu menangis mendengar jawaban ibunya.


Suminarti di bawa ke dalam mobil polisi.


Para warga menggotong mayat perempuan itu di mandikan jenazah nya.


Sampai di kuburkan.


Anak laki-laki itu terus menangis menginat kemalangan nasibnya.


Di makam itu anak laki-laki itu sesaat terdiam termenung layaknya boneka.


Sampai semua warga pulang dari makam dia tetap duduk di makam.


Dan semua itu tak luput dari pemandangan inara.


Inara duduk jongkok di samping gibran


"Adek, jangan selalu bersedih, kalau kamu sedih nanti adik kamu ikutan menangis" hibur inara.


"Gibran gak sedih kok, adek Jangan sedih yah" anak itu langsung mengapus air matanya.


"Gibran sedih, gibran gak punya siapa-siapa lagi. Gibran gak punya tempat tinggal lagi, rumah itu penuh dengan kenangan buruk"


Inara menatap gibran dengan kasihan.


Inara juga penasaran tentang kisah keluarga gibran.


"Ikut mba yuk, mba juga gak punya rumah, mba tinggal di kossan sendirian. "


"Gibran takut ngerepotin mbak"


"Nama mba inara"Inara mengenalkan diri


Inara tersenyum.


"Mba gak merasa di repotin kok "


Gibran menatap ragu inara lagi. Tatapan penuh selidik.


"Mba kenapa mau nolongin gibran, sedangkan mba gak kenal gibran. Gibran juga gak kenal mbak, eh kayak nya gibran kenal deh mbak yang dinggal di kosan nya Tante Tantri kan" ucap gibran berbicara panjang lebar.


Inara tersenyum gibran sudah mulai lega.


"Kalau gitu, ikut mbak yuk, mba gak ada niat jahat kok" inara mengulurkan tangan nya. Ajakan untuk pergi bersama dari tempat pemakaman.


Gibran membalas uluran tangan inara.


Gibran tersenyum.


"Adek lili, gibran pamit pergi dulu ya, nanti gibran ke sini lagi ngunjungi lili " pamitnya .


Mereka berdua pergi meninggalkan pemakaman.


Jemari tangan inara menggenggam tangan gibran.


Banyak pasang mata ibu-ibu berbisik setelah inara dan gibran melewati nya.


"Kasihan sekali ya di samping inara, itu loh ibu nya bunuh anak nya sendiri sampah ninggal, mana masih kecil lagi Bu "


"Iyah kasihan sekali"


Meski sudah melewatinya suara itu tetap terdengar, mungkin karena suara nya keras.


Gibran kembali murung.


"Gibran pasti kuat hadapi ini semua " ucap inara setelah sampai di kosan kecil.


Gibran cuma diam saja tak ingin membalas pertanyaan orang yang mau menolong nya.


Dekat dengan anak ini. Inara mulai paham nama nya. Banyak warga memanggil nama nya.


Inara dan gibran masuk.


Gibran duduk lesehan di depan tv .


"Mba tinggal mandi dulu ya gibran" pamit melihat gibran termenung sesaat dia menjawab.


"Iya mba"


Setelah usai mandi dan berpakian inara menemui gibran kembali.


"Gibran mandi gih" suruh inara tapi gibran kembali menangis kembali. Menangis histeris sampai inara di buat bingung.


"Gibran kenapa menangis?" Inara kebingungan sendiri melihat anak kecil ini kembali menangis. Inara mencoba memeluk nya.


"Hiks, dunia ini keras mba, tiap hari gibran dan adik gak di kasih makan, gibran gak masalah tapi Tuhan tega mba ngambil adik gibran dari gibran mba, gibran belum bahagian adek, adek sudah gak ada" tangis pecah gibran. Entah muncul dari mana perkataan itu begitu menyayat menusuk di hati. Inara juga meneteskan air mata nya.


Inara juga menangis, Inara menepuk punggung gibran. Anak sekecil ini sudah menderita.


Bolehkan menangisi takdir yang begitu menyakitkan?.