INARA

INARA
Bab 28. Siapa



angin semilir sore di danau yang di penuhi aliran air dan suara alir mengalir.


ada rasa gundah meski hati berusaha untuk menjernihkan pikiran.


"kenapa sih kak, dunia itu gak berpihak ke gue, seolah semuanya itu gak adil gitu, gue capek kak capeee, bukan cape fisik, tapi batin kak" teriak inara ke pemandangan danau.


Inara mulai bercerita yang dari dulu ia rasakan hanya kesepian


kesepian.


tak bisa di pungkiri inara sangat membutuhkan sosok orang tua yang berusaha untuk mendukungnya.


Pemandangan nya emang indah, tapi tidak menghilangkan hati yang sedang gundah.


Danish memeluk inara. Memberikan sebuah kenyamanan.


"Kamu pasti kuat inara kuat" di potong olih Inara.


"Apanya yang kuat kak, aku down, down dan memilih untuk keluar dari masalah ini" teriak Inara, Inara menangis.


Why


Danish memeluk erat Inara seolah memberinya sebuah kekuatan, Sakin Danish mengeratkan pelukan semaki. Kerasa Inara menangis.


"Apa aku harus pergi aja dari dunia ini kak? Kayaknya aku emang gak pantes untuk berada di sini" ucap Inara. Danish marah dan tidak suka Inara berbicara seperti itu.


"Kamu bicara apa sih Ina, dengerin kamu hanya sedang kacau saja nanti juga akan baik, dengerin yah, kamu jangan down gini, kamu harus hidup untuk dirimu sendiri, ada aku yang akan selalu berada di sisimu sampai semua orang membencimu aku takkan pernah membencimu dan tidak akan meninggalkan ku" teriak Danish memberikan sebuah nasihat.


Inara semakin menangis mendengarnya, memeluk seseorang yang nota be nya hanya teman.


Sampai dunia mensupport kamu, yang dibutuhkan diri sendiri hanya tenang dan sepi.


Setelah selesai


Malam


Hari ini, malam ini, Inara pulang sendirian naik motor dan menggunakan jaket dan juga helm.


Dingin nya angin malam sampai Inara masih merasakan kedinginan meski sudah memakai jaket tebal.


Lagi-lagi harus pulang malam, seolah harus selalu bersahabat dengan udara dingin malam. Angin malam berhembus sampai masuk ke tulang, benar-benar dingin nya udara malam bercampur dengan Dian nya kebisingan jalanan


Selamat malam otak yang penuh kebisingan, dan hati kesepian.


Selamat istirahat raga yang sudah lelah dan pikiran. Yang gundah.


Selamat istirahat.


...


selepas sore itu Inara pergi dengan rasa sedih diri sendiri dengan tekad nya ia ingin menjemput motor kesayangan nya di suatu tempat dan pergi membawa motor sendiri.


Inara


...Inara .....


...Langit, tolong kirimkan aku uang yang sangat banyak tanpa bekerja hiks. ...


Danish tentu saja membuntuti Inara tanpa pengetahuannya Danish ingin Inara kembali dengan selamat sampai pulang Inara masuk dan berganti pakaian.


Ia mandi dahulu, air malam sedikit membuat kedinginan. Inara langsung berganti pakaian dan merebahkan dirinya di kasur.


Ia memejamkan mata, sepi, tak ada Gibran yang menemaninya.


Inara jadi mengingat orang tua nya, yang sudah tak ada, hati nya sangat kesepian, nyatanya realita tak seindah ekspentasi.


"Mah, Inara dulu pengen jadi wanita karir, wanita tangguh dan mandiri tapi sekarang Inara cuma ingin jadi ironmen aja biar kuat mental " eluh Inara menatap langit-langit atap rumahnya.


"Pada siapa Inara mengeluh? Pada penciptakah yang membuat Inara down dan memilih keluar dari masalah? High, kuatkan hati Inara" pada akhirnya ia tak kuasa untuk menahan tangis.


Inara tak mau mengeluh tapi ada saatnya ia benar-benar down merasa lelah atas segalanya.


Ponsel berdering.


Drrrttttt....drrrtttt....drrrrttttttt...


Nana...


"Nana menelpon? " Lirih Inara menatap layar ponsel yang terus berdering.


(Masih ingatkan nama Nana waktu awal episode? Author?? Yukk jawab, kalau lupa bisa baca ulang lagi yak biar tau by author) .


Inara mengangkat telephon nya.


"kenapa lama sekali Jawab telephon gue?"


"masih ingatkan nama gue " suara dari sebrang telephon sudah lama ia tak mendengarnya karena jarak dan waktu.


"Nannnaaa..." gumam Inara mengingat nama seseorang sewaktu zaman sekolaj