
“ Aku gak bercanda Inara, aku serius “ jawab Danish selembut mungkin.
"Sebelum menjadi suami mu. Aku akan lakukan apa saja asal aku bisa memiliki mu " kedua tangan Danish menggenggam tangan inara.
Inara tidak bisa menjawab apapun.
Inara menatap wajah tampan Danish,. Kulit putih, alis tebal.
Di hati inara terasa sangat nyaman berada di dekat pria ini.
“ Ini Sudah malam, Selamat malam Danish “ Ucap Inara menghindari pembicaraan menurutnya lelucon ini.
Aku tidak menyangka apa ini nyata atau halusinasi semata, Rasanya Aku seperti terbang namun akh tidak bisa di jelaskan aku senang sekali mendengarnya, batin inara.
Inara menutup seluruh tubuhnya seperti kepompong.
Danish menatap nanar inara, mungkin dia butuh waktu.
Danish duduk di sofa melanjutkan beberapa pekerjaan.
Pagi telah tiba
Suara kicauan burung mulai terdengar.
"Inara apa kau yakin akan berangkat bekerja ?" Tanya Danish memastikan lagi. Inara yang saat itu sudah mandi dan memakai baju pasien ala rumah sakit.
"Astaga Danish, kamu sudah sepuluh kali bertanya dan jawaban ku tetap sama. Aku akan berangkat kerja, lagian aku butuh uang untuk biaya kos an ku Danish " jawab Inara yang saat itu sedang bercermin di kaca.
CEKLEK
Danish ingin bersuara namun suara pintu masuk membuat danish tepaku.
"Permisi gue ganggu kalian berdua, gue bawain baju pesenan Lo Danish nih " Dengan Seenaknya Aldo sahabatnya melempar paper bag ke danish. Untung Danish langsung.
"Aldo !!!" Pekik Inara kaget setelah sekian lama setelah lulus sekolah dia tidak pernah bertemu teman sekolahnya. Aldo yang mendengar namanya di sebut menoleh kearah sumber suara.
"Eh haaii..." Sapa Aldo. Aldo memakai pakaian kantoran.
Inara tersenyum kearah Aldo. Inara sedikit terpana akan wajah tampan Aldo meskipun Danish lebih tampan darinya.
"Ekhem " Danish berdehem, hati Danish sedikit panas melihat keduanya saling senyum.
"Gantilah dengan baju ini,apa kamu akan memakai baju pasien di kantor?"Danish memberikan paper bag ke inar, Inara menerima nya.
"Kau sangat baik Danish,terimakasih "ucap Inara tersenyum manis kepada Danish.
Hati Danish berdegub kencang melihat Inara tersenyum. Segera Inara masuk lagi kekamar mandi.
Danish memegang dadanya yang masih berdetak kencang jika bersama inara. Aldo menepuk pundak sahabatnya yg sedang memegang dadanya sambil tersenyum.
"Lo harus sadar Danish "
"Kayaknya gue harus periksa ke dokter deh " ucap Danish masih memegang dadanya.
"Emangnya Lo sakit apa Danish !" Kesal Aldo
"Gak tau makanya gue pengen di periksa, kenapa kalau bersama Inara jantungku berdetak lebih kencang "
Aldo menepuk dahinya.
"Itu namanya Lo kena penyakit Cinta, Bego! Udahlah gue tunggu di luar, males liat orang kena penyakit Cinta " selepas mengatakan itu aldo keluar dari ruangan Inara.
"C-I-N-T-A" Ucap Danish terbata-bata lalu sesaat tersenyum. Entah apa yang di pikirkan nya.
Di kantor
Inara yang di bagian OB Di pindahkan ke bagian pemasaran yang menyiapkan semua alat untuk produk Photosop.
Inara yang saat itu sedang di bagian dapur perusahaan, sedang minum mendengar beberapa orang berbicara.
"Lo ngerti gak, Raysa dan geng nya kemarin di pecat loh"
"Masa sih, "
Inara menaruh gelas kosong di meja
Apa benar raysa dan yang lain nya di pecat, gimana nasib mereka, apa ini gara-gara aku batin Inara.
Selepas pulang kantor. Inara di tunggu di parkiran khusus perusahaan, sebelumnya Danish telah mengirimkan Chat di Handphone.
Inara dengan ragu masuk ke mobil yang sebelumnya di buka kan oleh Aldo.
"Kenapa kau duduk di depan?" Tanya Danish.
"Nggapa kan,lagian aku gak enak sama kamu Danish, kamu kan bos di sini hehe " jawab Inara cengengesan.
"Pindah kebelakang " desis Danish
"Tap-"
"Udah turutin aja Inara, jangan sampai kucing berubah menjadi singa. "
"Maksudnya " Inara tak mengerti ucapan Aldo. Namun pada akhirnya Inara pindah kebelakang.
Pikiran dan hati gundah membuat kepala berpikir keras, tatapan nya menatap pemandangan luar lewat jendela namun pikiran nya entah kenapa berpikir mendengar obrolan waktu di dapur.
" Sedang memikirkan apa" ucap Danish mengejutkan pikiran Inara.
"Eh em-m...." Inara ragu untuk mengatakan nya
"Katakan saja, aku tak akan menghukummu "
Mana mungkin aku menghukum mu,batin Danish
"Apa benar yang di katakan orang kantor kalau raysa dan geng nya di keluarkan? " Ucap Inara hati- hati
"Menurutmu?" Tanya balik Danish melirik inara yang berpikir keras.
"Apa ini gara-gara aku?"
"Tidak!"
Ck, bilang nya tidak padahal emang semua demi Inara, emangnya cinta itu bikin orang jadi bego, batin Aldo melihat pantulan Cermin mobil pemandangan yang menurutnya membosankan harus menghadapi kebucinan sahabatnya.
"Kalau begitu Aku mohon jangan pecat mereka, kasian bagaimana nanti mereka membiayai kehidupan nya"
Bagaimana bisa kamu malah menghawatirkan orang lain padahal diri kami sendiri selalu di siksa okeh mereka , tidak aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti orang yang aku sayang, tidak akan, sekalipun kau membenciku, ucap Danish di dalam hati. Batin Danish ingin menjerit namun ia tahan.
"Tidak akan!"
"Please Danish...."
"No, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu "
Hening.
BRUK
Mobil seketika berhenti mendadak.
Sebelum kepala gadis remaja itu terbentur kursi dengan tangan Danish lebih dulu menahan nya agar tidak terbentur.
Inara yang memejamkan matanya tidak merasakan sakit menoleh ke depan tangan besar menahan kepalanya dan seketika me oleh ke kanan Danish yang sedang menatapnya dengan dalam.
Mereka berdua seperti terhipnostis
Danish sangat tampan, batin Inara menjerit.
Cantik, dan baik, batin Danish.
Ekhem
Keduanya kembali ke dunia nya
" Aldo!!!" Geram Danish yang di bentak nya malah cengengesan tak berdosa.