
qoutes
Sampai kapan euforia ini
di tikam praduga
Hingga dalam debar
aku lebih memilih Isak tangis dalam semesta sajikan
Nurani sudah muak hati berperang dalam pikiran
Nyatanya proses mendewasakan sangat menyakitkan
...
Setalah mendengar penuturan Zizi tadi malam. Inara jadi ikut bersedih, sampai Zizi memutuskan pengunduran diri. Inara sudah berusaha semaksimal mungkin namun Zizi dengan kekeh nya akan resent sendiri.
"Zizi....zizi " Inara bergumam sendiri.
Pagi telah tiba
Bukankah hidup ini singkat
Kamu lihat baru saja hari Senin
Kemarin,dan sebentar hari Senin lagi
Hidup ini singkat,
Kamu lihat baru saja kamu bangun
Tidur
Dan sebentar malam lagi.
Hidup ini singkat,
Sangat singkat
Pagi pagi Inara berangkat.
Sudah menjadi kepala clening servis Inara sudah sangat bersyukur.
Setidak nya ada pemasukan.
Istirahat telah tiba saking kesal nya Inara dengan berani masuk ke ruangan danish.
Tanpa permisi saking rindu nya dia masuk dan begitu masuk Inara terkejut.
"Sedang apa kalian berdua?!" Tanya Inara dengan tegas.
"Danish kekasihku sekarang!" Ucapnya dengan kemenangan
Danish sedang memangku seorang perempuan seksi. Mukanya tak asing untuk Inara.
Danish langsung melempar Perempuan itu tanpa ada rasa kasihan sedikitpun.
"Aduh!"pekiknya mengelus pantat nya.
"kaparat wanita sialan,!" umpat Danish
"Nara, jangan dengarkan dia !, "
"Nana" teriak Inara setelah mendekati wanita itu.
Nana jadi semakin cantik apalagi berpakaian nya ketat dan pendek.
Inara menghembuskan nafas nya Nana memang tidak berubah .
"Dasar perempuan penghianat tetap penghianat tidak malu kah kamu bermesra-mesra an bertindak dengan egomu"
"Apa!!!" Nana tidak menyangka Inara berani mengatakan semuanya.
"CK. Aku sedang tidak mengajakmu untuk bercanda" ketus Inara. Entah mengapa setiap melihat wajah Nana. Sahabat penghianatan nya. Inara merasa Naik darah.
Hingga waktunya Jam pulang tiba.
Inara pulang sendirian.
Inara kaget, bertemu Nana..
"Halo Inara"cegat Nana di depan Inara.
Inara melihat jalanan sekitar, sepi. Karna Inara pulang melalui gang sempit.
"Bawa dia dan ikat!" Suruh Nana kepada semua bawahan nya yang memakai hitam-hitam.
Inara ingin kabur namun tangan nya sudah di cekal.
"Na..naaaaa... Eh buka. Naina Manopo lepaskan aku"
"Berisik!"
"Lakban mulutnya!" Perintah Nana. Bawahan nya menurut.
"Eehhhmmmm"Inara memberontak.
Inara bingung Kenapa Naina menculik nya.
Mereka semua masuk ke mobil.
Inara sudah masuk ke gudang yang lusuh.
"Kamu tau nana eh bukan Naina, sekarang aku harus membiasakan diri memanggil asli namamu Naina. Bagiku nama panggilan mu itu istimewa sayang nya itu dulu semua hanya seperti debu, menghilang "
"Emang benar, semakin dewasa kita hrus menjadi tega, gak usah lagi jadi orang yang banyak gak enakan sadar atau tidak, banyak orang yang gak tau diri"
"Kau sebut gue gak tau diri,
Flashback
Siang itu matahari sangat terik. Semua siswa beristirahat, termasuk Inara.
Duduk sendirian sambil membaca buku novel kesukaan nya.
Hingga beberapa saat Inara mendengar suara.
"Mau minum?" Seorang gadis cantik, berpakaian putih abu-abu menawarkan minuman kepada nya.
"Ayolah tidak usah malu-malu" ucapnya.
Inara dengan enggan menerima nya.
"Terima kasih ..._" balas Inara.
"Naina namaku"
"Terima kasih naina, Nana saja lah biar cepet',
"Aneh, nama mu siapa?" Tanya nya
"Inara " jawab Inara lalu menutup bukunya.
Flashback off
Inara tersenyum kecut, sahabat baiknya malah menculiknya
"Untuk apa kau membawaku keseini" ucap Inara matanya mengintimidasi Nana